Membangun Komunikasi Produktif dengan Suami

komunikasi produktif dengan suami

Dalam sebuah pernikahan, komunikasi dengan pasangan merupakan kunci utama langgengnya pernikahan tersebut. Komunikasi yang tak sehat dalam suatu hubungan rumah tangga bisa memicu ketidak bahagiaan pasangan suami istri. 

Sebab kebahagiaan dalam rumah tangga yang harmonis adalah ketika masih ada cinta yang bersemi di antara pasangan. Tapi jika sudah tak ada rasa saling menghormati dan menghargai, maka tandanya lampu kuning, perlunya untuk berhati-hati.

Karena komunikasi yang tidak sehat bisa membuat hubungan rumah tangga menjadi dalam situasi yang rawan dan darurat. Itu sangat berbahaya bagi keberlangsungan sebuah pernikahan.

Tak jarang sebuah pertengkaran hebat bisa terjadi hanya karena komunikasi yang salah. Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Dan sangat disayangkan jika hal itu mengakibatkan hubungan bisa berakhir.

Pentingnya Komunikasi Suami Istri

Seberapa pentingkah komunikasi suami istri itu? Mengapa komunikasi dianggap sebagai peran penting dalam sebuah pernikahan? Apa pula alasannya? 

1. Menghemat Waktu

Dengan komunikasi suami istri yang baik, kita bisa saling belajar sehingga jika terdapat kesalahan, maka tidak akan mengulang kesalahan yang sama di masa depan.

2. Baik untuk Kesehatan

Alasan lain pentingnya komunikasi dengan suami ialah komunikasi yang baik dalam pernikahan bisa mengurangi stres, lho. Sebab, kita bisa mengurangi ketegangan dengan pasangan dan memberitahu masalah apapun pada pasangan.

Misalnya masalah pekerjaan, persahabatan, atau lingkungan. Dengan begitu, kita bisa memiliki seseorang yang sangat dipercaya dan bisa diceritakan apa saja tentang kehidupan.
 

3. Konsentrasi pada hal lain

Jika tidak bisa atau tidak mau mengutarakan pendapat langsung saat berdiskusi, tentu saja pemikiran tersebut akan terus mengganjal, sehingga kita tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan hal-hal lain.
Sepanjang hari kita akan dihantui perasaan itu dan terus berpikir, bisa jadi akan muncul perdebatan lagi.
 

4. Mengenal diri sendiri

Dilansir dari For Your Marriage (parenting.orami.co.id), manfaat komunikasi antara suami istri adalah bisa lebih mengenal diri sendiri.
Dengan berkomunikasi, kita seperti “dipaksa” untuk mendefinisikan perasaan sedetail mungkin, sehingga bisa mengutarakan semua isi hati. 
 

5. Membangun Rasa Percaya

Alasan lainnya tentunya untuk membangun rasa percaya satu sama lain. Menghindari komunikasi sama saja susahnya dengan berkomunikasi, kan?

Pemikiran ini sangat salah, karena dengan menghindari komunikasi justru malah membuat pasangan jadi lebih tidak percaya dan tidak menghargai kita.

Menyediakan waktu dengan pasangan untuk saling berkomunikasi justru lebih membangun rasa percaya dan kemudahan di kemudian hari.

Bagaimana caranya?

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah dua individu yang berbeda dan terima hal itu. 

Pasangan kita dilahirkan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita. FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai yang dianut seseorang. 

Bisa berasal dari pendidikan ortu, buku bacaan, pergaulan, indoktrinasi dan lain-lain. FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang. 

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya. Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda. 

Komunikasi dilakukan untuk membagikan yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula sebaliknya.

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan. 

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi memaksa kan pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Kaidah Komunikasi Produktif dengan Suami

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi kita dengan suami.

1. Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin disampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami oleh suami. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. Berikan kesempatan kepada suami untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
 

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Kita yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada suami waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan kita, suasana yang diinginkannya, dan sebagainya.
 

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata- kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. 

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Bila suami sudah mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun bila matanya kesana-kemari tak berani menatap kita, nada bicaranya pun mengambang, maka pesan apa yang bisa kita tangkap? 

Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih kita percayai? Demikian pula suami saat menilai pesan yang kita sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh kita.
 

4. Intensity of Eye Contact

Ada Pepatah yang mengatakan “mata adalah jendela hati”. Lalu apa maksudnya? Ketika kita berkomunikasi dengan suami, tataplah matanya dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa kita terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. 

Selain itu, dengan menatap matanya kita juga dapat mengetahui apakah suami jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
 

5. I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan. Jika si penerima pesan tak paham atau salah memahami, jangan salahkan dia, cari cara yang lain dan gunakanlah bahasa yang mudah dipahaminya. 

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar kita dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

Nah, itulah beberapa manfaat dan kiat-kiat membangun komunikasi produktif dengan suami. Apakah kamu, iya kamu yang membaca postingan ini tertantang untuk mencobanya? Aku sudah sering kali lho menerapkan kelima kaidah tersebut di atas dan hasilnya tujuanku pun tercapai. 

Jika ingin hubunganmu dengan suami semakin mesra plus bonus tujuan/maksudmu tercapai, maka jadilah komunikator produktif untuk suamimu. Selamat mencoba!

Referensi:
Materi IIP 
parenting.orami.co.id
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter