Tantangan H-18 Kelas Kepompong


Bismillahirrohmanirrohim Lagi, hari ini saya mulai menyusun resume Kulwhap yang saya ikuti pada Rabu, 27 Februari 2020. Kulwhap ini diselenggarakan oleh Kelas Bunda (IG: @kelasbunda) yang bertemakan “Mendidik Anak Selaras Fitrah di Era Digital” dengan Narasumber yang sangat luar biasa, yaitu Ustadz Harry Santosa. Siapa sih yang tak kenal beliau, seorang penulis buku Fitrah based Education (FBE), Fitrah based Life (FBL), Founder MLC, Founder HEbAT Community dan Knowledge Management Expert. Nah, berikut ini adalah resume materinya Anak-anak kita akan menghuni masa depan. Sebuah masa yang kita tak akan pernah mampu mengunjunginya, karena pada galibnya kita akan wafat lebih dulu dari anak-anak kita. Bisa saja anak-anak kita mendahului kita, namun pada galibnya mereka akan terus hidup tanpa kita menghadapi zaman di masa depan yang tak terbayangkan pada saat ini. Sungguh anak-anak kita kelak akan menghuni zamannya sendiri tanpa kehadiran kita. Lalu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak kita di masa depan, di zaman mereka, tanpa adanya kita di sisi mereka? 1. Aqidah yang kuat (Fitrah Keimanan) Yang kelak menjadi misi perjuangan hidup mereka, dengan itu mereka tak akan digilas zaman, bahkan mampu hidup menjadi agen perubahan di zamannya. 2. Fitrah yang tumbuh paripurna, menjadi hidup yang bahagia (hayyatun thoyyibatun) dalam semua dimensi kehidupan secara seimbang. Menjadi peran peradaban dan menebar sebesar-besar manfaat dengan semulia-mulia adab dengan peran peradabannya 3. Kenangan-kenangan indah dan ikatan cinta bersama kita sepanjang masa anak-anak mereka. Inilah yang akan menguatkan langkah dan pijakan mereka. mengokohkan sandaran mereka di kala kesedihan melanda selain kepada Robbnya. Untuk mencapai 3 hal ini maka; 1. Lakukanlah Tazkiyatunnafs, diantaranya: Mu'ahadah: Ingatlah tujuan penciptaan kita di dunia, maksud Allah menghadirkan kita dan renungkan kembali misi pernikahan kita, karunia pasangan dan anak yang diberikan Allah. Tiada yang kebetulan dalam setiap penciptaan, semua pasti ada maksud dan tugas langitnya. Muroqobah: Mendekatlah kepada Allah, agar diberikan qaulan sadida dan ditunjukkan "tugas langit" kita di dunia. Qaulan sadida adalah tutur dan ucapan bermakna yang menghunjam ke dalam jiwa ananda, fikiran dan idea yang bernas sehingga menginspirasi hebat anak-anak kita, perilaku dan sikap yang layak dan pantas diteladani, mata hati (bashirah) yang tajam sehingga bisa melihat jiwa dan kebutuhan fitrah ananda. Tugas langit adalah panggilan jiwa untuk menyeru kebenaran atau menolong agama Allah atau melakukan perubahan yang Allah ridhai dalam suatu bidang kehidupan. Muhasabah: mentracking perjalanan hidup kita selama ini, sudahkan digunakan di jalan Allah. Seberapa syukur kita dalam menjalani kehidupan dengan menggunakan semua kompetensi. jiwa dan raga di jalan Allah. Mu'aqobah: membuang semua maksiat dan dosa masa lalu serta hal-hal yang menghambat perjalanan, seperti hutang, kebencian, riba, harta dan lain-lain. Semua yang menghambat perjalanan menuju Allah, segera singkirkan. Mujahadah: sungguh-sungguh merancang pendidikan dan kebahagiaan sesuai fitrah, untuk anak dan keluarga, sehingga tumbuhlah fitrah mereka dengan paripurna, mulialah adabnya dan berkembanglah pengetahuannya (ilmu) 2. Kembalilah kepada Peran Fitrah Keayahbundaan kita Sambutlah peran fitrah keayahbundaan kita untuk mendidik ananda sesuai dengan fitrahnya. Sungguh Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi memampukan mereka yang terpanggil. 3. Pahami Tahapan Pendidikan dengan Seksama Ada tahapan-tahapan pendidikan yang berbeda fokusnya untuk tiap tahap usia (0-6 tahun, 7-10 tahun, 11-15 tahun) sehingga tidak lebay dan tidak lalai. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik, segala sesuatu akan tumbuh baik sesuai tahapannya. 0- 6 tahun: orangtua sebagai fasilitator Tahap penuh cinta, ananda sedang puncaknya imajinasi dan abstraksi. Ini tahap perasaan bukan kepintaran. Karenanya ini masa emas menumbuhkan kecintaan kepada segala sesuatu yang baik dengan imaji-imaji positif. 7 10 tahun: orangtua sebagai guide Tahap penuh aktifitas dan nalar yang bermakna, ananda sedang puncaknya rasa ingin tahu. Karenanya ini masa emas untuk menumbuhkan kesadaran kepada segala sesuatu yang baik dengan beragam aktifitas dan nalar. 11-15 tahun: orangtua sebagai mentor atau coach Ini tahap penuh pengujian untuk menempa, mempersiapkan Mukalaf di usia 15 tahun. Karenanya ini masa emas untuk menguatkan keyakinan dan peran yang akan dijalani di dunia sesuai fitrahnya, baik itu bakat, seksualitas dan lain-lain. 4. Pahami dengan Seksama Kriteria Generasi Semakin dalam memahami generasi, kriteria dan kekhasannya, makin kita bisa fokus pada kebaikan mereka dan merancangkan kegiatan yang sesuai dan produktif. Makin tak memahami kriteria dan kekhasan mereka, makin panik dan kacaulah penyikapan kita kepada mereka. Didiklah anakmu, untuk menghadapi Zaman yang bukan Zamanmu Beberapa catatan penting dalam menyikapi generasi anak-anak kita 1. Berikan mereka ruang untuk menjadi diri mereka sendiri Biarkan sayap mereka mengembang sempurna, jangan patahkan sayap mereka ketika baru memulai belajar terbang. 2. Berikan kesempatan untuk "salah" Kita pun dulu pernah salah dan galau ketika seumur mereka, maka bantu mereka dengan memberikan kesempatan untuk memilih hal-hal yang menjadi minat mereka sepanjang itu hal yang produktif dan syari. Jika pilihannya tak tepat, maka dorong semangat mereka dan maafkan, lalu beri kesempatan lagi. 3. Tak mungkin mengajarkan semua hal Zaman berganti, ilmu dan sains berkembang 300% per tahun, sehingga tak mungkin kita mengajarkan semua hal pada anak-anak kita. Tugas kita hanya membuat mereka bersemangat belajar, menunjukkan bagaimana memilih pengetahuan yang relevan dengan minat dan ajarkan kemampuan melahirkan pengetahuan baru, bangunlah gairah belajar dan inovasi agar mereka bergairah belajar sepanjang hayat dan seterusnya. 4. Jangan jadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran Karena zaman ini kehebatan ilmu bukan ada di sekolah, tapi di dunia maya dan di tangan orang-orang hebat. Magangkan anak-anak kita untuk belajar pada ahlinya, menimba ilmu dan adab pada orang-orang sukses secara langsung. Hantarkan anak-anak kita untuk bertemu orang-orang shalih dan hebat, karena kehebatan tak bisa diajarkan tetapi ditularkan. Karenanya jangan jadikan Gadget sebagai musuh, tetapi alat akses kepada dunia luar yang baik, akses kepada ilmu-ilmu hebat yang, berdiskusi dengan orang-orang hebat, sukses dan shalih, baik shalih personal maupun shalih sosial. Usia 0-6 tahun, bersamai dalam penggunaan Gadget, jangan biarkan sendiri, dan sebisa mungkin ciptakan beragam kegiatan seru di alam terbuka untuk mengalihkan keinginan menggunakannya. Usia 7 10 tahun, jadikan Gadget sebagai akses pengetahuan, tunjukkan situs-situs keren dalam pengetahuan dan lain-lain. Jangan berikan kepemilikan. Usia 11-15 tahun, berikan kepemilikan Gadget dengan syarat, bakat sudah tumbuh baik, kesadaran keimanan atau aqidah sudah sangat baik dengan aktifitas ibadah yang antusias dan aktif di kegiatan dakwah, kelekatan dengan ayah ibunya sangat bagus, ego dan percaya diri sangat kuat dan seterusnya. 5. Hantarkan anak-anak kita menjadi pemuda dewasa Dengan peran peradaban terbaiknya ketika mukalaf pada usia 15-16 tahun. Semua Ulama sepakat bahwa Islam tak mengenal kata remaja, hanya ada 2 fase kehidupan yaitu sebelum aqilbaligh (<15) dan sesudah aqilbaligh (15), maka jangan antarkan anak-anak kita menjadi remaja. Rancanglah pendidikan aqilbaligh. yang mempersiapkan anak-anak kita untuk mukalaf pada usia 15-16 tahun. Semua ulama sepakat bahwa anak pada usia 15 tahun bukan anak-anak lagi. Mereka sudah menjalani masa pembebanan atau sinnu taklif. Mereka bukan hanya wajib sholat dan puasa, namun juga zakat, haji. nafkah, jihad dan menikah. Generasi millennial yang lambat dewasa atau tidak dewasa pada saatnya dengan kemampuan memikul beban syariah di atas akan mudah digilas zaman. #tantangan30hari #harikedelapanbelas #kelaskepompong #bundacekatan #institutibuprofesional
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter