Misi hidup dan Produktivitas

misi hidup dan produktivitas

Kali ini aku ingin mereview materi tentang Misi Hidup dan Produktivitas yang telah aku dapatkan di kelas Matrikulasi dua tahun yang lalu. Hah? Basi banget! Perlu kamu tahu genks, ilmu itu nggak ada basinya dan semakin hari terus akan berkembang.

Saat ini aku sudah di tahap Bunda Produktif, nah ternyata materi Matrikulasi waktu itu memang relate banget dengan setiap tahapan perkuliahan Ibu Profesional, gitu genks. 

Perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, merupakan materi pokok di kelas Bunda Produktif.

Prinsip dari Ibu Profesional adalah “Rezeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Artinya apa? Bahwa produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan uang, berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita di mata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow (Jadilah Profesional, Rezeki akan Mengikuti)


Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional”. Maksudnya apa? Bersungguh-sungguh dalam  menjalankan peran, baik sebagai ibu, istri maupun peran lainnya. 

Kesungguhan dan konsistensi seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

“Rezeki will follow” maksudnya, bahwa rezeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Bila ditarik kesimpulan, bahwa “Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang”.

Misi Hidup

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” ke mana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Jika di dalam pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre Aqil Baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf Aqil Baligh (usia 14 tahun ke atas). 

Maka, jika sampai hari ini ternyata kita masih galau, risau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis). 

Maka apa yang perlu kita kerjakan sekarang? Jalankan saja apa yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena produktivitasnya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga orang tersebut akan selalu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar
  • Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek
  • Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi
  • Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Adapun elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas (be,do,have):

  1. Kita harus menjadi (memiliki mental) seperti orang yang kita harapkan (be)
  2. Kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan (do)
  3. Kita mempunyai semua yang kita inginkan (have)

Selain itu, adapun yang perlu kita perhatikan dari aspek dimensi waktu, diantaranya; 
  1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
  2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
  3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban dari ketiga pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir memang harus diubah.

Selanjutnya, mulai menyusun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Dengan memulainya untuk menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.

Membuat prioritas dan memilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”. 
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter