Di era ketika hidup terasa semakin cepat dan bising, media sosial tidak hanya menjadi tempat ‘berbagi momen’, tetapi juga menjadi ruang bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri.
Salah satu tren yang mencuri perhatian belakangan ini adalah aura farming, sebuah istilah yang terdengar ringan, bahkan lucu, namun jika kita telusuri lebih dalam, tren ini punya hubungan erat dengan cara kita memandang diri, merawat perasaan, dan membangun kepercayaan diri.
Namun, apa sebenarnya yang membuat tren berbasis visual seperti ini begitu menarik? Dan bagaimana ia bisa menjadi sarana refleksi diri, bukan sekadar ajang pajang foto?
Artikel ini mencoba mengulas hal itu dengan lebih tenang, dan lebih dekat dengan keseharian kita.
Apa Itu Aura Farming?
Secara sederhana, aura farming adalah usaha untuk “memanen aura”, menampilkan sisi diri yang paling positif, paling menyenangkan dilihat, atau paling sesuai dengan vibe yang ingin kita pancarkan. Ini biasanya dilakukan melalui:
- angle foto yang pas,
- lighting yang lembut,
- outfit yang sesuai mood,
- gesture yang natural namun tetap cantik,
- hingga suasana ruangan yang estetik.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ia adalah “evolusi” dari tren glow up, clean girl aesthetic, soft girl era, sampai konsep “that girl” yang dulu booming. Tetapi aura farming berbeda karena fokusnya bukan hanya pada fisik, melainkan pada energi yang ingin ditampilkan, tenang, confident, elegan, atau hangat.
Menariknya, semakin banyak orang melakukan ini bukan untuk sekadar mengumpulkan likes, tetapi sebagai bagian dari perjalanan mereka memahami diri sendiri.
Mengapa Tren Visual Begitu Cepat Viral?
Ada beberapa alasan mengapa tren seperti aura farming mudah sekali menyebar dan disukai:
1. Manusia itu makhluk visual
Otak kita lebih cepat memproses gambar daripada tulisan. Melihat sesuatu yang cantik, rapi, atau aesthetic bisa memberi efek menenangkan secara instan.
2. Visual memengaruhi emosi
Satu foto atau video bisa membuat seseorang merasa:
- termotivasi,
- lebih bersemangat,
- mendapat ide baru,
- bahkan merasa “aku juga bisa kok seperti itu.”
Efek psikologis ini sangat kuat.
3. Kita ingin melihat versi ideal diri
Media sosial kadang seperti cermin, bukan untuk menunjukkan siapa kita sekarang, tapi siapa diri yang ingin kita capai.
Dan itu bukan hal yang buruk selama kita tetap realistis.
Bagaimana Aura Farming Bisa Jadi Sarana Refleksi Diri?
Banyak yang menilai tren-tren visual sebagai hal dangkal, tetapi jika digunakan secara bijak, justru ada ruang refleksi besar di dalamnya.
1. Visual membantu kita mengenali preferensi diri
Ketika kamu menyimpan foto kamar aesthetic, outfit minimalis, atau cahaya matahari yang masuk ke jendela, kamu sebenarnya sedang mengenali:
- apa yang membuatmu tenang,
- gaya hidup seperti apa yang kamu inginkan,
- warna apa yang paling cocok dengan energi dirimu.
Ini adalah bentuk kecil dari self-awareness.
2. Proses menata visual = proses menata hidup
Saat kamu:
- membereskan meja sebelum membuat video,
- merapikan rambut sebelum memotret diri,
- merapikan kamar sebelum memotret sudut tertentu,
- kamu sebenarnya sedang melatih dirimu untuk menciptakan ketenangan.
Kebiasaan kecil seperti ini berpengaruh besar pada suasana hati.
3. Ekspresi diri via visual mengurangi stres
Foto, video aesthetic, dan moodboard adalah bentuk seni. Dan seni selalu menjadi cara terbaik mengekspresikan emosi secara sederhana.
Bagi sebagian orang, memotret kopi pagi atau mengabadikan langit sore adalah ritual kecil untuk menjaga kewarasan.
4. Menampilkan diri ke kamera membantu menerima diri
Ketika kamu melihat hasil fotomu dan berkata:
“Ternyata aku tidak seburuk itu, ya.”
Itu adalah bentuk penerimaan diri yang lembut, pelan-pelan, namun nyata.
Aura Farming dan Kepercayaan Diri
Tren ini juga membantu membangun kepercayaan diri melalui cara yang tidak selalu disadari.
1. Melihat diri dari angle baru membantu membangun self-esteem
Sering kali kita terlalu fokus pada kekurangan. Namun, ketika kamera menangkap wajahmu di cahaya yang tepat, kamu mungkin menyadari:
- matamu ekspresif,
- senyummu manis,
- kulitmu terlihat sehat.
Ini bukan narsisme. Ini adalah cara untuk menghargai diri sendiri.
2. Konten visual melatih disiplin diri
Membuat konten aesthetic sering kali menuntut:
- kebersihan,
- ketertiban,
- ketelatenan,
- dan konsistensi.
Semua ini, tanpa kita sadari membentuk karakter dan kepercayaan diri.
3. Noise internal berkurang ketika kamu berani tampil
Ketika kamu berani mengunggah foto atau video, kamu sedang menantang suara hati yang sering berkata:
“Aku nggak cantik.”
“Aku nggak layak dilihat.”
“Aku nggak sebaik orang lain.”
Dan setiap kali kamu melakukannya, kamu sedang membangun keberanian baru.
4. Dukungan kecil dari komunitas digital bisa sangat berarti
Komentar sederhana seperti:
“Cantik banget!”
“Suka vibemu.”
“Natural banget.”
Memang bukan tujuan utama, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa dukungan kecil ini memberikan efek positif pada mood dan kepercayaan diri.
Bagaimana Menjadikan Tren Ini Tetap Sehat?
Agar tren visual seperti aura farming memberi manfaat, bukan tekanan, kita perlu menjaga keseimbangan.
1. Lakukan untuk dirimu sendiri, bukan untuk validasi.
Ketika tujuanmu adalah merawat diri, konten akan terasa ringan.
2. Tidak perlu membandingkan diri.
Ingat: orang lain hanya menampilkan highlight hidupnya.
3. Gunakan visual sebagai alat refleksi, bukan standar hidup.
Rumahmu tidak harus aesthetic setiap hari. Kamu juga tidak harus tampil sempurna setiap waktu.4. Tetap otentik.
Aesthetic boleh, tapi jati diri tetap nomor satu.Kesimpulan
Aura farming mungkin terlihat sebagai tren sederhana, tetapi ia sebenarnya membuka peluang refleksi yang dalam. Melalui visual, kita bisa:
- mengenali diri,
- merawat emosi,
- membereskan sudut hati yang berantakan,
- dan membangun rasa percaya diri secara perlahan.
Karena pada akhirnya, aura terbaik bukan yang paling aesthetic, tetapi yang paling jujur dan paling damai.
Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!







Post a Comment