Senyum, Syukur di saat Pandemi

senyum syukur saat menghadapi pandemi

Awal bulan Maret lalu, tak hanya di Qatar bahkan hampir seluruh belahan dunia dihebohkan dengan kehadiran virus yang selama ini belum pernah ada, yaitu Covid-19 (Corona Virus Diseases-19). Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Hadirnya virus ini di dunia, membuat hampir seluruh negara terdampak.

#StayatHome, #DiRumahAja, #TinggalDiRumah adalah beberapa tagar yang digaungkan di berbagai media sosial agar kita memperbanyak aktivitas dari dalam rumah, melakukan semua pekerjaan dari dalam rumah dan membatasi keluar rumah jika tidak penting.

Bagi sebagian orang “berdiam di rumah aja” alias stay at home itu nggak mudah bahkan merupakan tantangan tersendiri, karena berhubungan dengan kebiasaan mereka. Namun untuk saat ini mau tidak mau harus dijalani. 

Penerapan Lockdown 

Sejak 1 Maret 2020 anak-anak stay at home dan school from home. Suami yang masih bekerja keluar, karena pekerjaannya tak bisa dilakukan dari rumah. Apalagi sejak pekan kedua bulan Maret lalu, pemerintah Qatar memberlakukan lockdown

Sekolah, mall, masjid, taman bermain, transportasi umum, kantor pemerintahan, beberapa perusahaan dan lain sebagainya tutup. Grocery diizinkan buka untuk mencukupi kebutuhan pangan warga, saat berbelanja dilarang mengajak anak-anak. 

Begitu pula dengan restoran yang buka dengan syarat delivery order tidak boleh makan di tempat. Pharmacy buka untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan obat-obatan.

Meskipun begitu, pemerintah Qatar tetap memberikan ketetapan untuk harga sembako sehingga ada 500 lebih jenis produk sembako turun harga pada saat Ramadhan kemarin, alhamdulillah. 

Memang untuk buah, sayur, daging dan ikan mungkin tak sekomplit sebelum pandemi. Namun tetap kami syukuri, masih tercukupi. Tinggal pintar-pintar saat mengelola menu.

Dampak Covid-19

Dampak terberat yang aku rasakan di saat Ramadhan kemarin. Berbagai kegiatan yang biasa dilakukan di luar rumah, misalnya; Tarawih di Masjid, ngabuburit, buka bersama, kajian Ramadhan, dan sebagainya terpaksa ditiadakan dan semua aktivitas terpaksa dilakukan di rumah saja. Sedih, kecewa? Sudah pasti.

Beberapa hari setelah berita tentang Covid-19 mendunia, mau nggak mau sesekali aku berusaha untuk terus mengikuti perkembangannya, termasuk di media sosial. 

Ada yang membahas mulai dari aspek kesehatan, tentang apa sebenarnya virus itu, bagaimana penyebarannya, apa pencegahannya dan apa yang harus dilakukan jika terjangkit. 

Ada pula yang mengatakan bahwa penularannya tidak hanya melalui Droplet saja, melainkan bisa melalui udara. Huh! Aku benar-benar merasakan tsunami informasi waktu itu, mana yang benar, mana pula yang tidak benar.

Selain itu, ada pula yang membahas dari sisi sejarah tentang wabah yang ternyata pernah terjadi ratusan tahun silam dan ada pola berulang. Ada yang mengurainya dari sisi ekonomi, sejauh mana imbas pandemi ini pada perekonomian global. 

Wabah ini juga berdampak pada aspek sosial berupa kekurangan pangan dan pengangguran dadakan. Kriminalitas melonjak, tingkat stres masyarakat pun meningkat. Memang setelah sebulan virus itu menyerang, terjadi perubahan besar-besaran di dunia ini.

Tidak hanya sampai di situ, adapun ahli politik sibuk menilai para pemegang kekuasaan yang dianggap kurang sigap membuat kebijakan yang cepat dan tepat. Saling menyalahkan satu sama lain. Di sisi masyarakat pun tak sedikit pula menyalahkan keadaan ini. 

Berpikir Positif

Dengan segala kondisi yang ada seperti saat ini, bukankah seharusnya kita harus berpikir positif? Tanpa menyalahkan satu sama lain. Kondisi pandemi seperti ini merupakan kesempatan bagi kita untuk bermuhasabah, bertaubat dan kembali melaksanakan syariat? Seperti anjuran para pemuka agama. 

Semuanya mengalaminya dan berdampak pada siapa saja. Tahun ini pun kami juga tak jadi mudik ke kampung halaman. Sedih itu wajar, namun nggak perlu juga kita berlarut-larut dalam kesedihan, bukan?

Menerima keadaan adalah satu hal yang penting agar kita bisa ikhlas dan bisa menjalani Ramadhan dengan baik meskipun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Walaupun mungkin secara kuantitas ibadah kita jadi tidak sebanyak tahun lalu, semoga kualitasnya tetap bertahan, syukur-syukur meningkat.

Agar tidak bosan saat mengerjakan segala sesuatu di dalam rumah, hati dan pikiran harus tenang dan tentram. Bergulat dengan segala macam hiruk pikuk dan ramainya rumah, perlunya memperluas rasa sabar kita sebagai seorang Ibu. 

Bisa dibayangkan bukan, jika kita sebagai Ibu mudah panik dan bosan maka seluruh isi rumah jadi tidak karuan, ikut terdampak dan kacau jadinya. Maka, kesehatan mental pun perlu dijaga.

Memang sih, pekerjaan kita sebagai ibu sudah tentu bertambah di tengah pandemi seperti ini terlebih anak-anak school from home

Mungkin ada sebagian suaminya juga work from home. Jadi seorang ibu itu harus benar-benar bisa membagi waktu untuk diri sendiri, anak-anak, pasangan, beribadah, memasak, beberes rumah, menelpon keluarga di tanah air, dan lain sebagainya.

Bersyukur untuk menjaga Kesehatan Mental

Jadwal online class Aqmar pagi hari mulai pukul 07.30 hingga jam 11.00 dengan  menggunakan aplikasi Zoom. Sedangkan tugas-tugas sekolah dan materi, menggunakan aplikasi Class Dojo. Sedangkan Prista, jadwal class mulai pukul 11.00 hingga 16.00 menggunakan aplikasi Microsoft Team.

Peran Ibu di sini sangatlah penting, hal ini diperlukan untuk mendampingi anak-anak, membantu/menjelaskan ulang apabila ada yang belum dipahami oleh anak-anak. Mengecek tugas anak-anak, apakah sudah dikerjakan dan disubmit. 

Capek? sudah pasti. Namun harus yakin jika semua kita kerjakan karena Allah, akan berbuah pahala. Bersyukur terus menerus dan tak pantas rasanya kalau kita terus mengeluh.

Alhamdulillah, Allah masih memberikan banyak nikmat yang tak terhingga. Salah satu hal berbeda yang kami rasakan adalah rasa syukur atas hal-hal yang sederhana, yang biasanya dipandang sebelah mata.

Pertama, bahwa kita masih dikaruniai kesehatan dan bisa berkumpul bersama keluarga. Ingin mengeluh karena berisiknya suara anak-anak di rumah? Atau rumah yang selalu berantakan dengan mainan layaknya kapal pecah? Bukankah itu bukti anak-anak sehat dan tak kurang sesuatu apa pun?

Padahal, betapa banyak orang-orang di luar sana yang anggota keluarganya terbaring sakit, bahkan menemui ajalnya. Atau ada pula yang mesti berpisah dengan keluarganya demi pengabdian di rumah sakit. 

Aku di sini? Cuma disuruh di rumah saja, menemani anak-anak, nggak perlu kerja berat-berat layaknya dokter dan tenaga medis! Masih mau komplain terus? Ah, rasanya tak pantas.

Nikmat kedua yang kami rasakan adalah tersedianya bahan pangan untuk kehidupan sehari-hari meskipun ada beberapa yang berkurang di Supermarket saat itu. Namun kami tidak kelaparan, merasa sangat cukup bahkan lebih, alhamdulillah. Mulai nasi, lauk, sayur, buah, cemilan, alhamdulillah tidak ada yang kurang.

Padahal di luar sana banyak orang yang kesulitan mencari makan. Ada pula yang perekonomian keluarganya terimbas karena pandemi. Pemasukan berkurang bahkan hilang, sedang keluarga butuh makanan.  

Hingga kudapati kabar gembira dan membuatku tersenyum lebar, di saat penerimaan raport anak-anak. Alhamdulillah hasil belajar anak-anak sangatlah memuaskan hingga membuatku selalu bersyukur tak henti-hentinya. Keduanya merupakan salah satu siswa berprestasi di kelas. 

Jadi, pandemi itu menurutku mempunyai dua sisi, bergantung cara kita memandang dari segi yang mana. Senyum dan syukur di saat pandemi itu lebih penting, karena dengan kita tersenyum, berpikir positif, menjaga semangat dan selalu bersyukur adalah kunci sukses dalam melewatinya.

Tentunya sistem imunitas tubuh semakin meningkat dan kesehatan akan selalu terjaga di masa pandemi. 
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter