Anak Hebat, berani meminta Maaf

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah menginjak hari ke-3, bercerita di hadapan anak itu memang mengasyikkan. Apalagi kalau anak mau menyimak hingga cerita berakhir. Di hari ke-3 ini, tema cerita masih seputar moral dan akhlak yang terpuji. Yaitu mengenai Keberanian dalam meminta maaf jika telah berbuat kesalahan, dengan judul "Anak Hebat, berani meminta maaf".  Lagi-lagi ide cerita terinspirasi akan pengamatan saya kepada anak-anak di lingkungan sini yang sulit meminta maaf, malu, jaim walaupun telah berbuat kesalahan (anak Arab, Mesir dan Pakistan).  Sambil rehat setelah makan siang, saya ajak ia duduk di Sofa ruang tamu untuk mendengarkan cerita. Berikut kisahnya:
Di siang hari yang cerah, setelah pulang sekolah Adi sedang berada di ruang mainan sendirian.
"Brum...brum..." Adi sedang bermain mobil-mobilan. "ngeng-ngeng…"
Tiba-tiba terdengar bunyi bel, "ting..tong…" "Adi, coba tengok siapa yang datang!" Kata Mama Adi yang sedang berada di dapur. “Iya Ma, sebentar ya...” jawab Adi.
“Mama, di luar ada Abdullah dan Mohamed. Kelihatannya sih mau main, boleh Ma?” 
“Oh, tentu saja boleh sayang. Bukain pintunya dan suruh mereka masuk ya!” jawab Mama. “Adi, Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam. Jawab Adi sambil membuka pintu. “Ayo masuk, Abdullah dan Mohamed!”. “Terimakasih Adi...” ucap Abdullah.
Dan kemudian mereka bermain bersama-sama. “Adi, aku boleh pinjam pensil warna?” kata Abdullah.
“Boleh” jawab Adi.
“Aku mau menggambar Pesawat nih”.
“Iya, boleh. Nih!” sambil menyodorkan tempat pensil warna. Abdullah asyik menggambar dan mewarnai, sedangkan Adi dan Mohamed bermain mobil-mobilan.
“Ngeng....ngeng...cittttt...”
Dan, tiba-tiba Adi nyamperin Abdullah yang masih sibuk mewarnai.
“Aku mau lihat ya Abdullah, gambar apa sih?” Adi langsung merebut kertas yang ada di tangan Abdullah tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Mohamed juga ikut merebut karena penasaran juga. “Aku dulu...” teriak Mohamed.
“Aku...” teriak Adi lebih keras.
Dan akhirnya, “Sssssssrrrrreeeeeeeettt....” kertasnya tersobek. “Yahh, kan jadi sobek” kata Abdullah sedih.
“Huhu...gambarku sobek.” Abdullah menangis. “Wah, wah ada apa ini kok Abdullah menangis?” tanya Mama.
“Kenapa Abdullah?”
“Itu Bu, kertas gambarku sobek karena Adi dan Mohamed berebut...huhu...” jawab Abdullah sambil menangis. “Astagfirullah, teman-teman kalau berebut mainan baik tidak ya?” Tanya Mama Adi.
“Tidak...hu...” jawab Abdullah yang masih menangis.
“Tidak” jawab Mohamed sambil menggelengkan kepala.
“Baik tidak Adi?” tanya Mama kembali.
Adi pun menggeleng sambil menunduk. “Sekarang Adi dan Mohamed baca istighfar dulu”.
“Astaghfirullah hal adzim...”
“Kalau main boleh yang baik ya sayang, tidak boleh berebut. Harus izin dulu.” kata Mama Adi. Namun Adi tidak mendengarkan dan asyik dengan mainan mobil-mobilannya. “Sekarang Adi dan Mohamed minta maaf dulu ya!” Nasehat Mama Adi kepada Adi dan Mohamed.
“Maaf ya Abdullah...” Ucap Mohamed sambil mengulurkan tangannya.
“Iya” Jawab Abdullah.
Namun lagi-lagi Adi tidak mau dan masih asyik dengan mainannya.
“Hayo, Adi minta maaf dulu. Mohamed hebat ya mau minta maaf. Adi anak hebat juga kan?” rayu Mama Adi agar ia mau minta maaf.
“Iy...iya Ma..” sambil malu-malu.
“Kok malu? Hayo dong!”
“Iya Ma. Adi anak hebat dan shaleh” Kata Adi sambil mengulurkan tangannya. “Alhamdulillah Adi hebat dan shaleh ya...” puji Mama Adi.
Adi pun tersenyum.
========================================================================== Untuk mengetahui seberapa tingkat pemahamannya, aku coba tanya pada Aqmar.
“Nah, begitulah kisahnya. Adek paham cerita tadi?” tanyaku pada Aqmar.
“Nggak boleh nakal dengan teman” jawabnya. (maksudnya: merebut mainan tanpa izin)
“Iya. Jadi kalau mau pinjam harus izin terlebih dahulu dengan pemiliknya, nggak boleh asal rebut. Dan jika bersalah harus berani meminta maaf, nggak boleh malu apalagi tidak mau” imbuhku. #GrabYourImagination
#KuliahBunSayIIP
#Level10
#MembangunKarakterAnakMelaluiDongeng
#Tantangan10hari
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter