aprilhatni.com

Fenomena Flexing: Ketika Gaya Hidup Mewah Menjadi Tren Media Sosial

27 comments
fenomena flexing
Di era digital yang serba canggih seperti saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok memungkinkan pengguna untuk berbagi momen kehidupan mereka dengan mudah.

Namun, di balik kemudahan berbagi tersebut, muncul fenomena yang semakin populer, yaitu "flexing". Flexing merujuk pada tindakan memamerkan kekayaan atau gaya hidup mewah di media sosial.

Istilah "flexing" beberapa tahun terakhir telah menjadi fenomena yang semakin mencolok, terutama di kalangan pengguna media sosial. 

Pada awalnya digunakan dalam konteks olahraga untuk menunjukkan otot atau kekuatan, namun istilah ini telah berevolusi dan merujuk pada tindakan memamerkan kekayaan, gaya hidup mewah, atau pencapaian pribadi dengan tujuan untuk mengesankan orang lain. 

Ingin mengetahui lebih dalam tentang flexing? Artikel ini akan membahas fenomena flexing, alasan di balik popularitasnya, dampaknya pada masyarakat, serta cara-cara menghadapinya. 

Apa itu Flexing?

Flexing berasal dari bahasa Inggris "to flex" yang berarti "membengkokkan" atau "menunjukkan kekuatan". Dalam konteks media sosial, flexing berarti memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup mewah dengan tujuan untuk mengesankan atau membuat orang lain iri.

Fenomena ini bukanlah hal baru, namun dengan kemajuan teknologi dan media sosial, flexing menjadi lebih mudah dan lebih terlihat oleh khalayak luas.
flexing adalah
Flexing
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup mewah, terutama di media sosial. Tujuannya adalah untuk memberi kesan atau membuat orang lain merasa iri.

Dalam konteks ini, seseorang mungkin memposting foto-foto liburan mewah, mobil mahal, pakaian desainer, atau barang-barang berharga lainnya dengan harapan mendapatkan pujian dan validasi dari followers mereka.

Fenomena ini telah menjadi semakin umum seiring dengan meningkatnya popularitas platform media sosial, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi dan menampilkan aspek-aspek terbaik dari kehidupan mereka kepada audiens yang luas.

Mengapa Flexing Menjadi Populer?

Fenomena flexing menjadi semakin populer di era digital, terutama dengan adanya platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Flexing, atau tindakan memamerkan kekayaan, gaya hidup mewah, dan pencapaian pribadi, telah menarik perhatian banyak orang. Ada beberapa alasan mengapa tren ini semakin merajalela:

sebab terjadinya fenomena flexing

1. Pengaruh Media Sosial

Media sosial memberikan panggung bagi individu untuk menunjukkan kehidupan mereka. Dengan jutaan pengguna yang dapat melihat dan menyukai postingan, dorongan untuk memamerkan sesuatu yang luar biasa menjadi sangat kuat. Algoritma media sosial yang mendukung konten viral juga berperan dalam meningkatkan popularitas flexing.

2. Penguatan Sosial

Mendapatkan "likes", komentar positif, dan follower baru memberikan rasa kepuasan dan validasi sosial. Hal ini mendorong individu untuk terus memposting konten yang memamerkan gaya hidup mereka agar terus mendapatkan perhatian.

3. Budaya Konsumerisme

Budaya modern sering kali mengukur kesuksesan berdasarkan materi yang dimiliki seseorang. Memiliki barang mewah, mobil mahal, atau liburan eksotis dianggap sebagai tanda keberhasilan dan status sosial yang tinggi.

4. Pengaruh Selebriti dan Influencer

Banyak selebriti dan influencer yang memamerkan gaya hidup mewah mereka di media sosial. Follower mereka sering kali terinspirasi atau bahkan tertekan untuk mengikuti jejak mereka, sehingga dapat menciptakan siklus flexing yang terus berlanjut.

Dampak Flexing pada Masyarakat

Fenomena flexing di media sosial memiliki berbagai dampak signifikan bagi masyarakat, baik secara psikologis maupun sosial. Berikut adalah beberapa dampak utama dari tren flexing:

1. Perbandingan Sosial dan Kesehatan Mental

Melihat orang lain yang selalu memamerkan hal-hal mewah dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman dan rendah diri. Perbandingan sosial ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, menyebabkan kecemasan, depresi, dan perasaan tidak puas dengan kehidupan sendiri.

2. Tekanan Finansial

Beberapa orang mungkin merasa terdorong untuk hidup di luar kemampuan mereka demi mengikuti tren flexing. Hal ini dapat mengarah pada pengeluaran berlebihan, utang, dan masalah keuangan yang serius.

3. Pencitraan Palsu

Banyak orang yang hanya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan mereka di media sosial, sering kali mengaburkan realitas sebenarnya. Hal ini menciptakan ilusi bahwa semua orang hidup dalam kemewahan, padahal kenyataannya tidak demikian.

4. Erosi Nilai dan Etika

Fokus yang berlebihan pada materi dan kemewahan dapat mengikis nilai-nilai penting seperti kerendahan hati, kejujuran, dan kerja keras. Ini juga dapat mendorong budaya yang menghargai penampilan luar daripada kualitas internal seseorang.

Mengatasi Fenomena atau Tren Flexing

Mengatasi tren flexing memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan emosional yang mendorong perilaku ini, serta strategi praktis untuk menjaga keseimbangan dalam penggunaan media sosial. Berikut adalah beberapa cara efektif untuk mengatasi fenomenat flexing:

1. Membangun Kesadaran Diri

Penting untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan sering kali bukan representasi yang akurat. 

Orang cenderung membagikan momen terbaik mereka, sehingga membandingkan diri dengan gambaran ideal ini bisa sangat merugikan diri sendiri. Memahami hal ini dapat membantu mengurangi perasaan tidak puas dan rendah diri.

2. Mengatur Waktu di Media Sosial

Mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial dapat mengurangi paparan terhadap konten flexing. Tetapkan batasan waktu harian atau mingguan untuk penggunaan media sosial dan gunakan waktu tersebut dengan bijak, misalnya untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga atau mencari informasi yang bermanfaat.

cara menghindari fenomena flexing
3. Fokus pada Hal yang Penting

Mengalihkan perhatian dari materi ke pengalaman dan hubungan yang bermakna dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Menghargai momen sederhana bersama keluarga dan teman, serta mengejar aktivitas yang memberikan kebahagiaan dan kepuasan sejati, dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk memamerkan kekayaan atau pencapaian.

4. Berbagi dengan Jujur

Ketika kita memutuskan untuk berbagi momen di media sosial, berusahalah untuk melakukannya dengan jujur.

Menunjukkan sisi nyata dari kehidupan kita, termasuk tantangan dan kegagalan, dapat membantu meredakan tren flexing dan membangun koneksi yang lebih kuat dengan followers kita.

5. Bijak Menjadi Follower

Perlu untuk memilih, memilah, dan mengikuti akun yang memberikan dampak positif pada diri kita. Hindari mengikuti akun-akun yang terlalu fokus pada kekayaan materi atau gaya hidup glamor, dan sebaliknya, carilah akun-akun yang menginspirasi, mendukung, dan mendorong pertumbuhan pribadi.

Mengatasi fenomena flexing bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan kesadaran diri dan strategi yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup, dan jangan biarkan tekanan sosial mendikte kebahagiaan dan kesejahteraan Anda.

Kesimpulan

Fenomena flexing di media sosial mencerminkan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan dan validasi dari orang lain. Meskipun tampak tidak berbahaya, flexing memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental, nilai-nilai sosial, dan kesejahteraan finansial individu.

Dengan membangun kesadaran diri, mengatur penggunaan media sosial, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, kita dapat mengatasi tekanan flexing dan menjalani kehidupan yang lebih autentik dan memuaskan. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk menghubungkan dan menginspirasi, bukan sarana untuk membandingkan dan merasa tidak cukup.

Semoga bermanfaat, ya!
Thank You and Have a Nice Day!
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak, sekarang berdomisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Desain, Parenting, dan Psikologi.

Related Posts

27 comments

  1. Pada akhirnya malah flexing merugikan dirinya sendiri bahkan keluarganya. Beberapa waktu lalu adakan ya berita. Istrinya yang flexing, eh suaminya diperiksa.

    Sudah deh lebih baik hidup apa adanya dan jangan pamer. Iya kan mbak?

    ReplyDelete
  2. Beberapa orang mungkin melakukannya untuk mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Yang lain mungkin menggunakannya untuk mencoba meningkatkan status sosial mereka atau membuat diri mereka tampak lebih sukses daripada yang sebenarnya. Apa pun alasannya, flexing dapat memiliki dampak negatif pada individu dan masyarakat secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  3. Wah iya, ini merupakan salah satu fenomena sosial yang mudah banget ditemukan ya. Entah itu pemilik skincare, artis, OKB, hingga old money, sepertinya sekarang makin banyak yang membuat konten flexing di media sosial!

    ReplyDelete
  4. Kudu bijak sih milih akun yang mau difollow. Kadang mikir juga kalo orang punya harta beneran biasanya nggak akan dipamerin. Takut diincar penjahat kan? Pernah tuh ada kasus pembunuhan akibat hobi pamer duit di media sosial. Dan pelakunya justru masih kerabat terdekatnya..Ya jatuhnya jadi bikin orang iri dan berniat jahat.

    ReplyDelete
  5. Flexing ini memang kadang iri. Karena pastinya orang juga pengin seperti itu. Namun banyak juga yang terjebak. Pergi liburan, tapi pinjam uang dulu. Jadi kita memang harus bijak dan tahan diri juga. Jangan sampai terjebak ikut-ikutan hanya sekadar ingin mendapatkan pengakuan.

    ReplyDelete
  6. Kalau lupa waktu scroll medsos dan liatin mereka pada flexing, bisa-bisa kita kena penyakit iri hati karena ingin seperti mereka. So, memang penting ya menggunakan medsos dengan sangat bijak

    ReplyDelete
  7. Dari berbagai macam konten, kita juga bisa menilai mana yang sekedar membagikan momen dan mana yang flexing, kalau udah mengarah flexing biasanya aku skip aja bahkan aku unfollow. Daripada nanti jadi membandingkan pencapaian, lebih baik hidup minim drama 😄

    ReplyDelete
  8. Aku jadi takut sekarang kalau mau menampilkan sesuatu di sosial media.
    Walaupun di wa story juga jadi hati-hati sekali. Karena bukannya takut ovt, tapi lebih ke menjaga potensi dilihat oleh orang lain yang save nomerku. Hihihi.. sama aja ujung-ujungnya ya..
    Kalau uda lama membiasakan... gak apa-apa dipasang ke story, jadi detox sendiri.

    ReplyDelete
  9. Pengaruh media sosial dampaknya memang luar biasa ya kak. Sehingga ketika ada yang viral macam flexing begitu kudu hati². Gak semua yang viral untuk diikutin

    ReplyDelete
  10. molly suka jadi korban orang flexing nih. kayaknya orang2 sosmed tuh bahagia semua ya, kaya banget hidupnya. suka minder sendiri.

    ReplyDelete
  11. Poin kesadaran diri sih paling utama, setelahnya yg lain pasti ngikut. Harus bisa lebih bijak juga pake medsos.

    ReplyDelete
  12. Agar tidak terpengaruh flexing, semua kembali kepada diri sendiri. Bersyukur saya nyaris tak ada waktu buat scrolling medsos, sehingga fenomena yang sering muncul di sana tidak begitu mengganggu saya.

    ReplyDelete
  13. Wah iya ini dulu sampai kalo ngga salah ada persewaan barang-barang branded buar foto ya biar kelihatan kaya atau buat branding kalo bisnis yang dia lakukan itu sukses

    ReplyDelete
  14. Mengurangi waktu berselancar di media sosial, termasuk bijak menjadi follower ini sih yang rasanya ngena banget biar nggak gampang terpengaruh sama sosok yang tengah flexing alias pamer di media sosial. Kalau diperhatikan secara saksama, jadinya memang membuat hidup makin konsumtif.

    ReplyDelete
  15. Kita memang harus sadar dan bijak dalam bermedia sosial. Kalau udah mulai merasa ada dampak negatif ada baiknya untuk puas sosial media atau unfollow akun akun yang membuat kita merasa terganggu

    ReplyDelete
  16. Ga flexing, ga populer. Begitulah kewajiban kita saat di medsos. Pasti smua banjir flexing demi memperoleh atensi.

    Apalagi notabene masyarakat kita yg senang kemewahan. Dikasih kemewahan dikit, ya pasti pgn ikutan lah. Pdhl utk mencapai itu, butuh effirt luar biasa. Dan itu yg ga ditampakkan di medsos.

    ReplyDelete
  17. Suka kasihan kalau melihat siapa aja yg jorjoran demi terlihat lifestyle nya keren. Padahal menurut saya semakin ia memperlihatkan justru ia semakin sakit.
    Hidup apa adanya aja ya... Bijak bermedia sosial dan bijak dalam menyikapi kehidupan

    ReplyDelete
  18. Ternyata makin banyak aja yaa orang yang flexing melalui medsos. Bisa jadi yang melakukan ini sebelumnya tidak ada yang memperhatikan. Jadi dengan menampilkan hal2 yang berbau mewah, dia merasa ada yang peduli. Gitu kalik yaaa...

    ReplyDelete
  19. Ngerinya, flexing ini dijadikan salah satu cara membangung personal branding sama beberapa influencer. Saya pribadi tidak setuju sih, apalagi flexingnya menipu. Sudah banyak juga contohnya.

    ReplyDelete
  20. Ini ada salah satu temanku yang kaya gini banget tapi tau dah uange dari mana. Bukanya iri tapi malah lebih kekasihan aja.

    ReplyDelete
  21. Biasanya sih kalau yg flexing itu OKB, beda sama yg old money. Malahan mereka biasa aja. Tp berkat flexing dr orang-orang tersebut terkadang badan hal2 baru aku ketahui sih. Yg penting kalau lihat orang flexing ga usah ngiri, dan jangan keseringan lihat sih. Kalau ga nanti kita bs ikut iri dan jd dengki.

    ReplyDelete
  22. Sisi positif flexing ada juga, lho, yaitu mengungkap kasus korupsi pejabat. Hehehe... Sayangnya belum disertai dengan pemiskinan pejabat tersebut.

    ReplyDelete
  23. Flexing benar-benar ga baik nih, apalagi ini banyak dilakukan oleh para artis, dampaknya banyak generasi kita yang ikut-ikutan mengubah pola gaya hidup menjadi mewah dari pada sederhana

    ReplyDelete
  24. Paling enak jadi diri sendiri tapi berat jika kita terbiasa berkumpul dengan orang banyak. Harus keuksleuh dan benar-benar kuat iman biar ga terpengaruh gaya hidup hehe

    ReplyDelete
  25. Saat ini gaya nomer 1, soal dari mana duitnya bisa dinego. Apalagi didukung dengan kemudahan berhutang. Tapi kendali tetap ada pada diri kita ya ka. Dan saya sepakat, membatasi diri di sosmed akan memberi banyak keuntungan, salah satunya membatasi diri dari paparan flexing.

    ReplyDelete
  26. tapi kadang ada ga sih orang yang ga sadar kalau dia flexing gitu? siapa tau kita ga niat flexing tapi jatohnya flexing. eh gimana sih wkwk

    ReplyDelete
  27. Suka heran sih kalau ada yang suka Flexing di medsos, apalagi kalau kenyataannya gak sesuai, jauh banget dari yang dipamerkan. Hehehehe.. apa gak capek ya hidup palsu begitu..

    ReplyDelete

Post a Comment