aprilhatni.com
aprilhatni.com

Tidak Pernah Dijatah Suami, Begini Cara Kami Kelola Keuangan

jatah bulanan untuk istri

Bulan lalu, menjelang long holiday, alhamdulillah akhirnya kami bisa kumpul lagi di salah satu resto di Al Wakrah. 

Namanya juga ibu-ibu, begitu ketemu pasti ada saja yang dibahas. Dari cerita anak-anak, menu makanan, rencana liburan, sampai urusan rumah tangga.

Sambil memilih menu dengan membolak-balik halaman yang terdapat di buku menu, tiba-tiba salah satu teman nyeletuk,

“Mbak April, kamu dijatah berapa sama suamimu?”

“Nggak dijatah,” jawabku santai.

“Hah? Yang bener?” tanyanya lagi dengan wajah sedikit tidak percaya.

“Beneran, sumpah. Karena aku yang nggak mau dijatah.”

“Lho, kok bisa?”

Aku tertawa kecil.

“Karena dalam mindset-ku, percuma aja dijatah. Nanti kalau kurang, minta lagi. Ah, males banget.” Jawabku.

Lalu, aku melanjutkan ceritaku.

“Meski begitu, aku mendapat privilege dari suamiku. Aku bebas mengakses debit card-nya dan menggunakannya.”

“Unlimited?” Tanyanya lagi dengan nada heran.

Aku mengangguk.

“Langka emang lelaki model begini, ya kan?” tanyaku balik.

Temanku langsung mengangguk.

“Iya banget. Aku dijatah sama suami. Katanya biar pengeluaran nggak membengkak. Tapi kadang uang jatahnya nggak cukup. Mau beli ini itu jadi males minta lagi.”

Aku langsung bercanda.

“Nah, kan? Berarti waktunya ganti.”

Dia melotot.

“Maksudnya?”
“Ganti suami?”

Kami pun tertawa bersama.

Percakapan itu memang hanya selingan di tengah obrolan panjang. Namun, setelah kupikir-pikir, ternyata topik soal uang jatah istri memang sering menjadi pembahasan yang menarik. 

Ada yang merasa nyaman diberi uang bulanan. Ada pula yang lebih memilih mengelola keuangan bersama tanpa sistem “jatah”.

Lalu, mana yang paling benar?
Menurutku, jawabannya sederhana.
Tidak ada.

Setiap Rumah Tangga Punya Kesepakatan yang Berbeda

Sejak menikah, hingga hampir dua puluh tahun, aku dan suami tidak pernah menerapkan sistem uang jatah.

Bukan karena apa.
Hanya saja, sejak awal kami merasa lebih nyaman dengan cara yang kami jalani sekarang.

uang jatah istri

Suamiku bekerja mencari nafkah, sementara aku mengelola berbagai kebutuhan keluarga. Karena aku yang lebih sering berbelanja kebutuhan rumah, hingga mengurus berbagai keperluan anak-anak, rasanya justru lebih praktis jika aku bisa mengakses rekening keluarga.

Kalau harus meminta uang setiap kali ada kebutuhan, menurutku justru lebih merepotkan.

Bayangkan saja.
Hari ini belanja dapur.
Besok mau hangout dengan teman.
Lusa mau pergi ke arisan.
Minggu depan anak butuh perlengkapan sekolah. Dan sebagainya.

Kalau semuanya harus melalui proses meminta uang satu per satu, bukankah itu justru menghabiskan waktu?

Kepercayaan Itu Sudah Dimulai Sejak Sebelum Menikah

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kepercayaan itu tidak muncul begitu saja setelah kami menikah. Benihnya sudah tumbuh jauh sebelumnya.

Salah satu hal yang sejak dulu membuatku yakin pada doi adalah caranya memperlakukan pasangan. Bagiku, seseorang biasanya akan menunjukkan seperti apa karakternya sejak awal. Apakah ia termasuk orang yang pelit, perhitungan, atau justru royal kepada orang yang ia sayangi.

Bahkan sebelum kami menikah, ia pernah menyerahkan salah satu kartu debitnya kepadaku.

“Nih, pakai aja. Nanti kalau saldonya habis, aku transfer lagi.”

Lalu ia menambahkan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“PIN-nya juga boleh kamu ganti.”

kepercayaan dalam pernikahan

Jujur, waktu itu aku menerimanya. Tapi bukan berarti langsung kupakai untuk belanja.
Kartu itu justru lebih sering kusimpan. Isinya tetap utuh hingga menjelang hari pernikahan kami.

Bukan karena aku tidak membutuhkan, melainkan karena saat itu aku merasa belum berhak menggunakan uangnya sesuka hati.

Dari peristiwa kecil itulah aku melihat bahwa kepercayaan bukan hanya diucapkan, tetapi juga ditunjukkan melalui tindakan. Dan mungkin, itulah salah satu fondasi yang membuat kami lebih mudah membangun kepercayaan dalam mengelola keuangan keluarga setelah menikah.

Aku Tidak Pernah Merasa Harus “Minta Izin”

Salah satu hal yang kusyukuri adalah aku tidak pernah merasa sungkan ketika harus membeli sesuatu yang memang dibutuhkan, eh tapi juga sesuatu yang diinginkan juga, sih. Hehe…

Bukan karena suamiku cuek.
Melainkan karena kami sudah sama-sama memahami batasannya.

Kalau nominalnya besar, tentu kami diskusikan terlebih dahulu.
Kalau hanya kebutuhan sehari-hari, kami sudah saling percaya.

Komunikasi seperti ini justru membuat hubungan terasa lebih ringan.
Tidak ada rasa diawasi.
Tidak ada rasa curiga.
Yang ada hanyalah saling menjaga.

Apakah Sistem Uang Jatah Itu Salah?

Tentu saja tidak.
Aku punya banyak teman yang menerima uang bulanan dari suaminya, dan mereka baik-baik saja.

Malah ada yang lebih disiplin menabung karena jumlah uang yang diterima sudah ditentukan setiap bulan.

uang bulanan istri

Ada juga suami yang memang lebih teliti mengatur keuangan, sehingga sistem uang jatah menjadi solusi terbaik bagi keluarganya.

Semua kembali pada karakter masing-masing pasangan.
Yang menjadi masalah bukanlah sistemnya.

Melainkan ketika salah satu pihak merasa tertekan, tidak dipercaya, atau komunikasi tentang uang justru menjadi sumber pertengkaran.

Uang Bisa Dicari, Kepercayaan Harus Dijaga

Kalau boleh jujur, privilege terbesar yang kurasakan bukanlah bebas memakai kartu debit suami. Melainkan rasa percaya yang ia berikan.

Kepercayaan seperti itu tidak muncul begitu saja.
Ia dibangun selama bertahun-tahun.

Dari kebiasaan terbuka soal pengeluaran.
Dari tidak menyembunyikan pembelian.

Dari sama-sama belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Karena itu, aku selalu percaya bahwa kepercayaan adalah investasi terbesar dalam sebuah pernikahan. Sekali rusak, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada mencari uang.

Begini Cara Kami Mengelola Keuangan

Setiap keluarga tentu memiliki caranya masing-masing. Begitu pula dengan kami. Selama hampir dua puluh tahun menjalani pernikahan, ada beberapa prinsip sederhana yang kami pegang dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Pertama, saling percaya. Suamiku memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengakses rekening keluarga, sementara aku menjaga kepercayaan itu dengan menggunakan uang sesuai kebutuhan.

Kedua, membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, aku selalu bertanya pada diri sendiri, “Ini memang dibutuhkan atau hanya sekadar diinginkan?”
Pertanyaan sederhana itu sering kali membantu menahan pengeluaran yang tidak perlu.

cara kelola keuangan keluarga

Ketiga, terbuka soal keuangan. Kami terbiasa berdiskusi jika ada pengeluaran dalam jumlah besar. Dengan begitu, tidak ada yang merasa disembunyikan atau diabaikan.

Keempat, memiliki tujuan yang sama. Rezeki yang Allah titipkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan. Ada kebutuhan anak, dana darurat, hingga berbagai rencana yang perlu dipersiapkan bersama. Karena itulah, kami berusaha menggunakan setiap rupiah dengan penuh tanggung jawab.

Bagiku, cara mengelola keuangan bukan semata soal siapa yang memegang kartu ATM atau siapa yang menerima uang bulanan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kami bisa saling percaya, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang sama dalam menggunakan setiap rezeki yang Allah titipkan.

Disclaimer:
Tulisan ini bukan untuk mengatakan bahwa sistem kami lebih baik daripada pasangan lain. Setiap keluarga memiliki kondisi, kebiasaan, dan kesepakatannya masing-masing. Selama dijalani dengan komunikasi yang baik dan saling menghargai, setiap sistem bisa menjadi yang terbaik bagi pemiliknya.

Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!
OlderNewest

Post a Comment