Jomo: Gaya Hidup Bahagia

jomo gaya hidup bahagia


Habis FOMO, terbitlah JOMO. Setelah kemarin kita membahas tentang FOMO, saatnya kali ini membahas JOMO. 

Apa itu JOMO? 

Joy of Missing Out atau dikenal dengan istilah JOMO adalah cara hidup yang lebih santai dan tidak merasa bermasalah bila terlambat mengetahui sebuah berita.
Secara sederhana, JOMO ini merupakan kebalikan dari FOMO itu sendiri. 

jomo adalah


JOMO didefinisikan sebagai perasaan kepuasan diri, di mana seseorang sudah merasa cukup dengan hidupnya, sehingga mereka merasa bebas dan lebih fokus pada hal-hal yang mereka senangi. 

Mereka yang menerapkan JOMO cenderung lebih tenang menjalani hidup tanpa takut kehilangan informasi yang sedang viral. Merasa rileks atau bahkan lebih bahagia ketika ia mematikan ponselnya dan fokus pada aktivitasnya.

Perilaku gaya hidup JOMO memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjalani hidup dalam ritme yang lebih lambat, lebih terfokus pada hubungan dengan sesama manusia, kemampuan untuk mengatakan ’tidak’, memberikan ruang khusus terhadap diri sendiri yang terlepas dari ketergantungan teknologi, serta memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merasakan segala emosi yang ada.

Namun ingat, bahwa menerapkan JOMO bukan berarti harus benar-benar menghilang dan tidak bersosialisasi dengan orang lain.

JOMO justru membantu kita untuk mulai membangun koneksi yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga atau sahabat. Alhasil, jika dilakukan dengan tepat, kita akan merasa lebih bahagia dalam menjalani hidup.

Apa Kelebihan JOMO?

kelebihan jomo

  • JOMO bisa “menyelamatkan waktu”.

Memanfaatkan waktu dengan melakukan aktivitas yang lebih prioritas dan mengurangi screening time, sehingga hidup lebih produktif lagi dan tertata. 

Bayangkan jika waktu terbuang sia-sia hanya sekedar untuk buka sosmed, nge-like dan berkomentar terhadap suatu postingan, nggak akan ada habisnya, seakan ponsel yang mengontrol kita, bukan sebaliknya.

  • JOMO membuat kita lebih sadar dan peka.

Tak dipungkiri, bahwa selama ini saat kita merasa kesepian, stress, sedih, dan bosan, pasti larinya ke Handphone. Sementara itu, kita nggak sadar bahwa ada yang nasibnya lebih buruk dari kita, misalnya korban banjir, kebakaran dan sebagainya. 

Beda jika halnya ketika kita menyimpan ponsel terlebih dahulu, lalu mengamati secara langsung. Emosi seakan tertampar ketika melihatnya dan semua itu akan membangkitkan naluri kemanusiaan yang hampir hilang karena sibuk di dunia maya.

  • JOMO membuat kita lebih rileks dan tak ikut grusa-grusu.

Sejak teknologi berkembang pesat, tak dipungkiri selama ini seakan kita seperti ikut terburu-buru, gusar dan takut tertinggal segala informasi yang tersebar di dunia maya. 
Dengan bersikap JOMO, kita bisa belajar “menikmati” lagi untuk kembali ke kebiasaan lama (sebelum era digital), lebih tenang, santai dan nggak terbawa arus.

JOMO adalah Gaya Hidup Bahagia

JOMO merupakan salah bentuk self-care yang perlu kita latih dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari di era digital saat ini. Bagaimana cara menerapkannya? Berikut beberapa tipsnya.

tips menerapkan jomo

1. Tentukan Prioritas 

Buatlah to do list (daftar pekerjaan) yang perlu kita selesaikan pada hari itu. Setiap kali kita akan mengerjakan sesuatu, termasuk membuka media sosial, periksa lagi apakah aktivitas lain yang menjadi prioritas kita sudah terselesaikan terlebih dahulu. Skip untuk hal-hal yang tidak penting.
 

2. Lakukan lebih banyak hal yang produktif dan menyenangkan, yang membuat kita bisa melupakan gadget.

 

3. Kejar kualitas, bukan kuantitas

Apakah membaca semua percakapan di grup WhatsApp, semua update status di Facebook, atau semua judul di portal berita online benar-benar membuat kita lebih pandai atau bahagia? 
 
Perlunya memilah informasi yang benar-benar kita butuhkan dari segi ‘kualitas’. Lebih baik sedikit namun bernilai positif daripada berlimpah namun membuat kita kewalahan.
 
Referensi:
Seminar Emeraldina Darmidjas
DigitalMama.id
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter