Ibu Sebagai Agen Perubahan

ibu sebagai agen perubahan


Ibu Sebagai Agen Perubahan? Apa yang terlintas pada pikiran Anda ketika membaca pernyataan ini? Lalu, apa reaksi Anda? Setuju, tidak setuju atau memilih untuk tidak peduli dengan pernyataan tersebut?

Ketika pertama kali aku mendapatkan materi ini pada tahapan Matrikulasi di Institut Ibu Profesional, seketika mataku berbinar-binar lho, seperti emoticon yang matanya ada bintang-bintangnya itu, hehe… Kenapa? Begini penjelasannya…   

Ibu Sebagai Agen Perubahan 

Wanita, khususnya seorang Ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. 

Karena semua memiliki potensi dasar yang sama, berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan Ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka, di Institut Ibu Profesional selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi

Maksudnya? Apabila ada satu Ibu membuat perubahan, maka akan terbentuk perubahan satu generasi, yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan dampaknya?

Lantas, darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang kita sukai dan bisa, terus menerus kita jalankan sehingga kita akan menikmatinya. Kemungkinan aktivitas ini akan menjadi “Misi Spesifik Hidup Kita”.

Kita harus paham Jalan Hidup kita ada di mana, setelah itu baru menggunakan berbagai Cara Menuju Sukses.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi Changemaker Family?

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih konsistensi kita terhadap sebuah perubahan.

Karena sejatinya amalan-amalan yang dicintai adalah amalan yang langgeng (terus menerus) walaupun sedikit.

Di Jepang dikenal dengan Pola Kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Empathy 

Start From The Empathy adalah kuncinya. Lihatlah di sekitar kita, lingkungan di mana kita tinggal, ada isu sosial apa yang muncul di depan mata. Mengajak anggota keluarga untuk brainstorming akan isu sosial yang terjadi.

Misalnya di lingkungan masyarakat kita melihat anak-anak tidak bersemangat untuk belajar, ketika mereka berangkat sekolah hanyalah untuk menggugurkan kewajiban saja, lesu dan tidak mendapatkan apa-apa di sekolah. Maka kita bisa mengajak anak-anak berdiskusi, apakah mereka juga mengalami hal yang sama? 

Jika jawabannya “Iya”, maka yang harus kita lakukan adalah dengan melakukan perubahan-perubahan kecil dengan mengusulkan ataupun mendengarkan usulan dari anak-anak bagaimana caranya agar belajar itu lebih menarik, misalnya dengan mengubah tempat belajar, awalnya belajar hanya di ruangan saja bisa diganti dengan belajar di ruang terbuka (travelling). 

Jalankan bersama anak-anak secara konsisten dan berkelanjutan sehingga kita merasa bahagia. Setelah itu kita bisa mengajak keluarga lain untuk turut serta dalam kegiatan kita, misalnya dengan mengumumkan secara offline maupun online (media sosial). Kalaupun tidak ada yang berminat, maka tetap jalankan.

Dengan memulai perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi. 

Keluarga tetap prioritas (nomor satu). Ketika kita aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu warning LAMPU KUNING untuk aktivitas kita, maka perlunya hati-hati, mungkin ada yang tidak seimbang. Dan apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya kita harus berhenti dan menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarakat.

Menjadi agen perubahan tidak menuntut orang lain untuk berubah, melainkan menuntut diri kita selalu berubah, berubah dan berubah. 

For things to change, I must change first.

Referensi:
Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter