aprilhatni.com
aprilhatni.com

Mental Pelit, Maunya Selangit. Sadar Diri, Dong!

mental pelit dalam hubungan

Maunya macam-macam, modalnya nol! Anda sehat?

Kadang aku suka heran dengan lelaki yang mentalnya pelit (bakhil).

Keinginannya setinggi langit. Standarnya pun luar biasa. Maunya perempuan baik, cantik, lemah lembut, cerdas, mandiri, tulus, penyayang, dewasa, bisa diajak susah senang, bahkan kalau perlu bisa menjadi tempat pulang.

Tapi giliran ditanya, “Apa yang kamu bawa ke dalam hubungan?”
Jawabannya... nihil. Aneh memang orang problematik model begini, haha...

Modalnya cuma kata sayang. Selebihnya berharap perempuan yang terus mengerti, terus mengalah, terus tersedia.

Lucunya lagi, mereka merasa pantas mendapatkan perempuan berkualitas tinggi.
Heh, sadar diri!

Wanita berkualitas bukan sedang mencari laki-laki yang pelit usaha, pelit perhatian, apalagi pelit mengeluarkan biaya untuk membangun hubungan. Mereka mencari pasangan, bukan beban.

Hubungan itu investasi, bukan program gratisan. Kalau dari awal sudah hitung-hitungan untuk sekadar menelepon, memberi hadiah kecil, atau meluangkan waktu, lalu apa yang sebenarnya sedang kamu perjuangkan?

Jangan bermimpi ingin memetik buah yang manis kalau menanam benih saja enggan.

Dan berhentilah menyebut semua itu sebagai “prinsip hidup”. Kadang itu bukan prinsip, melainkan memang mentalnya yang terlalu miskin untuk menghargai orang lain.

Perempuan tidak sedang mencari dompet berjalan. Mereka juga mampu bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Yang mereka cari adalah laki-laki yang punya rasa tanggung jawab, kemurahan hati, dan kesungguhan.

Karena laki-laki yang benar-benar serius tidak akan sibuk mencari cara agar hubungan semurah mungkin. Justru ia akan mencari cara agar perempuan yang dicintainya merasa diperhatikan dan dihargai.

Kalau bahkan untuk menunjukkan usaha saja terasa berat, mungkin yang kamu cari bukan pasangan, melainkan fasilitas gratis. Mimpilah! haha…

Jangan Salah Paham, Ini Bukan Tentang Kaya atau Miskin

Banyak orang langsung defensif ketika membaca pembahasan seperti ini.
Yang sedang dibahas bukan isi rekeningmu, melainkan isi kepalamu.

Ada laki-laki yang penghasilannya biasa saja, tetapi rela menyisihkan sebagian uangnya untuk menemui perempuan yang disayanginya.

Ada yang rela menempuh perjalanan jauh, menyediakan waktu, mengirim makanan saat pasangannya sakit, atau memberi hadiah sederhana hasil menabung berbulan-bulan.

Nilainya mungkin tidak besar.
Tetapi usahanya besar.

lelaki pelit dalam hubungan

Sebaliknya, ada yang penghasilannya berkali-kali lipat lebih tinggi.
Namun semuanya terasa berat.

Bayar kopi berat.
Isi bensin berat.
Telepon berat.
Memberi hadiah berat.

Seolah setiap rupiah yang keluar adalah kerugian, padahal yang sedang dibangun adalah hubungan.

Ingin Wanita High Class, Tapi Mentalnya Diskonan

Ironisnya, standar mereka sering kali sangat tinggi.

Maunya perempuan yang cantik.
Berpendidikan.
Berkelas.
Baik.
Tidak ringan tangan.
Penyayang.
Mandiri.
Tidak matre.
Bisa memahami keadaan.

Namun ketika giliran dirinya diminta menunjukkan kualitas sebagai laki-laki...
Mendadak hilang.

investasi dalam hubungan

Mereka ingin perempuan premium.
Tetapi datang membawa usaha versi gratis.

Seolah perempuan itu wajib terkesan hanya karena diberi janji dan kata-kata manis.
Maaf.

Wanita yang menghargai dirinya sendiri tidak mudah terpesona oleh omongan.
Ia melihat tindakan.

Cinta Itu Butuh Bukti, Bukan Alasan

Ada satu kalimat yang sering dipakai lelaki seperti ini.
“Kalau dia benar-benar sayang, dia pasti mau menerima aku apa adanya.”

Kalimat itu terdengar romantis.
Padahal sering kali hanya menjadi tameng untuk menutupi kemalasan berusaha.
Menerima apa adanya bukan berarti membiarkan seseorang berhenti bertumbuh.

Bukan berarti perempuan harus memahami semua keterbatasan sementara laki-lakinya tidak pernah berusaha memperbaiki keadaan.

Cinta memang menerima.
Tetapi cinta juga bergerak.

Kalau dari tahun ke tahun yang berubah hanya alasan, mungkin bukan keadaan yang bermasalah.
Melainkan kemauannya.

Apa yang Dicari Perempuan Berkualitas?

Perempuan berkualitas tidak sedang mencari ATM, mereka juga tidak sedang membuka yayasan sosial. Lantas, apa?

Mereka hanya ingin dihargai.
Sesederhana itu.

Dihargai waktunya.
Dihargai perasaannya.
Dihargai keberadaannya.

standar tinggi usaha minim

Dan salah satu bentuk penghargaan adalah usaha.
Usaha untuk hadir.
Usaha untuk memberi rasa aman.
Usaha untuk membuatnya merasa istimewa.

Usaha itu bisa berupa perhatian.
Bisa berupa waktu.
Bisa berupa tenaga.
Bisa pula berupa materi.

Karena dalam hubungan yang sehat, semua itu berjalan beriringan.

Berhentilah Menganggap Usaha sebagai Kerugian

Aneh memang.

Untuk membeli ponsel terbaru sanggup.
Untuk hobi tidak pernah berpikir dua kali.
Untuk nongkrong dengan teman selalu ada anggaran.

Tetapi ketika menyenangkan perempuan yang katanya disayang...
Mendadak semua terasa mahal.

Yang lebih lucu lagi, mereka berharap perempuan itu tetap bertahan.
Dengan alasan cinta.

Padahal cinta yang sehat tidak tumbuh dari penghematan terhadap pasangan.
Cinta tumbuh dari rasa dihargai.

Sebelum Menuntut Perempuan Berkualitas, Berkacalah Dulu

Daripada sibuk membuat daftar panjang tentang perempuan idaman, mungkin sesekali cobalah bercermin.

Kalau kamu menginginkan perempuan yang dewasa, apakah kamu juga sudah dewasa?
Kalau kamu ingin perempuan yang setia, apakah kamu juga bisa dipercaya?
Kalau kamu ingin perempuan yang berkelas, apakah sikapmu setara dengannya?

Dan kalau kamu ingin perempuan yang mau menghargaimu...
Sudahkah kamu lebih dulu belajar menghargai perempuan?

Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak menerima.
Melainkan siapa yang sama-sama rela memberi.

Sebab pada akhirnya, wanita berkualitas tidak tertarik pada laki-laki yang sekadar pandai berbicara.

red flag dalam hubungan

Mereka tertarik pada laki-laki yang tindakannya sejalan dengan ucapannya.
Kalau usahamu saja masih pelit, jangan salahkan perempuan berkualitas ketika memilih berjalan melewatimu. (Permisi ya Mas, sorry. haha...)

Bukan karena mereka sombong.
Tetapi karena mereka tahu nilai dirinya.

Disclaimer

Tenang...
Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus, melainkan “celotehku” saja yang mengambil pengalaman dari luar.

Kalaupun ada yang merasa “tercolek”, anggap saja itu bonus.

Sebab tulisan ini tidak sedang menghakimi seseorang, melainkan mengkritik sebuah mentalitas: ingin diperlakukan istimewa, tetapi enggan menunjukkan usaha yang setimpal.

Bagiku, hubungan bukan soal siapa yang paling kaya atau paling banyak memberi materi. Hubungan adalah tentang kesungguhan, penghargaan, dan kemauan untuk saling mengusahakan satu sama lain.

Karena pada akhirnya, pasangan yang berkualitas tidak mencari kesempurnaan. Mereka mencari seseorang yang mau bertumbuh, mau berjuang, dan tidak pelit dalam menunjukkan rasa hormat maupun kasih sayang.

Kalau setelah membaca artikel ini ada yang memilih bercermin, berarti tulisan ini menemukan tujuannya. Ya, mungkin bukan artikelnya yang terlalu pedas.

Mungkin cerminnya saja yang terlalu jujur.

Thank you for reading!
Have a nice day!
OlderNewest

Post a Comment