Stop Membanding-bandingkan Anak!

stop-membanding-bandingkan-anak

Tak jarang kita temui dalam perkumpulan ibu-ibu terkadang anak menjadi bahan pembicaraan yang cukup menarik, ada pula yang getol banget membanding-bandingkan anaknya dengan anaknya orang lain.

Membandingkan seseorang dengan yang lain, rupanya, sudah menjadi budaya di masyarakat. Prestasi, kekayaan, penampilan fisik, serta kepandaian merupakan hal-hal yang menjadi akar segala kompetisi, termasuk bagi anak-anak. 

Ketika melihat anak lain punya sesuatu yang dapat dibanggakan, orang tua merasa perlu membuat anaknya menjadi sosok yang juga bisa dibanggakan. 

Semua Anak adalah Bintang

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain. Ingat! Bahwa setiap manusia mempunyai kecerdasan masing-masing. 

Yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua yaitu dengan membandingkan anak-anak dengan dirinya sendiri, bukan dengan orang lain. Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “mental juara” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lain.

Sikap yang seharusnya misalnya “Apa bedanya si Kakak setahun lalu dengan yang sekarang?” Bukan “Mengapa kamu tidak seperti adikmu?”

Konsepnya adalah “Meninggikan gunung, bukan meratakan lembah”. Analoginya seperti ini: Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung.

Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai Matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan Matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Dan sikap semacam ini akan menjadikan anak menjadi anak yang rata-rata.

Perbandingan memang mampu memicu anak untuk lebih bersemangat mengejar prestasi. Dengan melihat kesuksesan orang lain, anak akan termotivasi untuk dapat menyamai kondisi orang tersebut. Alhasil, anak bakal memiliki motivasi dan daya juang yang tinggi. 

Namun, bila perbandingan dilakukan secara keliru, anak akan merasa tidak dihargai. Itu tentu merupakan bullying karena anak merasa tidak nyaman dengan diri sendiri.

Sebaliknya, jika analoginya seperti ini: Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang.

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orang tuanya mengizinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengizinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya meninggikan gunung. 

Dengan sikap yang kita ambil seperti ini, maka anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini.

Peran Sentral

Orang tua mempunyai peran sentral dalam menentukan sikap dan pribadi anaknya. Mereka harus menyadari bahwa dalam diri anak terdapat fitrah Ilahiah yang cenderung kepada kebaikan. 

Paradigma bahwa kecenderungan anak kepada kebaikan, seharusnya dimiliki oleh orang tua agar meningkatkan optimisme bahwa anak yang telah berperangai buruk bisa diarahkan menjadi lebih baik. Bukan keburukan permanen yang seolah-seolah tidak bisa diubah.

Allah tidak pernah membuat produk gagal. Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orang tua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya.

Sebagai orang tua, kita harus sering melakukan “discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak KAYA WAWASAN, KAYA GAGASAN, dan KAYA AKTIVITAS. Buang jauh-jauh narasi negatif yang bisa membunuh potensi anak. Berikan mereka apresiasi jika melakukan hal-hal positif. 

Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar (ENJOY), tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (EASY), dan menjadi hebat di bidangnya (EXCELLENT).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas
dan apresiasi karya di bidangnya (EARN).

Anak-anak terlahir hebat, kitalah yang harus selalu Memantaska Diri agar selalu layak di hadapan Allah, Memegang Amanah Anak-anak Yang Luar Biasa


Referensi: 
Materi Matrikulasi IIP
ubaya.ac.id
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

4 komentar

  1. Bener banget itu. Sering lihat kasus kayak gitu. Ya kalau jadi kompetitif, tetapi kalau anaknya malah down kan malah kasihan. Soalnya itu kejadian beneran sama sepupu saya :)

    BalasHapus
  2. Betul sekali kak April. setiap anak lahir dengan keistimewaan masing-masing, maka tak layak lah kita membandingkan satu dengan yang lainnya.

    BalasHapus
  3. Kalau pas ingat bisa tapi kadang terbesit didalam hati ... mengapa anaku kok tdk bisa ya ... akhirnya semangat jadi turun ... dan itu terus menghantuiku selama menjadi ibu ...

    BalasHapus
  4. Sepakat nih Kak. Ngerasain banget, dibanding-bandingin itu gak enak. Kadang juga itu yang membentuk seorang anak menjadi rendah diri

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih bagi yang sudah berkunjung dan meninggalkan komentar.

Salam Hangat, April Hatni

Subscribe Our Newsletter