Ada doa-doa yang tidak langsung dijawab oleh Allah. Bukan karena doa itu tidak didengar, tetapi karena waktunya belum tiba.
Sejak lama, aku menyimpan satu keinginan sederhana di dalam hati: suatu hari bisa mengikuti tadarus Al-Qur’an bersama dan mengkhatamkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Setiap Ramadan datang, doa itu selalu ikut kupanjatkan.
Dan di Ramadan tahun 2026 ini, tanpa kuduga sebelumnya, doa itu akhirnya dijawab dengan cara yang begitu indah.
Pengalaman pertama mengikuti tadarus online di Ramadan ini pun menjadi salah satu momen spiritual yang tidak akan pernah aku lupakan.
Pengalaman Pertama Ikut Tadarus Online
Ramadan tahun ini aku berkesempatan mengikuti program tadarus yang diselenggarakan oleh QN Doha. Tadarus ini dilakukan secara online melalui Zoom, dengan sistem membaca Al-Qur’an secara bergantian di antara para peserta.
Awalnya aku tidak terlalu membayangkan seperti apa rasanya. Membaca Al-Qur’an bersama orang-orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya melalui layar komputer terdengar agak canggung.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Tadarus online ini ternyata sangat menyenangkan. Ada rasa kebersamaan yang muncul walaupun kami hanya bertemu secara virtual. Satu per satu peserta membaca Al-Qur’an secara bergantian, sementara yang lain menyimak dengan penuh perhatian.
Yang paling mengejutkan bagiku adalah bagaimana waktu terasa berjalan begitu cepat. Dalam satu sesi tadarus yang berlangsung sekitar dua setengah hingga tiga jam, kami bisa menyelesaikan tiga puluh halaman, bahkan lebih.
Tanpa terasa, satu demi satu juz pun terlewati.
Serunya Membaca Al-Qur’an Bersama
Salah satu hal yang membuat tadarus ini terasa lebih hidup adalah adanya pendamping yang kami panggil Cikgu. Beliau membantu memperbaiki bacaan jika ada yang kurang tepat.
Bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an di depan orang lain mungkin terasa menegangkan.
Tapi di kelas ini suasananya justru sangat hangat dan suportif. Tidak ada rasa dihakimi. Sebaliknya, kami saling mendukung agar bacaan menjadi lebih baik.
Aku sendiri tergabung dalam Kelas Basyirah yang terdiri dari sembilan orang peserta. Yang menarik, tidak satu pun dari kami saling mengenal sebelumnya.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Dari yang awalnya asing, perlahan-lahan kami mulai merasa akrab. Rasanya seperti menjadi bagian dari sebuah komunitas kecil yang memiliki tujuan yang sama: membaca Al-Qur’an bersama selama Ramadan.
Baru Masuk Grup, Langsung “Ditodong” Jadi Ketua
Ada satu kejadian yang cukup mengejutkan bagiku.
Aku sebenarnya baru bergabung di hari kedua. Sepertinya sempat ada sedikit miskomunikasi dari panitia sehingga aku belum dimasukkan ke dalam grup sejak hari pertama.
Begitu akhirnya masuk ke grup WhatsApp, aku belum sempat menyesuaikan diri. Tiba-tiba saja “ditodong” untuk menjadi ketua kelompok.
Jujur saja, saat itu aku cukup kaget.
Ternyata setiap kelompok memang memiliki seorang ketua yang bertugas mengatur giliran membaca dan menyampaikan informasi dari panitia jika ada pengumuman penting.
Rasanya sedikit seperti sedang mengikuti ospek, apalagi beberapa anggota kelompok sudah pernah mengikuti kegiatan ini di tahun-tahun sebelumnya, hehe...
Namun setelah dipikir-pikir, aku justru merasa tertantang. Jika bisa membantu kelancaran kegiatan yang penuh pahala ini, kenapa tidak?
Akhirnya aku pun mengiyakan permintaan mereka.
Dan ternyata benar, tugasnya tidak serumit yang kubayangkan. Sebagian besar hanya mengatur urutan membaca dan menyampaikan informasi dari panitia.
Meski begitu, ada satu efek menarik: aku jadi “dipaksa” untuk hadir lebih awal di ruang Zoom setiap hari. Tanpa sadar, hal itu membuatku semakin disiplin mengikuti tadarus.
Pertemuan Kembali dengan Sosok yang Menginspirasi
Program tadarus Ramadan ini dikoordinatori oleh seorang psikolog yang sudah lama aku kenal, yaitu Ibu Emeraldina Darmidjas.
Pertama kali aku mengenal beliau sebenarnya cukup lama, sekitar tahun 2018. Saat itu beliau menjadi pembicara dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Komunitas Indonesia di Qafco (KOMIQ).
Aku masih ingat duduk di barisan meja yang paling depan dengan penuh antusias mengikuti sesi seminar tersebut. Topik psikologi memang selalu menarik bagiku.
Mungkin karena terlihat terlalu bersemangat, beliau akhirnya menghampiri mejaku saat waktu istirahat makan siang.
“Boleh saya gabung di sini?” tanya beliau dengan ramah.
Aku sempat merasa seperti mendapatkan kejutan kecil.
“Tentu saja, dengan senang hati. Silakan duduk, Bu,” jawabku.
Saat itu kami sempat mengobrol cukup lama tentang berbagai hal terkait psikologi. Dari percakapan singkat itu, aku merasakan bahwa beliau adalah sosok yang sangat humble dan hangat.
Bertahun-tahun kemudian, aku justru dipertemukan kembali dengan beliau dalam kegiatan tadarus Ramadan ini.
Perjalanan Hingga Khatam Al-Qur’an
Menjelang akhir Ramadan (H-10), biasanya acara khataman tadarus QN Doha dilakukan secara offline. Namun tahun ini situasinya tidak memungkinkan karena kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.
Akhirnya acara khataman dipindahkan secara online pada Rabu, 11 Maret 2026.
Sore hari, H-1 sebelum acara khataman berlangsung, aku dihubungi oleh salah satu panitia, Mbak Ami. Beliau memintaku untuk memberikan kesan pertama mengikuti tadarus Ramadan QN Doha pada saat acara nanti.
Aku cukup terkejut sekaligus merasa tersanjung. Dari dua belas peserta baru yang bergabung tahun ini, aku diminta mewakili untuk menyampaikan pengalaman.
Tentu saja aku mengiyakan.
Namun ternyata kejutan tidak berhenti sampai di situ.
Pada puncak acara khataman, aku benar-benar dibuat terharu ketika menerima penghargaan dari koordinator QN Doha, Ibu Emeraldina Darmidjas.
Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, atas hadiah Ramadan yang begitu indah di tahun ini.
Aku merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang baik dan menjadi bagian dari kegiatan yang begitu mulia.
Kadang doa memang tidak langsung dijawab. Tapi ketika waktunya tiba, Allah menghadirkannya dengan cara yang bahkan lebih indah dari yang kita bayangkan.
Dan pengalaman tadarus online pertama di Ramadan ini akan selalu menjadi kenangan yang sangat berharga dalam perjalanan hidupku.
Ramadan selalu punya cara menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang.
Semoga pengalaman pertama mengikuti tadarus online di Ramadan ini bisa menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam kebaikan selalu membawa kebahagiaan tersendiri.
Jika kamu pernah mengikuti tadarus bersama atau memiliki momen spiritual yang berkesan selama Ramadan, cerita apa yang paling kamu ingat?
Have a nice day!









Post a Comment