Minggu kemarin, kami berada di satu fase yang tak pernah benar-benar siap dihadapi siapa pun.
Ada rasa takut yang tidak bisa dihindari, ada tanggung jawab yang terasa berat, dan ada kepercayaan yang harus diberikan sepenuhnya.
Di momen itu, aku sadar bahwa mencintai tidak selalu tentang menjaga agar tetap dekat. Kadang, mencintai justru tentang berani melepas, meski dengan hati yang gemetar.
Hari itu, Aqmar disunat.
Bagi orang dewasa, ini mungkin terdengar seperti prosedur medis yang biasa. Namun bagi seorang anak, ini adalah pengalaman pertama yang penuh tanda tanya, ketakutan, dan rasa tidak nyaman.
Aqmar takut.
Takut yang nyata, bukan dibuat-buat. Ia tahu sesuatu akan dilakukan pada tubuhnya, tapi belum sepenuhnya paham seperti apa rasanya.
Takut yang nyata, bukan dibuat-buat. Ia tahu sesuatu akan dilakukan pada tubuhnya, tapi belum sepenuhnya paham seperti apa rasanya.
Matanya lebih sering menatap kami, tangannya menggenggam lebih erat, seolah mencari pegangan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Di momen seperti ini, orang tua sering berada di persimpangan: ingin terlihat kuat, tapi juga tak bisa menutup rasa cemas di dalam hati.
Sunat di Qatar: Prosedur yang Aman, Pengalaman yang Mengguncang
Di Qatar, sunat dilakukan di kamar operasi dengan standar medis yang sangat ketat. Aqmar ditangani oleh sekitar sepuluh tenaga medis, dokter dan perawat yang profesional, sigap, dan terlatih.
Dari sisi medis, aku merasa tenang. Sistemnya rapi, prosedurnya jelas, dan keamanannya terjamin. Namun dari sudut pandang seorang anak, semua itu terasa besar dan menakutkan. Ruangan yang dingin, bau antiseptik, alat-alat medis, serta orang-orang asing berseragam membuat suasana terasa asing baginya.
Di titik ini aku belajar satu hal: aman secara medis tidak selalu berarti aman secara emosional, terutama bagi anak.
Menguatkan Anak Tanpa Mengecilkan Perasaannya
Aku tidak mengatakan, “Ah, ini nggak apa-apa.”
Aku juga tidak berkata, “Jangan takut.”
Aku juga tidak berkata, “Jangan takut.”
Karena rasa takut tidak bisa dihapus dengan kalimat singkat.
Yang aku lakukan adalah mengakui perasaannya. Aku bilang bahwa takut itu wajar, bahwa semua laki-laki mengalaminya, termasuk ayahnya.
Aku ingin Aqmar tahu bahwa perasaannya valid. Bahwa rasa takut tidak membuatnya lemah. Bahwa berani bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melangkah meski takut.
Saat Orang Tua Juga Harus Belajar Tenang
Di balik usaha menenangkan Aqmar, aku pun sedang menenangkan diriku sendiri.
Parenting sering kali membuat kita berhadapan dengan ketakutan yang tidak pernah kita sadari sebelumnya: takut anak kesakitan, takut salah mengambil keputusan, takut jika kita tidak cukup kuat menjadi sandaran.
Namun hari itu aku menyadari, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir sepenuhnya.
Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir sepenuhnya.
Hadir untuk mendengar.
Hadir untuk memeluk.
Hadir untuk menenangkan, meski di dalam hati sendiri masih ada gelombang cemas yang harus ditata.
Hadir untuk memeluk.
Hadir untuk menenangkan, meski di dalam hati sendiri masih ada gelombang cemas yang harus ditata.
Melepas dengan Senyum dan Doa
Saat Aqmar masuk ke ruang operasi, aku melepasnya dengan senyum yang sengaja kujaga tetap tenang. Bukan karena aku tidak khawatir, tetapi karena aku ingin ia membawa ketenangan itu bersamanya.
Anak sering kali “meminjam” keberanian dari orang tuanya.
Dan hari itu, aku ingin Aqmar meminjam keberanianku.
Dan hari itu, aku ingin Aqmar meminjam keberanianku.
Aku percaya, dalam banyak situasi, ketenangan orang tua adalah bahasa paling kuat yang bisa dirasakan anak, bahkan tanpa kata.
Pelajaran Kecil dari Hari yang Besar
Alhamdulillah, prosesnya berjalan lancar. Aqmar baik-baik saja.
Saat ia kembali, wajahnya terlihat lelah, namun matanya masih mencari kami. Aku mengelus rambutnya, memeluknya pelan, dan mengatakan bahwa ia sudah melakukan hal yang sangat hebat.
Saat ia kembali, wajahnya terlihat lelah, namun matanya masih mencari kami. Aku mengelus rambutnya, memeluknya pelan, dan mengatakan bahwa ia sudah melakukan hal yang sangat hebat.
Hari itu, Aqmar belajar tentang keberanian.
Dan aku belajar bahwa parenting sering kali hadir dalam hal-hal sederhana: menemani anak saat takut, menahan cemas agar anak merasa aman, dan membiarkan anak merasa tanpa menghakimi.
Tentang Menjadi Sandaran
Menjadi orang tua bukan berarti selalu kuat.
Namun berarti selalu berusaha tetap tenang agar anak merasa aman.
Kadang, yang anak butuhkan bukan jawaban panjang atau janji besar. Cukup satu kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan dan cinta:
“Keep calm, Honey. Everything will be okay.”
Kalimat sederhana itu mungkin akan berlalu dari ingatan kita.
Namun bagi anak, ia bisa menjadi kenangan tentang rasa aman, tentang momen ketika ia takut, tapi tidak sendirian.
Namun bagi anak, ia bisa menjadi kenangan tentang rasa aman, tentang momen ketika ia takut, tapi tidak sendirian.







Post a Comment