Manajemen Emosi dengan teknik Reframing

manajemen emosi dengan teknik reframing


Emosi merupakan kondisi psikologis yang berasal dari pengalaman individu bersifat subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh manusia. Emosi yang baik akan mempengaruhi sikap dan tindakan manusia. 

Pengertian emosi menurut Don Hockenbury dan Sandra E. Hockenbury dalam bukunya “Discovering Psychology”, emosi adalah kondisi psikologi yang kompleks yang mencakup tiga komponen berbeda, yaitu pengalaman subjektif, respon fisiologis, dan respon perilaku/ekspresif (Cherry, 2019).

Robert C. Solomon dalam artikelnya juga menulis bahwa emosi adalah pengalaman kompleks akan kesadaran, sensasi jasmani, dan perilaku yang mencerminkan pemaknaan perseorangan terhadap sebuah kejadian, keadaan, atau peristiwa.

Sederhananya, emosi adalah (kumpulan) perasaan terhadap sesuatu yang dipengaruhi subjektivitas kita, respon tubuh kita, dan respon perilaku kita. Tiga hal ini mempengaruhi emosi kita dengan caranya masing-masing.

Manajemen Emosi 

Manajemen Emosi adalah suatu cara yang dikembangkan dan dapat dipelajari untuk berdamai dengan amarah dan bahkan mengeluarkan amarah dengan cara yang positif dan produktif. Kemarahan bisa berbahaya atau bermanfaat, tergantung pada bagaimana dinyatakan.

Teknik Reframing

Reframing adalah upaya untuk membingkai ulang sebuah kejadian, dengan mengubah sudut pandang tanpa merubah kejadian itu sendiri.

Reframing mengajarkan kepada kita untuk melihat dan mempertimbangkan sudut pandang dari kacamata orang lain, untuk tidak memaksakan mengukur kaki orang lain dengan sepatu kita. 

Sebagian besar dari kita terlalu sibuk menyalahkan orang lain atas timbulnya suatu permasalahan dan menuntut agar orang lain lah yang harus berubah, orang lain lah yang harus mengerti kita. Hanya kalau kita berubah maka orang lain juga akan ikut berubah.

Akan tetapi tidak semua hal bisa kita lakukan Reframing.

Setelah membaca buku bapak Wiwoho (Perintis NLP Indonesia) tentang Reframing. Ada konsep penting besar, kita bisa mengenal diri kita dan setiap bagian atau peran di dalam diri kita. 

Reframing adalah salah satu teknik yang bisa kita pakai untuk terapi diri sendiri gratis tanpa efek samping.

Cara melakukan Reframing

Sebelum mulai latihan Reframing supaya autopilot, ada baiknya lakukan hal-hal berikut terlebih dahulu:
  1. Sadar Nafas, menikmati setiap tarikan nafas dan hembusan nafas yang dilakukan dengan memasukkan udara melalui hidung dan mulut tertutup dan biarkan udara masuk sampai perut menggembung, kemudian hembuskan udara melalui hidung dan perut mengempis. 
  2. Kenalilah bagian-bagian yang tidak kita sukai, tidak bermanfaat dan mengganggu aktivitas, misalnya perilaku yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain, baik yang lewat kata-kata maupun tindakan. 
  3. Memahami siapa diri dan menyadari bahwa ada banyak sumber daya unconscious atau tidak sadar yang belum kita gali lebih dalam selama ini.
Sambil melakukan Sadar Nafas dengan rileks, selanjutnya mari kita coba lakukan ini:
  1. Pikirkan sebuah perilaku,  internal (sesuatu yang anda katakan pada diri sendiri atau gambaran yang anda lihat di dalam diri sendiri) maupun eksternal (pada org lain), yang anda pikirkan tidak ada manfaatnya.
  2. Pisahkan perilaku dan tujuan. bayangkan bahwa perilaku itu tidak terpenuhi tujuannya. 
  3. Tanyakan pada diri kita. “Apa yang perilaku inginkan dariku?" Apakah dia mencoba menjelaskan sesuatu?”
  4. Biarkan diri Anda yang menjawabnya dengan spontan, meskipun jawaban itu tidak masuk akal. Bila jawaban itu negatif, tanyakan : "apa (jawaban negatif) yang hendak disampaikan pada saya?" Tanyakan terus sampai peroleh jawaban positif.

Teknik Reframing

Ada 6 teknik dari Reframing
  1. Konteks Reframing
  2. Meaning Reframing
  3. Six Steps Reframing, jika tidak tepat dan tidak terdapat titik temu maka lakukan teknik negosiasi antar bagian/berdamai dengan diri
  4. Negosiasi 
  5. Couple Reframing
  6. Sleight of mouth
 Untuk teknik-teknik tersebut di atas bisa digunakan dengan cara self -Healing.
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

1 komentar

  1. wah..memang perlu terus belajar untuk mengendalikan emosi. Informatif tulisannya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih bagi yang sudah berkunjung dan meninggalkan komentar.

Salam Hangat, April Hatni

Subscribe Our Newsletter