Bagiku, menjadi Guru bukanlah sekedar profesi semata...

Ketika membahas tentang profesi, yang terlintas di pikiranku saat ini adalah suasana sekolah, kantin, ruang guru, teman sekantor, ruang kelas dan murid.
Yah, 13 tahun silam saya berkarier di bidang pendidikan, tepatnya sebagai pengajar, mentor atau guru dan waktu itu tentunya masih single dan belum menikah, hehe…
Tapi setelah memutuskan menikah, maka aku pun rela meninggalkan karierku di dunia pendidikan dan memilih fokus untuk keluarga kecilku. Bagaimana kisahnya? Yuk, mari flashback dulu…

MASA SD
Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kecil. Mungkin karena ada background keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai guru, maka akupun waktu kecil jika ditanya orang-orang ingin menjadi apa kelak, ya langsung saja aku jawab ingin menjadi guru, hehe…
Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sering berperan menjadi ‘guru’ untuk teman-teman ketika jam istirahat. Aku suka menirukan cara maupun gaya bicara guru saat menerangkan pelajaran di kelas. Biasanya ketika jam istirahat tiba, teman-teman aku kumpulkan untuk aku jadikan sebagai ‘murid-muridku’ dan mereka pun dengan senangnya langsung mengiyakan ajakanku waktu itu, ajib yak? hehe…
Tapi hal itu hanya berlangsung sampai kelas 5 SD saja, kelas 6 sudah harus fokus dan konsentrasi ke Ujian Nasional, maka sudah tidak ada waktu untuk main-main lagi hiks…
Oh ya, di rumah juga kadang sering menjadi ‘guru-guruan’ tapi tanpa murid alias berbicara sendiri di depan cermin dan papan tulisnya lemari pakaian, haha…
biar gak ketahuan bapak atau ibu biasanya aku kunci pintu kamar, bisa gawat jika ketahuan corat-coret lemari, bakalan diomelin ibu.

MASA SMA
Tepatnya kelas 3 SMA yang waktu itu akan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, maka aku pun memutuskan untuk menambah jam belajar dengan mengikuti bimbingan di salah satu Lembaga Bimbingan Belajar yang terletak di Kediri, yaitu LBB BEST. Aku yang waktu itu masih ‘galau’ memutuskan untuk kuliah di mana dan ambil jurusan apa kelak, akhirnya setelah beberapa kali mendapat bimbingan dari mentor Bahasa Indonesia aku pun seakan menemukan jawabannya, iya jawabannya ada di kepribadian Bu Guru Bahasa Indonesia, saya lupa namanya yang jelas ketika beliau menerangkan materi dan memberikan trik-trik dalam menjawab soal-soal latihan Unas maupun UMPTN sangat mudah dimengerti, cara bicara maupun body language nya membuatku kagum, tertegun dan dalam hati langsung berkata ‘aku ingin seperti dia’. Yah, waktu itu aku pun langsung memutuskan “aku ingin jadi guru Bahasa Indonesia”. Terbukti pada hasil Ujian Caturwulan maupun Ujian Nasional, nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia paling unggul dibanding mata pelajaran lainnya. Dan hal ini semakin memperkuat keinginanku untuk memilih jurusan Bahasa Indonesia saat tes UMPTN nantinya. Menjelang Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, aku sempat berdiskusi dengan mentor Bahasa Indonesia tadi. Dan beliau menyarankan agar memilih Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Malang, yaitu Universitas Negeri Malang yang dulunya bernama IKIP Malang dan aku pun menyetujui saran beliau. Memang benar sih, Malang lebih dekat dengan rumah, termasuk dataran tinggi dan pastinya lebih nyaman dan tenang saat belajar karena dingin.
Masa tes UMPTN sudah terlewati dengan lancar dan aku pun lega. Tiba di ujung penantian yaitu pengumuman penerimaan mahasiswa baru, waktu itu dimuat di koran Memorandum dan setelah beberapa saat skimming akhirnya aku menemukan namaku di dalamnya, alhamdulillah.

