Menulis Sebagai Salah Satu Aktivitas di Masa Pandemi

aktivitas di masa pandemi


Aktivitas saat Pandemi

Masa Pandemi masih terasa hingga sekarang kita nggak pernah tahu kapan berakhir, berdiam di rumah selama lebih dari enam bulan tak membuatku bosan, sedih maupun stress. Justru aku merasa bisa meluangkan waktu dengan cara memanfaatkan dan mengoptimalkannya untuk mengembangkan diri, terutama keterampilanku, salah satunya di bidang Literasi. 

Menulis sebenarnya bukan kebiasaan baru lagi bagiku, melainkan sudah tiga tahun terakhir ini aku menggeluti bidang ini meskipun kebanyakan hanya jurnal belajar. Yah sejak masuk IIP akhir 2017 lalu, aku mulai mencoba melatih keterampilan ini dengan cara menulis beberapa jurnal belajar sebagai tugas yang diberikan di kelas.

Hingga kemarin masuk kelas Bunda Cekatan,  Institut Ibu Profesional beberapa bulan yang lalu, aku sempat mengikuti Program Mentorship Blogging, untuk mengembangkan keterampilanku dalam menulis, terutama di Blog/ngeblog.

Alhamdulillah mendapatkan mentor yang sangat sabar dan bersedia membantu jika aku mendapatkan kesulitan. Beliau adalah seorang Blogger, Freelance content writer, Manager Media Komunikasi Institut Ibu Profesional serta penanggung jawab dari rumah belajar Literasi IP Semarang, yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan seringkali beliau mendapatkan berbagai job dari berbagai media dan hasil karyanya pun mungkin sudah tak terhitung lagi.

Saat proses mentoring tersebut, ada beberapa challenge yang diberikan kepada kami (para mentee) yaitu tantangan menulis setiap hari dengan tema tertentu. Oh iya, kebetulan ada 4 mentee dalam program mentoring tersebut. Alhamdulillah, aku pun berhasil melewati tantangan tersebut  meskipun di awal ada perasaan kurang yakin bisa menaklukkannya.

Sebulan mentoring telah berlalu, aku pun kembali pada rutinitas seperti biasa. Hari demi hari aku lalui, hingga genap hampir sebulan aku ‘stuck’ lama tidak mengisi blogku. Sehingga blogku bisa dibilang kosong ‘tidak update’ lagi selama kurang lebih sebulan.

Sedih memang, merasa rugi dan tidak berkembang. Namun bagaimana lagi, aktivitas domestik yang menguras waktu, belum lagi saat itu suami perlu perhatian lebih karena sedang sakit dan malam harinya sudah nggak bisa fokus lagi karena kelelahan dan berbagai alasan lainnya yang membuatku menunda-nunda aktivitas yang seharusnya membuatku lebih bahagia. Baiklah tarik nafas...hembuskan, aku mencoba berdamai dengan kondisi saat itu, sembari berdoa mudah-mudahan ada waktu lagi untuk aktif menulis lagi dan semangatku ter-recharge lagi.

Alhamdulillah, hari ini aku mendapatkan kabar bahagia dari mentorku sewaktu di kelas Bunda Cekatan melalui Facebook Messenger, bahwa ada pendaftaran baru di komunitas ODOP. Sontak saja, mataku berbinar-binar membaca kabar ini “wah, kesempatan nih agar aku kembali konsisten lagi untuk menulis, untungnya masih ada kesempatan sehari  lagi” gumamku. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung meluncur ke form pendaftaran untuk mendaftarkan diri. 

Halaman pertama sudah kelar diisi, berlanjut ke halaman berikutnya ternyata ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar kita bisa melanjutkan pendaftaran. Hanya tinggal satu prasyarat saja yang kurang, yaitu membuat tulisan tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru di Bidang Literasi”. Oh, baiklah kalau begitu. Mulai pukul 08.00 waktu Qatar, akupun langsung mengeksekusinya dan mulai menyusun kata per kata demi memenuhi prasyarat untuk mendaftar di komunitas tersebut agar aku “back to track” dan produktif lagi di dunia Literasi, khususnya di bidang Kepenulisan. 

Sempat bingung memang saat memulainya, karena sudah terlalu lama tidak menulis, namun diiringi dengan niat dan bismillah akhirnya tak terasa sudah mendapatkan 1,5 halaman, alhamdulillah lanjut, semangat!!!

Perspektif

Sebagai ibu rumah tangga katanya harus jago di bidang dapur dan sumur, lantas bagaimana dengan aku yang bisa dibilang nggak jago di bidang dapur dan sumur? apa mesti sedih dan berkecil hati? Oh tentu saja tidak, karena potensi manusia kan berbeda-beda. Allah memberikan perbedaan itu sebagai ciri khas dari individu tersebut, maka tak seharusnya kita saling menghakimi dan melabeli satu dengan yang lainnya.

perspektif tentang ibu rumah tangga

Ibu rumah tangga tak melulu harus jago di bidang kerumahtanggaan, kita bisa mengembangkan potensi diri di bidang lainnya, terutama di bidang yang kita sukai dan minati. Misalnya saja aku yang bisa dibilang nggak jago di bidang dapur dan sumur, ya karena memang potensiku bukan di situ melainkan di bidang lainnya. Maka minimal aku harus mencari tahu dan menggali potensi diri agar menguasai di bidang lainnya dong, itung-itung sebagai personal branding.

Masa sih, di dapur nggak bisa, di tempat lainnya juga sama. Alangkah malunya diri ini jika tidak mempunyai kemampuan yang harus diandalkan sedikit pun. Maka aku pun menggali dan terus menggali potensi yang ada di dalam diri. Di bidang apa yang sebenarnya aku sukai dan aku mampu untuk melakukannya? Akhirnya setahun terakhir ini aku temukan jika minatku di bidang Desain dan Menulis. Karena dengan menggeluti dua bidang inilah aku merasakan kebahagiaan yang tak biasa, bahagia karena mampu melakukannya (menciptakan sebuah desain maupun tulisan), bahagia karena ternyata aku mempunyai keterampilan yang tidak semua orang memilikinya.

Namun, aku juga masih merasa kurang optimal dalam menulis. Banyak yang harus diperbaiki dari segi kualitas (standar penulisan) dan masih banyak tulisan yang hanya mengendap di folder (draft) yang belum selesai aku edit lagi dan alhasil gagal posting di Blog. Kata nanti, nanti dan nanti selalu mengacaukanku jika aku mau memulainya, berat rasanya. “Kalau seperti ini terus menerus, kapan berkembang?” pikirku. 

Akhirnya, aku mantapkan jiwa dan raga untuk memulainya lagi. Sekarang harus dimulai lagi, harus dipaksa agar keterampilan ini terus terasah dan berkembang. Bismillah mulai hari ini, ‘mencoba lagi’ membangun kebiasaan baru di bidang Literasi supaya hidup lebih bermartabat lagi. 
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter