Fokus Pada Satu Titik

fokus pada satu titik

Memasak sambil menggendong bayi, sambil menyusui, sambil chatting, sambil update status, bisa…

Telpon sambil menonton Drama Korea? gampang...
Memasak air buat mandi bayi, sambil nunggu air mendidih, membereskan tempat tidur yang habis dipakai perang-perangan anak-anak. Sanggup!

Selama menjalani aktivitas sehari-hari, kita mungkin tidak menyadari bahwa sering melakukan multitasking. Multitasking sendiri berarti mengerjakan dua atau lebih pekerjaan secara bersamaan atau dalam satu waktu, dan sejatinya sangat bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin.

Biasanya, kita akan beralih secara bolak-balik dari satu hal ke hal lainnya, atau benar-benar mengerjakan banyak pekerjaan secara bersamaan.

Kadang fisik masih di depan kaca sambil menyisir rambut yang sudah dua hari belum disisir, tetapi pikiran sudah berkelana jauh meninggalkan raga. 

“Habis ini masak nasi, nyuci popok mumpung bayi tidur, jangan lupa nge WhatsApp tukang galon untuk anterin galon, menjemur dan lipat cucian, jemur kasur sisa kebanjiran lokal semalam”. Tak ada habisnya!

Multitasking memang salah satu anugerah yang diberikan Allah untuk wanita. Meskipun begitu, multitasking yang berkepanjangan tanpa jeda rentan menghadirkan stress tingkat dewa. Nah lho! Selain itu pula bisa menurunkan daya ingat. Oh No!

Menjadi Ibu multitasking bukan berarti selalu memikul pekerjaan menumpuk. Apalagi jika pekerjaan itu dilakukan enjoy tanpa paksaan dan suasana di rumah aman terkendali. 

Namun, tidak menutup kemungkinan ibu multitasking melakukannya karena keterpaksaan atau adanya double burden yang dipikulnya. Sehingga kemampuan multitasking yang dimiliki justru menguras energi, emosi, bahkan kewarasan Ibu.

Kalau sudah begini, bagaimana nasib para Ibu?

Nah, inilah yang harus diwaspadai oleh para ibu multitasking yang terjebak beban ganda selama menjalankan tugas dalam keluarga.

Jadi teringat lagu "Meraih Bintang" yang kala itu sempat spektakuler, hehe...

"Terus fokus satu titik, hanya itu, titik itu!"
"Tetap fokus kita kejar dan raih bintang"

Ternyata dibanding Multitasking, fokus pada satu hal itu lebih penting. Setiap hari kita begitu sibuk, begitu banyak list pekerjaan yang harus diselesaikan. Pekerjaan lama belum selesai, muncul lagi pekerjaan yang baru. 

Selalu sibuk, terlihat sibuk itu tidak membawa kita kemana-mana, hanya berputar-putar di sana atau seperti lari di tempat.

Tanpa kemampuan untuk fokus, pekerjaan mungkin tidak selesai, lama selesainya atau selesai tetapi dengan hasil yang tidak memuaskan. 

Jadi, bagaimana caranya agar kita mampu bekerja secara fokus?

Time Blocking

Time blocking adalah teknik manajemen waktu yang membantu untuk menjadwalkan rencana pekerjaan atau hal-hal yang harus dilakukan dengan memblokir slot waktu tertentu untuk menyelesaikan kegiatan tertentu dengan tujuan meningkatkan produktivitas.

Ketika menyusun time blocking, biasanya kita akan memberikan waktu yang menunjukkan kapan memulai dan menyelesaikan sesuatu.

Hal ini sekaligus bisa menjadi acuan untuk seberapa lama kita akan mengerjakan tugas. Seperti memasang target, akan lebih konsentrasi dan berusaha untuk benar-benar menyelesaikan pekerjaan di waktu yang telah ditentukan.

Waktu yang ditentukan pun terbatas. Bila kita benar-benar berusaha menuruti semua yang telah diatur, kita pun akan terdorong untuk melakukan pekerjaan dengan lebih cepat.

Kita semua pasti kenalkan tokoh Bruce Lee? Bruce Lee menyebutnya dengan "Golden Hour". Bruce Lee ini sangat konsisten menjaga waktu latihannya dari semua gangguan. 

Ia tidak mengizinkan siapapun menghubunginya saat latihan, termasuk istrinya. Waktu latihan adalah waktu paling efektif untuk mengerjakan hal penting bagi dirinya. 

Sehingga bila masih ada banyak waktu yang tersisa, kita bisa memanfaatkannya untuk melakukan lebih banyak pekerjaan selanjutnya. Dengan kata lain, kita telah meningkatkan produktivitas diri.

Melakukan penjadwalan dengan time blocking secara tak langsung juga dapat melatih dalam merencanakan sesuatu dan menjalani hidup dengan lebih teratur.

Fear Of Chaos

Setiap kita melakukan pilihan pasti ada konsekuensinya termasuk ketika kita memilih untuk fokus. Ketika kita berjuang untuk sesuatu yang besar dan penting, hal tersebut pasti mengundang kekacauan (chaos). 

Semakin kita komitmen pada tujuan besar, maka semakin besar tekanan yang akan kita terima. 

Maka, bersahabatlah dengan kekacauan dan kreatiflah menyelesaikan masalah. Belajar menerima sedikit kekacauan yang mungkin terjadi. Selama kita fokus pada tujuan besar, kita akan mendapatkan hasil yang lebih besar. 

Jadi, ketika multitasking tidak membuat bahagia. Cukup bertahanlah di satu titik, kejar dan bahagia lah!

Referensi:
www.ayahbunda.co.id 
hellosehat.com
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter