Menggapai Asa di Tanah Borneo

menggapai asa di tanah borneo

Masa Kecil

Aprilia Prihatini atau biasa dipanggil April, dulu sewaktu kecil hingga duduk dibangku SMA aku biasa dipanggil Lia, semasa kuliah teman-teman biasa memanggilku Prilly, karena  kebetulan di kelasku ada nama yang sama. Namun, semenjak bekerja dan pindah ke Qatar, aku memilih untuk dipanggil April, kenapa? karena panggilan Lia sudah terlalu banyak a.k.a pasaran, hehe…

Aku dilahirkan di Nganjuk, 22 April, adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Almarhum Bapak adalah seorang pensiunan Kepala Sekolah SD dan Ibu adalah seorang pensiunan guru SD. Kakak dan adikku juga seorang guru, ya kami memang keluarga guru. Kakakku (Ika Irin) sekarang mengajar di Sangatta, Kalimantan Timur, sedangkan adik (Dedi Tri) mengajar di Nganjuk, Jawa Timur. 

Di usia 3 tahun, aku sudah memulai jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak di TK Dharma Wanita yang berada di desa Baleturi, Prambon, Nganjuk. Setelah selesai jenjang TK, aku melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu SD di usia 4 tahun di daerah yang sama pula. Entah kenapa dulu (tahun 1986-1987) siswa usia 4 tahun bisa masuk SD.

Kemudian setelah tamat SD, aku melanjutkan pendidikan SMP, SMP Negeri 1 Prambon. Di SMP Negeri 1 Prambon ini yang berada di Desa Watudandang, aku hanya sampai kelas 2, karena terlalu jauh dari rumah, kemudian aku pindah ke SMP Negeri 2 Prambon yang lebih dekat dari rumah, bahkan bisa ditempuh 15 menit dengan jalan kaki.

Setamat SMP, aku melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA, yaitu di SMA Negeri 1 Prambon yang berada di Desa Sugihwaras yang letaknya juga tak jauh dari rumah. Di kelas 3 SMA, aku mengambil jurusan IPS, karena memang kurang minat di Sains

Masa Kuliah

Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah tempat menimba ilmu selanjutnya. Sempat menargetkan diri lulus genap 4 tahun, namun takdir berkata lain. Karena Skripsiku belum selesai sesuai deadline yang aku tentukan, dan sempat berganti judul.

fakultas sastra universitas negeri malang


Di sela-sela kesibukan mengerjakan Skripsi, ada tawaran mengajar untuk kelas BIPA. Karena ini merupakan kesempatan emas, jarang didapatkan oleh semua mahasiswa, maka tanpa ragu aku mengiyakan tawaran mengajar tersebut. 

BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) adalah sebuah program yang dimiliki oleh Fakultas Sastra  dan diperuntukkan bagi mahasiswa asing yang ingin belajar Bahasa Indonesia. 

Di sini aku mengajar beberapa mahasiswa asing, diantaranya tiga mahasiswa dari Jepang dan satu mahasiswa dari Australia (sayangnya aku tidak mempunyai dokumentasi berupa foto). Aku sangat mencintai kegiatanku tersebut, karena memang saat itu passionku di bidang belajar-mengajar. 

Bekerja sambil mengerjakan Skripsi tak membuatku kewalahan, justru aku merasa semakin berbinar dan bersemangat dalam melalui hari-hariku. Aku bekerja di sini kurang lebih 4-5 bulan. 

Setelah beberapa bulan aku mengajar di BIPA, ada sebuah lowongan menarik yang membuatku tertantang  untuk mencoba melamar. Kala itu aku memang sudah lulus kuliah, alhamdulillah. 

Ketika berjalan menuju kantor tempatku bekerja, tak sengaja aku melihat Brosur yang terpampang di kaca kantor LPPM-UM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Negeri Malang). “Wah menarik nih” pikirku waktu itu. 

Aku yang sedari dulu memang mempunyai cita-cita untuk bisa mengajar di Bontang, merasakan ini adalah sebuah kesempatan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Aku harus mencobanya! Bisikku kala itu agar lebih bersemangat.

Kenapa sih harus di Yayasan Pupuk Kaltim? Ini pun bukan tanpa alasan, aku bener-bener terobsesi untuk bisa pergi ke sana, selain gajinya yang lumayan, syukur-syukur ketemu jodoh yang bekerja di Pupuk Kaltim, ya kan? Seperti pepatah bilang “Menyelam sambil minum air”, bekerja sambil cari jodoh, ups, haha… 

Sebenarnya di BIPA pun aku merasa sangat enjoy, sistem bekerjanya pun santai (kadang sehari cuma 4-5 jam), tanpa ada tekanan dari pihak manapun, dan gaji juga cukup lumayan lah bila dibandingkan tenaga honorer di luar sana. Namun kan pada prinsipnya selagi masih muda, ada kesempatan pula kenapa tidak, mengembangkan diri dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya itu sangat penting. Betul nggak? 