Pendapat orang tentang seorang Guru
Bagi sebagian orang, pekerjaan sebagai tenaga pendidik atau guru waktu itu masih dianggap sebagai pekerjaan biasa sebagaimana profesi-profesi lainnya dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi bagi seorang guru yang memiliki pandangan jauh kedepan, profesi guru merupakan profesi yang sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan sebagai seorang guru sejati dia menganggap bukan hanya atasan ataupun orang tua siswa yang akan meminta pertanggungjawaban atas pekerjaannya, melainkan juga Allah ta’ala. Baginya, anak didik adalah amanah yang harus dijaga dengan baik. Hitam atau putihnya siswa kelak tak lepas dari sentuhannya selama proses pembinaan. Banyak yang memandang sebelah mata tentang Guru ini, apalagi guru Bahasa Indonesia akan tetapi tidak akan bisa menyurutkan keinginanku untuk mewujudkan mimpi besarku. Karena aku sangat yakin bahwa apa yang ada dipikiran orang-orang hanyalah hoax belaka.

Semua orang tentu saja bisa mengajar, namun tidak semua orang mampu menjadi seorang pendidik yang baik. Hal ini dikarenakan seorang pendidik haruslah memiliki beberapa sifat khusus yang melekat pada dirinya. Ketekunan, keikhlasan, serta kesabaran dalam menghadapi anak didik adalah syarat mutlak bagi seorang pendidik. Baginya setiap tetesan keringat dan air mata akan menjadi saksi yang akan meringankan bebannya di hari perhitungan kelak. Setiap kekurangan yang dimiliki oleh anak didiknya, sebagai ladang pahala untuk meraih ridha Ilahi. Hal ini pun sebagai latar belakang untuk mewujudkan mimpiku.
MASA KULIAH
Di tengah kesibukanku dalam menyelesaikan Skripsi, seorang dosen sekaligus Ketua Jurusan menawarkan pekerjaan untukku, beliau adalah Pak Maryaeni. Pak Maryaeni memintaku untuk membantu mengajar kelas CIS-BIPA karena memang kata beliau tenaga pengajarnya kurang, sedangkan mahasiswa asing yang belajar di kampus semakin bertambah. CIS-BIPA (Central for Indonesian Studies - Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing) merupakan program pembelajaran Bahasa Indonesia untuk foreigner yang hanya ada di kampusku. Nah, dari sinilah bisa dikatakan awal dari karirku. Aku mengajar beberapa siswa asing, diantaranya tiga mahasiswa dari Jepang dan satu mahasiswa dari Australia. Ternyata mengajar orang asing itu banyak sekali tantangannya, dan ini memang pengalamanku pertama.

Tapi aku pun tak lama mengajar kelas BIPA ini, hanya sekitar tiga bulan saja, karena waktu itu ada lowongan pekerjaan di Yayasan Pupuk Kaltim aku mencoba mendaftarkan diri dengan maksud untuk menambah jam terbang dan alhamdulillah diterima.

Menyambung Misi Ke Borneo
Di Yayasan Pupuk Kaltim ini aku mengajar kelas VII. Disinilah tepatnya aku menyambung karirku sebelumnya. Banyak sekali pengalaman baru yang aku dapatkan dari profesi ini, mulanya agak kewalahan karena sebelumnya mengajar orang dewasa kini mengajar anak-anak. Tapi akhirnya seiring berjalannya waktu aku mulai menikmati perjalananku sebagai seorang guru. Memang yang namanya hidup tentu tidak selamanya yang kita inginkan akan kita dapatkan. Tetapi kalau kita bersyukur tentulah Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.
Memang kunci utama menjadi seorang guru adalah keikhlasan dan kesabaran, walaupun sebagai manusia biasa terkadang kita juga terbawa emosi dalam menghadapi segala tingkah polah dari anak didik kita, namun dengan mengedepankan rasa ikhlas dan sabar kita pasti akan dapat mengontrol perasaan.

Bangganya Menjadi Guru
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah, di dalamnya dituntut pengabdian dan juga ketekunan.
Menjadi guru harus banyak kesabaran dan kasih sayang dalam menyampaikan materi, sebab sejatinya seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu tapi juga mendidik dan membentuk karakter siswa.
Dari gurulah kita belajar membaca dan menulis, dari gurulah kita mengenal angka dan huruf. Melalui guru kita juga belajar budi pekerti. Guru membentuk hati kita menjadi pribadi yang baik. Tak berlebihan jika kita menyebutkan guru adalah pekerjaan yang mulia.
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter