Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang merasa harus selalu punya pendapat.
Di meja makan, di grup WhatsApp keluarga, di kolom komentar media sosial, rasanya diam justru dianggap kalah.
Padahal, semakin dewasa, aku justru belajar satu hal yang sederhana tapi sulit: tahu diri saja tidak cukup, kita juga perlu tahu batas.
Konsep ini aku temui dalam videonya Abdi Suardin. Bukan dalam bentuk teori yang rumit, melainkan melalui kalimat-kalimat singkat yang menampar kesadaran: tidak semua yang kita tahu perlu diucapkan, dan tidak semua yang ingin kita sampaikan perlu didengar orang lain.
Ketika “Tahu” Menjadi Masalah
Banyak konflik lahir bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena merasa paling tahu.
Merasa pendapat kita paling benar.
Merasa pengalaman kita paling sah.
Merasa pendapat kita paling benar.
Merasa pengalaman kita paling sah.
Abdi Suardin kerap menyinggung satu hal penting: orang yang benar-benar berilmu justru tahu seberapa luas ketidaktahuannya. Sebaliknya, orang yang baru tahu sedikit sering kali paling berisik.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini terasa sangat dekat.
Seseorang yang baru membaca satu artikel kesehatan, lalu menggurui semua orang.
Seseorang yang menonton satu video parenting, lalu merasa paling paham cara mendidik anak.
Seseorang yang menonton satu video parenting, lalu merasa paling paham cara mendidik anak.
Di titik ini, “tahu” berubah menjadi ego.
Tahu Diri: Kesadaran yang Menyelamatkan
Tahu diri bukan berarti merendahkan diri. Ia justru lahir dari kesadaran yang jujur: tentang siapa kita, sejauh apa kapasitas kita, dan di mana posisi kita dalam suatu situasi.
Tahu diri membuat kita bertanya sebelum berbicara:
Apakah pendapat saya dibutuhkan?
Apakah ini akan membantu, atau justru melukai?
Apakah ini akan membantu, atau justru melukai?
Kesadaran semacam ini sering kali tidak instan. Ia tumbuh dari pengalaman, dari salah paham, dari konflik yang melelahkan, dan dari rasa ingin dipahami yang tak selalu terpenuhi.
Tahu Batas: Kecerdasan yang Lebih Tinggi
“Tahu batas” bukan berarti minder atau tidak percaya diri.
Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kedewasaan emosional.
Dalam beberapa videonya, Abdi Suardin menekankan pentingnya disiplin berbicara dan disiplin diam. Dua hal yang tidak pernah diajarkan secara formal di sekolah, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang.
Tahu batas berarti:
- Menyadari kapan pendapat kita dibutuhkan, dan kapan hanya akan memperkeruh suasana
- Memahami bahwa tidak semua diskusi harus dimenangkan
- Berani mengakui, “Saya belum tahu” tanpa merasa harga diri runtuh
Tidak Semua Hal Perlu Ditanggapi
Salah satu pesan Abdi Suardin yang cukup kuat adalah tentang tidak semua hal berada dalam kendali kita, termasuk:
- Pendapat orang lain
- Cara orang menilai kita
- Persepsi yang sudah terbentuk di kepala mereka
Banyak orang lelah bukan karena masalahnya berat, tetapi karena terlalu sibuk merespons hal-hal yang seharusnya dilepaskan.
Tahu batas membantu kita memilih:
- mana yang perlu direspons,
- mana yang cukup disadari,
- dan mana yang sebaiknya diabaikan.
Karena energi kita terbatas. Dan tidak semuanya layak dihabiskan.
Tahu Batas dalam Relasi Sosial
Dalam hubungan apa pun, keluarga, pertemanan, pasangan, konsep tahu batas sangat krusial.
Ada kalanya niat “ingin membantu” justru berubah menjadi intervensi yang melelahkan.
Ada saat di mana kejujuran tanpa empati hanya melukai.
Abdi Suardin sering mengingatkan bahwa bijak bukan soal seberapa pintar kita berbicara, tetapi seberapa mampu kita menahan diri untuk tidak berbicara.
Mendengarkan, tanpa buru-buru memberi solusi, sering kali jauh lebih dibutuhkan daripada nasihat panjang lebar.
Media Sosial dan Ilusi Kepintaran
Di era digital, tahu diri dan tahu batas makin relevan.
Semua orang bisa bicara.
Semua orang bisa terlihat pintar.
Namun tidak semua orang bertanggung jawab dengan apa yang mereka ucapkan.
Banyak konflik digital terjadi karena orang lupa satu hal: kita tidak wajib berpendapat atas segalanya.
Scroll boleh.
Scroll boleh.
Lewat boleh.
Diam pun boleh.
Dan itu bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan bentuk perlindungan diri.
Tahu Batas adalah Bentuk Self-Respect
Mengetahui batas diri sendiri adalah bentuk penghormatan terhadap diri.
Kita tidak memaksakan diri untuk selalu benar.
Tidak memaksa orang lain untuk selalu setuju.
Kita tidak memaksakan diri untuk selalu benar.
Tidak memaksa orang lain untuk selalu setuju.
Dalam perspektif ini, tahu batas adalah bagian dari self-love.
Ia menjaga kita dari kelelahan mental.
Ia menyelamatkan kita dari konflik yang tidak perlu.
Dan yang terpenting, ia membantu kita bertumbuh, bukan hanya terlihat pintar.
Ia menjaga kita dari kelelahan mental.
Ia menyelamatkan kita dari konflik yang tidak perlu.
Dan yang terpenting, ia membantu kita bertumbuh, bukan hanya terlihat pintar.
Belajar Diam dengan Sadar
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, melainkan siapa yang paling tahu kapan harus bicara.
Tahu diri adalah bekal.
Tahu batas adalah kebijaksanaan.
Tahu batas adalah kebijaksanaan.
Seperti yang sering tersirat dalam pesan-pesan Abdi Suardin, hidup akan terasa lebih ringan ketika kita berhenti membuktikan diri, dan mulai memahami diri.
Karena tidak semua hal perlu dimenangkan.
Dan tidak semua hal perlu dijelaskan.
Kadang, cukup dimengerti.
Kadang, cukup dilepaskan.
Kadang, cukup dilepaskan.
Dan di situlah kedewasaan mulai tumbuh dalam diam yang penuh kesadaran.
Mungkin hari ini kita tidak perlu menambah jawaban.
Cukup menambah kesadaran.
Dari semua hal yang pernah kamu ketahui, adakah satu hal yang seharusnya kamu lepaskan; penilaian, ego, atau keinginan untuk selalu didengar?
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Semoga tulisan ini menemukanmu di waktu yang tepat saat tahu, dan saat memilih tahu diri serta tahu batas.
Have a nice day!







Post a Comment