aprilhatni.com
aprilhatni.com

Gemericik Itu Bukan dari Kran Air


cerita horor mess bontang

Bontang, Agustus 2006

Malam itu, udara di Bontang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan sekadar dingin karena angin yang berembus pelan, tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri tanpa alasan jelas.

Tanpa menunggu satu detik lagi, aku dan Yono langsung kabur dari mess.
Yono buru-buru menyalakan motor, lalu tancap gas tanpa sempat berkata apa pun.

Mesin meraung memecah sunyi malam. Jalanan di depan mess kosong, hanya lampu-lampu redup yang terasa dingin… seakan ada sesuatu yang masih memperhatikan kami dari belakang.

“Mas… tadi itu… kamu juga lihat kan?” suaraku bergetar, nyaris seperti bisikan.

Yono tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, rahangnya mengeras.

“Kran itu kebuka sendiri, kayak ada yang muter. Padahal ora ono wong kan, serem.” katanya. (Padahal nggak ada orang)

Aku menelan ludah. Benar. Kran itu bukan sekadar terbuka, tapi seperti diputar oleh seseorang. Dan yang lebih membuat merinding, tidak ada siapa pun di dapur.

Kami memutuskan untuk tetap pergi ke Bontang Plaza, seolah dengan berada di tempat ramai bisa menghapus kejadian tadi. Tapi sepanjang perjalanan, pikiranku terus kembali ke suara “kricik… kricik…” itu.

Sesampainya di plaza, suasana terang dan ramai sedikit mengalihkan perhatian. Kami berjalan tanpa arah, sekadar menghabiskan waktu. Tapi anehnya, perasaan tidak nyaman itu tidak hilang begitu saja. Seperti ada yang mengikuti.

“Mas, kamu ngerasa nggak sih… kayak ada yang merhatiin?” tanyaku pelan.

Yono menoleh cepat ke sekeliling. “Perasaanmu wae mungkin.” (Mungkin perasaanmu saja)

Aku ingin percaya itu hanya perasaanku. Tapi sejak kejadian di dapur, semua terasa berbeda.

Kami tidak lama di sana. Sekitar satu jam kemudian, kami memutuskan kembali ke mess. Dalam hati, aku berharap Mbak Rini dan yang lain sudah pulang.

Namun harapan itu pupus saat kami tiba.
Lampu mess masih menyala, tapi suasana terasa… sepi. Terlalu sepi.

“Kayaknya mereka belum balik,” gumam Yono.
Aku mengangguk, tapi langkahku terasa berat. Entah kenapa, aku tidak ingin masuk lagi ke dalam.

“Mas… gimana kalau kita tunggu di luar aja?” pintaku.
Yono terdiam sebentar, lalu menghela napas. “Yo wis.” (Baiklah)

Kami duduk di teras. Waktu terasa berjalan lambat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 21.30.
Tiba-tiba

“Kricik… kricik…”

Suara itu lagi.

Aku langsung menegang. Yono juga.
Kami saling pandang. Kali ini, suara itu terdengar lebih jelas. Bukan hanya dari dapur, seperti menggema ke seluruh rumah.

“Mas… itu…” aku tidak sanggup melanjutkan kalimat.

Yono berdiri perlahan. “Aku cek maneh, yo?” (Aku cek lagi, ya)

“Jangan!” refleks aku menarik tangannya. “Tadi udah kita lihat, nggak ada siapa-siapa…”

Namun Yono tetap berjalan masuk, meski langkahnya terlihat ragu. Aku tak punya pilihan selain mengikutinya lagi.

Rumah itu terasa berbeda. Dingin. Sunyi. Bahkan suara langkah kami pun seperti teredam.
Kami sampai di dapur.
Kran itu… kembali terbuka.

Air mengalir deras, seolah seseorang sengaja memutarnya hingga penuh.
Yono menutupnya dengan cepat. Tapi kali ini, kami tidak langsung pergi.

Ada sesuatu yang lain.
Suara napas.
Pelan… berat… seperti seseorang berdiri sangat dekat.

Aku merinding. “Mas… kamu denger nggak?”
Yono mengangguk pelan. Wajahnya pucat.

Perlahan, ia menoleh ke arah sudut dapur, tempat yang gelap karena tidak tersentuh lampu.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Awalnya, tidak ada apa-apa.

Lalu

Sesuatu bergerak.
Bayangan hitam, samar, seperti berdiri di sana.
Aku menahan napas.

“Mas… ayo pergi…” bisikku nyaris tanpa suara.
Tapi Yono justru terpaku.

Bayangan itu… perlahan menjadi lebih jelas.
Seperti sosok perempuan.

Rambutnya panjang terurai menutupi wajah. Tubuhnya diam, tapi… entah kenapa aku merasa dia sedang menatap kami.

Tiba-tiba

“Kriiik…”
Kran di belakang kami kembali terbuka.

Padahal Yono baru saja menutupnya.
Aku menjerit pelan. Yono langsung menarik tanganku.

Kami berlari keluar tanpa menoleh lagi.
Napas kami terengah saat sampai di teras. Jantungku berdegup kencang, seperti ingin keluar dari dada.

“Mas… itu apa tadi?” tanyaku dengan suara hampir hilang.
Yono menggeleng keras. “Aku ora ngerti… tapi seperti sosok kunti, hi…

Kami tidak berani masuk lagi. Malam itu, kami menunggu di luar sampai akhirnya sekitar pukul 22.15, Mbak Rini, Meila, dan Galih datang.

“Lho, kalian ngapain di luar?” tanya Mbak Rini heran.

Aku langsung menceritakan semuanya. Dari suara kran, sampai sosok di dapur.

Wajah Mbak Rini berubah serius.

“Kalian lihat… perempuan?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.
Ia saling pandang dengan Meila dan Galih. Ada sesuatu di mata mereka, seperti mereka sudah tahu.

“Aku sebenarnya nggak mau cerita…” kata Mbak Rini akhirnya. “Tapi di mess ini… memang pernah ada kejadian.”

Aku menahan napas.

“Dulu… ada seorang perempuan yang tinggal di sini. Katanya dia sering sendirian, dan… meninggal di dapur.”

Jantungku terasa berhenti.

“Sejak itu… kadang suka ada yang dengar suara air. Atau lihat… dia.”

Aku merinding hebat.

“Kenapa nggak bilang dari dulu sih, Mbak…” gumamku.

Mbak Rini tersenyum pahit. “Takut kalian jadi kepikiran.”

Malam itu, kami akhirnya masuk bersama-sama. Lampu dinyalakan semua. Tidak ada yang berani ke dapur sendirian.

Dan anehnya… sejak kami ramai-ramai, tidak ada lagi suara kran.
Tapi cerita itu tidak berhenti di situ.
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang sendiri di kamar, aku mendengar sesuatu.

“Kricik… kricik…”

Suara itu lagi.
Aku membeku.
Pelan-pelan, aku menoleh ke arah pintu kamar.
Dan di celah pintu yang sedikit terbuka

Aku melihat bayangan rambut panjang… bergerak perlahan.
Sejak saat itu, aku tahu satu hal.
Kami tidak pernah benar-benar sendirian di mess itu.
OlderNewest

Post a Comment