Resensi Cerpen "Aku, di antara Kamu dan Ibumu"

resensi cerpen aku di antara kamu dan ibumu

Identitas Cerpen

Pengarang         : Nurhidayatunnisa alias Isnania (anggota Komunitas ODOP Batch 5)

Sinopsis

Cerpen ini mengisahkan seorang pemuda yang hidup bersama ibunya di sebuah kampung. Pemuda tampan dan penyuka rendang daging ini merupakan anak satu-satunya, oleh karena itu ibunya sangat menyayanginya. 

Dikisahkan bahwa kehidupan mereka sangat sederhana, ibunya cuma seorang penjual sayur dan tebu, bahkan untuk sekedar makan daging saja cuma bisa setahun sekali dan memerlukan usaha untuk membelinya.

Pemuda ini digambarkan sebagai tokoh yang kehidupannya tak begitu jelas, sering pergi keluyuran keluar rumah tanpa pekerjaan jelas, bisa dikatakan seorang pengangguran. 

Pemuda ini pun tidak terlalu perhatian kepada ibunya, bahkan saat ibunya berulang tahun dia pun nggak peduli.

Suatu saat ketika dia berulang tahun dan membawa makanan favoritnya yang didapatkannya dari seorang preman kampung yang bernama Kurdi ke rumah, sontak saja mendapat penolakan dari ibunya dengan melemparkan makanan tersebut keluar rumah.

Tak terima dengan perlakuan dari sang ibu, lantas pemuda ini menikam ibunya dengan sebuah pisau di dapur hingga ibunya tergeletak bersimbah darah. 

Di akhir cerita, pemuda tersebut ditangkap oleh pihak berwajib atas perlakuannya. Serta menunjuk “Aku” sebagai barang bukti sambil tangannya terborgol. 

Unsur Intrinsik

A. Tema : Kisah Anak Durhaka
B. Latar : Di dapur
C. Alur : Maju

D. Tokoh
  1. Kamu 
  2. Ibu 
  3. Kurdi 
E. Perwatakan
  1. Kamu: pemalas, jahat, emosional
  2. Ibu: baik, sabar, penyayang, pemarah namun bijaksana
  3. Kurdi: jahat, brutal, keji

F. Sudut Pandang 
Pengarang menggunakan sudut pandang orang kedua dan ketiga, bukan pelaku utama.

G. Amanat 
Temanmu adalah cerminan dirimu. Maka, pentingnya bergaul dengan teman-teman yang membawa pada kebaikan, bukan sebaliknya.

Dari amanat yang disampaikan oleh pengarang tersebut, saya jadi teringat sebuah hadist Rasulullah SAW;

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  juga menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan berteman dengan orang-orang yang shalih, pelaku kebaikan, orang-orang yang memiliki wibawa, akhlak yang mulia serta beradab.

Seorang teman dekat juga bisa menjadi cerminan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Terkadang untuk melihat baik dan buruknya agama seseorang dengan cara melihat temannya, bila temannya baik, maka insyaa Allah baik pula diri kita, begitupun sebaliknya.

Pada cerpen "Aku, di antara Kamu dan Ibumu" dikisahkan bahwa kamu (pemuda) berteman dengan Kurdi (seorang preman kampung), sehingga pemuda tersebut sikapnya tertular oleh Kurdi. Hal ini terdapat pada paragraf berikut;

“Kurdi? Kurdi si tengil itu kau bilang? Perusak kampung, perusuh, beberapa kali keluar masuk penjara dia. Sudah berapa kali Ibu bilang sama kau … jangan bergaul dengan pemuda yang tak punya masa depan itu. Bisa saja dia berdusta, bisa saja dia mencuri makanan itu entah dari mana …”

Melihat makanan favoritmu dibuang begitu saja, kamu yang tak percaya mendapatkan perlakuan menyakitkan dari Ibu, menghampiriku dan bersama kita melukai hati Ibu. Kamu seolah tak peduli dengan Ibu yang terbaring kaku di atas lantai yang memerah, kamu menangisi rendang daging yang berserakan dan pergi dari rumah membawaku serta yang masih dalam genggamanmu nan ikut memerah.
 
Aku mendengar kembali lisan paraumu. Tapi, kamu tak sendiri, ada beberapa orang membersamai, dan kamu menunjukku dengan tangan yang terborgol.

Unsur Ekstrinsik

A. Nilai Moral    : Sebuah kejahatan akan mendapatkan balasan yang setimpal

"Tapi, kamu tak sendiri, ada beberapa orang membersamai, dan kamu menunjukku dengan tangan yang terborgol".

B. Nilai Sosial    : Tokoh kamu dalam cerita tersebut adalah seorang yang pemalas, egois dan tidak memikirkan masa depan.

"Selepas makan, kamu pergi meninggalkan Ibu yang kini sibuk denganku di dapur membersihkan perkakas."

"Kamu masuk ke kamar lalu tertidur, mungkinkah mimpi memakan rendang itu menghampirimu kembali?"

C. Nilai Budaya : Membuat masakan di hari spesial. 
Hal ini terletak pada paragraf berikut;

“Hari itu bukan tanpa arti, karena sesungguhnya ada alasan di balik makanan mewah itu. Aku tak yakin, apa kamu benar-benar lupa, tapi hari itu ialah hari bertambahnya usia Ibu. 

Beliau bahkan tak sedikit pun terlihat kecewa karena kamu tak menyinggung hari 
spesialnya. Ya, benar. Bertambahnya usia bagimu dan Ibu bukanlah hal istimewa, hal itu justru mengingatkan bahwa kehidupan di dunia tak lama lagi. Tapi, tetap saja sebagai manusia biasa, Ibu pastinya ingin mendengar ucapan selamat darimu, dan kuyakin kau pun begitu”.

Kelebihan Cerpen

kelebihan cerpen aku di antara kamu dan ibumu

Kisahnya menarik karena dengan amanat yang disampaikan oleh pengarang sangat bagus dan sekaligus mengingatkan kembali kepada pembaca dalam hal berteman dan memilih teman yang tepat. Selain itu juga bahasa yang digunakan cukup sederhana dan mudah dipahami.

Kekurangan Cerpen

kekurangan cerpen aku di antara kamu dan ibumu

Awalnya aku nggak paham siapa “Aku” dalam cerita tersebut. Membutuhkan sedikitnya waktu lebih untuk menganalisanya hingga akhirnya aku menemukan jawabannya. 

Yah, mungkin itulah kreativitas pengarang, terkadang membuat pembaca nggak langsung memahami cerita sebenarnya, bertanya-tanya, menebak-nebak, dan perlu membaca ulang supaya maksud dari cerpen tersebut tersampaikan.

Kesimpulan

Cerpen karya Nurhidayatunnisa ini dapat dikategorikan sebagai kisah kehidupan (Historical Fiction). Kisah yang diangkatnya pun memberi beberapa amanat yang dapat dipahami oleh pembaca. Bahasa yang baik, tidak bertele-tele sehingga mudah dipahami oleh pembaca.
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter