Manajemen Stress Keluarga, Bagaimana Caranya?

manajemen stress keluarga

Pada beberapa waktu yang lalu, KBRI Doha bekerja sama dengan PERWIQ (Persatuan Wanita Indonesia di Qatar) dan PERMIQA (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar) mengadakan Seminar Psikologi dengan mengangkat tema Manajemen Stress Keluarga.

Tema ini menurut aku pribadi sangat menarik dan membuat rasa penasaranku semakin besar, apalagi bagi seorang ibu sepertiku ini sangat rentan mengalami stress kurang lihainya dalam mengelola waktu, semuanya harus dikerjakan sendiri tanpa adanya asisten rumah tangga, wow rasanya sudah tak bisa diungkapkan lagi deh.

Tanpa pikir panjang aku pun mendaftarkan diri untuk mengikuti seminar tersebut. Meskipun tempatnya jauh dari rumah, namun tak mengapa demi sebuah ilmu aku harus rela menempuh jarak Mesaieed-Doha sekitar 1 jam an. Beruntungnya suami mengizinkan dan bersedia untuk mengantarkanku di tempat tujuan. Alhamdulillah…

Pemateri kali ini memang sudah familiar bagiku, dia adalah ibu Fajriati M. Badrudin, seorang Founder dan Counsellor Parent Support Group (PSG) Qatar, juga seorang Psikolog dan Founder Sahabatku. Bu Fajri, panggilan akrabnya,  saat ini tinggal di Al Khor Community namun tak jarang beliau pulang pergi Doha-Jakarta untuk bertemu dengan anak-anaknya yang memang bersekolah di Indonesia. Lantas, bagaimanakah pembahasannya? Mari kita ulas satu per satu.

Pengertian Stress

Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, fisik, psikis maupun mental seseorang. Gejala stress ini mempengaruhi kesehatan fisik dan kesehatan mental, sehingga seseorang merasa, tertekan, nervous dan kekhawatiran kronis serta menunjukkan sikap mudah marah dan tidak kooperatif.
stress adalah

Tiga Kunci Harmonis Dalam Keluarga

1. Selesaikan konflik diri; meliputi stress, inner child, unfinished business
2. Selesaikan masalah dengan pasangan; lakukan komunikasi yang baik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi
3. Selesaikan masalah pengasuhan Anak

Kesehatan Mental

Kesehatan mental adalah salah satu ciri dari sehatnya seseorang. Sedangkan arti Sehat itu sendiri menurut WHO meliputi 3 aspek;
1. Sehat Fisik
2. Sehat secara sosial, yaitu mampu dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain
3. Sehat Jiwa/Mental

Ciri-ciri orang yang sehat Mental menurut WHO;

1. Merasa senang dan bahagia
2. Bisa menerima kelebihan dan kekurangan diri
3. Mampu menyesuaikan diri dengan keadaan/ kehidupan sehari-hari (adaptif dan fleksibel)
4. Mampu melakukan kegiatan yang bermanfaat (produktif)
5. Aktif menyumbangkan tenaga, pikiran pada lingkungan sekitar (punya kontribusi/kepekaan pada orang-orang atau lingkungan sekitar)

Kebahagiaan

Kapan seseorang dikatakan bahagia? Ada dua indikator bahagia; kembali pada diri sendiri dan kembali pada rasa puas. Rasa puas yang seperti apa bisa membuat kita bahagia? Ya, rasa puas dengan apa yang kita miliki/ada di sekitar kita. Sehingga kita bisa menikmati apa yang ada. Rasa puas inilah yang dinamakan dengan bersyukur.

Jadi, memang indikator bahagia itu berbeda-beda untuk setiap orang. Namun kemampuan seseorang untuk bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang positif sehingga ia merasa cukup puas, itulah yang akan membuat dia bahagia.

Orang dijamin tidak akan pernah Bahagia jika ia melakukan 3 hal berikut;
1. Selalu menyesali masa lalunya
2. Selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki saat ini
3. Selalu mengkhawatirkan/mencemaskan masa depan

Ciri orang yang tidak sehat mental? maka jawabannya bervariasi, mulai dari stress yang umum dialami hingga mengalami gangguan jiwa.

Dari reaksi fisik:

1. Merasakan perubahan-perubahan fisiologis; Jantung berdebar, otot-otot leher tegang, sakit kepala, sakit perut, keringat berlebihan tanpa alasan yang jelas
2. Adanya perubahan pada pola makan, tidur dan aktivitas sehari-hari, yang biasanya rame, supel, banyak ngobrol kemudian berubah tidak mau bertemu orang

Dari reaksi psikologis:

1. Ada emosi-emosi yang berlebihan, misalnya; takut, cemas yang berlebihan, sensitive (baper), mudah tersinggung
2. Kondisi psikologis erat kaitannya dengan kognitif (daya pikir) yaitu gampang lupa, karena tidak fokus, sulit memusatkan perhatian dan sulit konsentrasi

Mengetahui kesehatan mental itu penting, supaya kita bisa mengamati diri sendiri dengan memahami kondisi diri kita dan bukan untuk menghakimi kondisi seseorang.

Kiat Mengelola Stress

Pada umumnya stress terjadi karena adanya perubahan, tuntutan dan masalah sehingga menyebabkan stress. Biasanya masalah-masalah ini memunculkan emosi yang berlebihan “emosi negatif”.

Prinsip mengelola stress hanya 2 saja;

1. Bagaimana kita menghadapi masalah
2. Bagaimana kita mengelola emosi
Sederhananya adalah dengan “Atasi masalahnya, Stabilkan Emosinya”.

Fakta yang terjadi biasanya, bila ada masalah maka emosi dulu yang muncul; nangis, cemas, takut sehingga tidak bisa berpikir jernih. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah;
1. Menstabilkan emosi yaitu dengan cara melakukan hal-hal yang bisa menurunkan ketegangan emosi. Misalnya kalau sedih bagaimana? Kalau marah bagaimana? atau dengan melakukan hal-hal yang kita sukai dan hal-hal yang membuat rileks (dengan berdoa, tilawah Al Quran, berdzikir, Tahajud dan sebagainya)

2. Cara menghadapi masalah
Masalah belum tentu harus selesai, karena ada masalah-masalah yang tidak bisa selesai

3. Berdoa

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya”.

Mengelola Rasa Sedih

1. Mengakui sedih itu ada. Sedih itu bukan lemah, sedih itu nyata dan nggak apa-apa
2. Rasakan sedih itu. Ini memang nggak enak, kadang secara nyata kita bisa merasakan sensasi perih di dada atau di manapun yang kita rasakan ketika sedih
3. Ambil pesan di balik kesedihan. Kita bisa bertanya ke dalam diri kita; “apa pesan dari rasa sedih ini?” Apa sebabnya rasa sedih ini ada? Rasa sedih ini membutuhkan apa dari diri saya? Agar saya bisa mendapatkan pelajaran dari sedih ini, apa itu?
4. Sering mengajak bicara diri sendiri (self talk)

Dalam mengelola masalah, identifikasi masalah (apa masalah sebenarnya)?


  • Apa sih yang paling kita takutkan? yang paling mengkhawatirkan? Yang paling berdampak bahaya?
  • Cari/identifikasi sumber-sumber apa yang kita miliki yang bisa membantu penyelesaian masalah (sering terlewat karena kita hanya fokus pada masalah)
  • Merencanakan langkah-langkah penyelesaian, mulai dari yang paling mudah dan bisa dikerjakan saat ini.

Manajemen Stress

Kuncinya dengan pola hidup seimbang,
1. Seimbang dalam fisik; Makanan, Olahraga, Istirahat

2. Bagaimana kita menakar kemampuan, karena biasanya stress terjadi ketika kelebihan beban (overload)
Lantas bagaimana jika kemampuannya terbatas tapi tuntutannya banyak?
caranya dengan;

  • Pecah tuntutan-tuntutan tersebut menjadi lebih sederhana
  • Kembangkan hobi/minat, sehingga bisa memunculkan rasa senang/ bahagia dan itu akan menurunkan ketegangan emosi, sehingga bisa berpikir jernih

3. Bangun hubungan sosial yang baik, mengapa? karena untuk mempunyai daya tahan stress yang tinggi, seseorang harus bisa bicara dengan orang yang nyaman/bisa dipercaya

4. Kembangkan pikiran-pikiran Positif

5. Bagaimana kita meningkatkan sisi spiritual
Maksudnya dengan mengembalikan masalah tersebut kepada yang memberi masalah (menerima bahwa masalah tersebut adalah takdir Allah SWT)
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter