Metode dalam Forgiveness Therapy

metode dalam forgiveness therapy


Kita pastinya pernah berada dalam situasi atau harus berurusan dengan orang yang telah berbuat salah atau menyakiti kita di masa lalu atau sekarang. Saat dirugikan, biasanya mendapati diri kita menyimpan perasaan pengkhianatan, kemarahan, atau kebutuhan untuk membalas dendam untuk kembali ke perasaan normal. 
 
Ada sudut pandang pemaafan yang mungkin membuat terkejut bagi sebagian orang. Pemaafan bukanlah tindakan tanpa pamrih, yang hanya menguntungkan orang yang telah berbuat salah kepada kita. 

Sebaliknya, ini tentang penyembuhan diri, pemberdayaan, dan pembebasan. Jika kita tidak menemukan dalam diri kita untuk memaafkan, artinya kita akan menghabiskan banyak energi untuk memikirkan aspek negatif dari hidup kita. 

Hal ini membuat diri kita sendiri sakit karenanya, mengalami kilas balik, dan membuang-buang waktu memikirkan kenangan masa lalu yang menyakiti kita di masa sekarang. Banyak orang menyimpan kenangan menyakitkan selama bertahun-tahun.

Jadi mengapa pemaafan itu penting? Dan kapan saatnya untuk memaafkan? Jika Anda mencari pelipur lara dengan zat-zat seperti obat-obatan dan alkohol atau terlibat dalam perilaku tidak sehat seperti melukai diri sendiri atau menyakiti diri, perilaku seksual berisiko, merasa tertekan, stres dan atau cemas. Mungkin inilah waktunya untuk mencoba memaafkan, bahkan yang tampaknya tak termaafkan. 

Beberapa orang bisa memaafkan dengan mudah sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Tindakan memaafkan adalah salah satu dari menyadari bahwa menahan amarah dan dendam membawa beban berat bagi kita. 

Ketika kita memaafkan, daripada hanya melihat rasa sakit dan penderitaan kita, kita dapat mulai melihat situasi dengan penerimaan penuh, sebagaimana adanya.

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Forgiveness Therapy, kali ini ada beberapa latihan/metode yang bisa dilakukan dalam Forgiveness Therapy.

Latihan Pemaafan (Forgiveness Therapy)

Ada tiga metode dalam latihan pemaafan:
  • Lifeline Mapping dan Jembatan Mizan
  • Narrative Exposure Therapy
  • Pemaafan dengan memanfaatkan peristiwa hidup sehari-hari

Catatan:

Saat melakukan latihan Lifeline Mapping, Jembatan mizan, juga Narrative Exposure Therapy, lakukanlah dengan ditemani orang lain yang kita percayai, pasangan misalnya.

Lifeline adalah sejarah hidup pribadi yang memuat secara detail peristiwa-peristiwa hidup secara kronologis, serta menandai dan mencatat peristiwa yang penting dan mempunyai makna dalam hidup seseorang.

Dengan metode Lifeline ini, setiap individu diajak untuk mampu menamai serta menilai emosi dan peristiwa dengan skala emosi. Setelah membuat Lifeline, pilih 1 peristiwa dengan skor emosi yang paling minus/bawah atau terendah untuk kemudian dipakai sebagai acuan dalam analisa di Jembatan Mizan.

lifeline mapping

Jembatan Mizan

Pada saat kita mengalami peristiwa yang dipandang buruk, seringkali perhatian kita hanya pada efek buruknya saja. Padahal sebenarnya tanpa disadari, peristiwa-peristiwa yang dipandang buruk tersebut justru mengajarkan banyak hal yang diperlukan dalam hidup.

Cara Membuat Jembatan Mizan

  • Ambilah satu halaman kertas kosong, bagi menjadi 2 bagian!
  • Di bagian kiri, tuliskan semua hal yang merupakan efek buruk dari peristiwa yang dialami (sebagai contoh latihan, ambil 1 peristiwa dengan skor emosi paling minus/rendah di Lifeline)
  • Di bagian kanan, tuliskan semua hal yang merupakan pembelajaran dan hikmah (sifatnya langsung maupun tidak langsung) yang berupa pengetahuan, keterampilan, kompetensi (skill dan character), sikap hidup yang terjadi akibat dari peristiwa tersebut.
  • Bandingkan catatan kiri dan kanan. Antara efek buruk yang dituliskan, dengan pembelajaran (langsung maupun tidak langsung) dan hikmah dari peristiwa tersebut, lebih besar manfaat kebaikan dan dampaknya yang mana.
  • Renungkan, apakah menurutmu pengalaman itu berharga bagi hidup saat ini?

Narrative Exposure Therapy

narrative exposure therapy worksheet


Forgiveness Therapy dengan memanfaatkan peristiwa/kehidupan sehari-hari

Uniknya Forgiveness Therapy ini bisa diaplikasikan saat kita melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya:

Saat Mandi, niatkan saat menyiram tubuh dengan air, dalam hal ini kita akan melakukan proses pemaafan, menerima peristiwa hidup di masa lalu. Kemudian saat memakai sabun, Shampoo dan gosok gigi, kita bisa niatkan untuk membersihkan hati, pikiran dan jiwa dari sampah emosi buruk. 

Saat mengguyur air kembali, niatkan untuk merelease atau melepaskan emosi buruk dan semua hal yang membuat hidup kita buruk dan tidak bahagia. Saat memakai baju kita niatkan untuk membuat skema hidup yang baru yang membahagiakan kita, saat ini dan di masa depan. 

Begitu juga dengan aktivitas berwudhu.

Selain itu, saat buang air besar atau buang air kecil, niatkan membuang semua emosi buruk dan dendam akibat peristiwa di masa lalu. Saat membersihkan tubuh, niatkan merelease atau melepaskan emosi buruk. 

Saat memakai baju atau celana dan keluar dari kamar mandi, niatkan untuk membuat skema hidup yang baru yang membahagiakan hidup kita saat ini dan di masa mendatang.

Memaafkan itu tidak wajib. Semua adalah pilihan. Boleh tidak memaafkan selama siap mengelola resiko buruk dari sampah emosi yang menumpuk.

Obat Hati adalah Berbuat Kebaikan
Memaafkan adalah tentang bagaimana mengelola diri kita menjadi subjek
Muara memaafkan adalah cinta
Kasihilah diri kita sendiri. Bahagiakan!
Kebahagiaan kita tanggung jawab kita sendiri

Fiuh, gimana menurutmu genks? Sanggup melakukannya? Aku sendiri masih terus berusaha nih. Aku bisa memaafkan kejadian/peristiwa sedih yang telah menimpaku karena itu adalah takdir yang harus aku lewati dan insyaallah aku bisa menerimanya.


Referensi:
101mind.com
www.hipnotis.net
www.adiwgunawan.com
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter