Time is flying fast, rasanya baru kemarin aku menggendongmu, Nak. Kini kamu sudah beranjak remaja. Usiamu sekarang sudah menginjak 14 tahun.
Dulu, tangan kecilmu selalu menggenggam jemariku ke mana pun kita pergi. Suaramu masih cadel saat memanggil “Mama”. Bahkan tidur pun maunya masih memelukku.
Sekarang semuanya perlahan berubah.
Tubuhmu mulai bertambah tinggi. Cara berpikirmu mulai berbeda. Kadang kamu ingin didengarkan seperti orang dewasa, meski sesekali masih bersikap seperti anak kecil.
Dan diam-diam, sebagai ibu, aku mulai belajar satu hal:
bahwa membesarkan anak laki-laki ternyata bukan hanya tentang memastikan dia tumbuh sehat dan pintar.
bahwa membesarkan anak laki-laki ternyata bukan hanya tentang memastikan dia tumbuh sehat dan pintar.
Lebih dari itu, aku ingin kamu tumbuh menjadi laki-laki yang punya hati.
Karena dunia hari ini tidak kekurangan laki-laki pintar. Dunia juga tidak kekurangan laki-laki yang hebat berbicara. Tapi dunia masih sangat membutuhkan laki-laki yang tahu cara menghargai orang lain, mengendalikan emosi, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya, semakin kamu tumbuh besar, semakin banyak hal kecil yang ingin aku ajarkan padamu.
Hal-hal sederhana yang mungkin terlihat sepele, tetapi diam-diam akan membentuk siapa dirimu di masa depan nanti.
Menghargai Perempuan Itu Penting
Nak, suatu hari nanti kamu akan bertemu banyak perempuan dalam hidupmu.
Mungkin teman sekolah, rekan kerja, pasangan hidup, atau bahkan seorang anak perempuan yang memanggilmu “Ayah”.
Karena itu, aku ingin kamu belajar menghargai perempuan sejak sekarang.
Bukan hanya dengan kata-kata manis, tetapi lewat sikap sederhana sehari-hari.
Cara berbicara yang sopan. Tidak merendahkan perempuan. Tidak menjadikan perempuan bahan candaan. Tidak merasa lebih tinggi hanya karena kamu laki-laki.
Aku ingin kamu tahu bahwa perempuan juga manusia yang harus dihargai perasaannya.
Karena laki-laki yang benar-benar hebat bukanlah mereka yang ditakuti perempuan, tetapi mereka yang mampu membuat perempuan merasa aman dan dihormati.
Anak Laki-Laki Juga Punya Perasaan
Ada satu hal yang sering membuatku sedih.
Masih banyak anak laki-laki yang tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat kuat.
“Cowok nggak boleh nangis.”
“Laki-laki nggak boleh cengeng.”
“Harus kuat.”
“Laki-laki nggak boleh cengeng.”
“Harus kuat.”
Padahal kenyataannya, anak laki-laki juga punya hati yang bisa terluka.
Mereka juga bisa sedih, kecewa, takut, bahkan merasa sendirian.
Aku tidak ingin kamu tumbuh menjadi laki-laki yang memendam semuanya sendiri karena takut dianggap lemah.
Kalau ingin menangis, menangislah.
Kalau sedang sedih, ceritalah.
Kalau sedang sedih, ceritalah.
Sebab keberanian bukan tentang siapa yang paling pandai menyembunyikan perasaan. Tetapi siapa yang mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan baik.
Belajar Bertanggung Jawab dari Hal Kecil
Mungkin kamu sering merasa Mama cerewet karena terus mengingatkan:
“Handuknya digantung, ya!”
“Piring kotornya taruh di dishwasher, ya!”
“Sepatunya jangan ditinggal sembarangan, ya!”
“Sepatunya jangan ditinggal sembarangan, ya!”
Tapi percayalah, Nak. Mama bukan sedang mengomel tanpa alasan.
Karena tanggung jawab itu tidak muncul tiba-tiba saat seseorang dewasa.
Ia dibentuk dari kebiasaan kecil setiap hari.
Dari hal sederhana seperti membereskan tempat tidur sendiri, meletakkan barang pada tempatnya, hingga membersihkan apa yang kita pakai.
Aku ingin kamu tumbuh menjadi laki-laki yang sadar bahwa rumah bukan hotel, dan ibu bukan pembantu yang harus membereskan semuanya.
Kelak, ketika kamu hidup mandiri, kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang akan menolongmu.
Anak Laki-laki Juga Harus Bisa Pekerjaan Rumah
Ada pola pikir lama yang masih sering dipercaya:
bahwa pekerjaan rumah adalah tugas perempuan.
bahwa pekerjaan rumah adalah tugas perempuan.
Padahal menurutku, semua orang yang tinggal di rumah harus ikut menjaga rumah itu bersama-sama.
Karena itu, meski ada dishwasher, aku ingin kamu tahu cara mencuci piring, menyapu, melipat baju, bahkan memasak sederhana.
Bukan karena Mama ingin membuatmu repot.
Tetapi karena aku ingin kamu tumbuh menjadi laki-laki yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain untuk hal-hal dasar dalam hidup.
Percayalah, laki-laki yang ringan tangan membantu pekerjaan rumah akan jauh lebih dihargai daripada laki-laki yang hanya bisa memerintah.
Belajar Mengontrol Emosi
Nak, hidup tidak akan selalu berjalan sesuai keinginanmu.
Akan ada hari ketika kamu kecewa.
Ada orang yang membuatmu marah.
Ada keadaan yang membuatmu frustrasi.
Ada orang yang membuatmu marah.
Ada keadaan yang membuatmu frustrasi.
Tetapi satu hal yang penting:
jangan pernah melampiaskan emosi dengan menyakiti orang lain.
jangan pernah melampiaskan emosi dengan menyakiti orang lain.
Marah itu wajar. Namun cara kita menghadapi kemarahan adalah pilihan.
Aku ingin kamu belajar menenangkan diri, berbicara baik-baik, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Karena laki-laki yang mampu mengontrol emosinya jauh lebih kuat daripada laki-laki yang mudah meledak-ledak.
Berani Mengakui Kesalahan
Tidak ada manusia yang selalu benar.
Mama pun masih sering salah.
Karena itu, jangan takut mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Tidak perlu gengsi hanya demi terlihat hebat.
Sebab meminta maaf bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda bahwa seseorang cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas sikapnya sendiri.
Kelak, orang akan lebih menghargai laki-laki yang jujur mengakui kesalahannya dibanding laki-laki yang terus mencari pembenaran.
Jadilah Laki-Laki yang Punya Empati
Di luar sana mungkin banyak orang berlomba menjadi paling sukses, paling kaya, atau paling terkenal.
Tapi Mama berharap kamu tidak kehilangan satu hal penting:
empati.
empati.
Belajarlah menghargai orang lain.
Bersikap baik kepada pelayan restoran.
Bersikap baik kepada pelayan restoran.
Mengucapkan terima kasih kepada petugas kebersihan.
Tidak meremehkan orang yang hidupnya berbeda denganmu.
Karena cara seseorang memperlakukan orang lain sering kali menunjukkan kualitas hatinya.
Karena Dunia Butuh Laki-Laki yang Punya Hati
Nak, Mama tahu suatu hari nanti kamu akan tumbuh dewasa dan punya kehidupanmu sendiri.
Mungkin nanti kamu akan sibuk dengan pekerjaan, keluarga, dan dunia yang jauh lebih luas daripada rumah ini.
Mama juga sadar, Mama tidak akan selalu bisa berjalan di sampingmu.
Tetapi Mama berharap, semua hal kecil yang diajarkan hari ini akan tetap tinggal di hatimu.
Bahwa menjadi laki-laki bukan cuma soal terlihat kuat.
Bukan cuma soal pintar mencari uang.
Bukan juga soal siapa yang paling ditakuti.
Bukan juga soal siapa yang paling ditakuti.
Tetapi tentang bagaimana kamu memperlakukan orang lain, menjaga sikapmu, dan tetap punya hati yang lembut meski dunia sering kali keras.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan laki-laki pintar.
Dunia membutuhkan laki-laki baik.
Dan semoga, kelak kamu tumbuh menjadi salah satunya.
Dan semoga, kelak kamu tumbuh menjadi salah satunya.






bak April, putra kita seumuran. Rasanya kadang seperti mimpi melihat tumbuh kembang anak begitu cepat. Tau-tau sekarang menjelma menjadi sosok remaja. Doa saya sama seperti Mbak April, mudah-mudahan anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi sosok laki-laki yang memiliki kecerdasan bagus, tetapi juga mempunyai hati yang baik dan bertanggung jawab. Aamiin
ReplyDeleteMasyaallah, ini jadi reminder bagi saya sebagai ibu yang juga punya anak lelaki. Umurnya baru enam tahun, tetapi suami selalu mengingatkan perlu ada perbedaan perlakuan padanya dan kakak perempuannya. Bagaimana pun lelaki seorang imam, jadi tanggung jawab yang melekat pada dirinya pun berbeda. Dan, penanaman karakter itu tidak akan jadi dalam satu malam.
ReplyDeleteTerharu rasanya pas sadar anak-anak kita sudah tumbuh dewasa. Perasaan baru kemarin dilahirkan, tau-tau udah gede aja....waktu emang terasa cepet yaaa. Dan emang bener kalau pekerjaan rumah juga harus diajarkan ke anak laki-laki, biar dia tahu caranya survive dan berkolaborasi dengan istri nantinya.
ReplyDeleteso sweet artikelnya mbak, serasa bicara dengan anak laki-laki ya, sepakat banget dengan apa yang mbak sampaikan, lelaki juga punya perasaan dan hati. Lelaki yang baik bukan yang sok gagah, sok benar kan, tetapi yang bisa menghargai yang lain termasuk wanita dan bisa melindungi yang lemah
ReplyDeleteSetuju banget, Mbak. Apalagi aku punya dua anak laki-laki yang dibesarkan di tengah budaya patriarki. Lumayan banget tantangannya. Saat anak lelakiku diajarkan mencuci piringnya sendiri, aku yang kena marah sama mertua. Hahaha
ReplyDeleteSuka waktu baca bagian bahwa dunia tidak hanya membutuhkan laki-laki pintar tapi butuh laki-laki baik. Jd pengingat juga kalau kita sebagai orang tua, bukan hanya mendidik kognitif tapi juga mental dan hati anak-anak kita
ReplyDeleteBetul sekali. Beberes rumah itu laki² juga harus bisa karena membersihkan rumah adalah life skill bukan keahlian berbatas gender
ReplyDelete