Alhasil, tanpa pikir panjang, aku segera memasukkan lamaran pekerjaan di LPPM-UM tersebut. Serangkaian tes aku jalani, mulai dari tes tulis, Psikotes dan interview, alhamdulillah lolos. Aku berhasil dan diterima bekerja di Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang.
 

Berangkat ke Bontang

Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau ini.

Pada zaman dahulu, Borneo yang berasal dari nama kesultanan Brunei adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda untuk menyebut pulau ini secara keseluruhan, sedangkan Kalimantan adalah nama yang digunakan oleh penduduk bagian timur pulau ini yang sekarang termasuk wilayah Indonesia.

Wilayah utara pulau ini (Sabah, Brunei, Sarawak) untuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Sementara untuk Indonesia wilayah Utara, adalah provinsi Kalimantan Utara.

Dalam arti luas "Kalimantan" meliputi seluruh pulau yang juga disebut dengan Borneo, sedangkan dalam arti sempit Kalimantan hanya mengacu pada wilayah Indonesia.(Wikipedia.org)

Bersama kedelapan rekan seangkatan, aku berangkat ke Bontang pada Juli 2006. Saat itu ada dua rekan guru Bahasa Indonesia (Bu Sri dan Bu Meila), empat rekan guru Bahasa Inggris (Bu Galih, Pak Said, Bu Umi dan Pak Ryan), satu Guru Pendidikan Seni (Pak Apris) dan satunya lagi Guru Komputer (Pak Didik). 

Tiba di Bandara Sepinggan-Balikpapan, kami dijemput oleh Pak Hendro, salah satu staff kantor Yayasan Pupuk Kaltim. Perjalanan Balikpapan-Bontang kurang lebih 5-6 jam ditempuh dengan kendaraan roda empat. 

SMP Yayasan Pupuk Kaltim


Dalam perjalanan, ada satu rekan yang mabuk darat, karena memang desain jalannya berkelok-kelok, sehingga mengguncang isi perut.

Setiba di Bontang, kami langsung menempati sebuah rumah dinas yang disediakan oleh Perusahaan Pupuk Kaltim, yang berada di Jalan Soka No.1 PC VI PKT. Berbagai karyawan dari Pupuk Kaltim, tinggal di area kompleks yang kami tempati, mulai Jaksa, Guru, dan karyawan perusahaan. 

Rumah dinas yang disediakan sangatlah nyaman, bersih dan yang terpenting Air tercukupi (untuk mandi dan mencuci pakaian). Dulu pernah ada yang bilang, jika hidup di Bontang sudah mendapatkan air dan listrik kadang-kadang padam. Alhamdulilah itu semua belum pernah aku alami selama di sana.

Area rumah dinas dekat hutan, konon dulunya memang Hutan. Tak jarang aku melihat Biawak, Kera dan Ular di belakang rumah. Kurang lebih setahun aku mengajar di sana, SMP YPK, betah dan sangat senang, meskipun jauh dari Warung ataupun Pasar. Untuk biaya hidup cukup lumayan lah, sekali makan Rp 4000- Rp 10.000, terasa banget buatku yang nggak bisa memasak. 

foto di depan rumah dinas PT Pupuk Kaltim


Aku berangkat mengajar terkadang dengan Bus Sekolah maupun menumpang seorang guru, rekan kerjaku. Pernah juga aku pakai jasa Ojek, salah satu Office Boy tempatku mengajar, upahnya sebulan 100 ribu. Namun hanya beberapa bulan saja, setelah itu ditawari rekan kerja untuk berangkat dengannya setiap hari, alhamdulillah.

Membuat KTP di Bontang

Karena di Yayasan Pupuk Kaltim statusku hanya guru kontrak (setahun), dan aku sudah merasakan nyaman tinggal di sana, akhirnya aku berencana untuk ikut tes CPNS jika nanti ada. Langkah pertama yang mesti aku ambil adalah dengan membuat KTP Bontang.

Alhamdulillah saat proses pengurusan, aku dibantu oleh seorang teman yang bernama Yono. Dia orangnya baik dan suka menawarkan bantuan. Yono asalnya juga dari Nganjuk, tapi dia sudah lama tinggal di Bontang, ikut kakaknya, yang mana kakaknya ini temanku sekantor.

Pengurusan mulai dari rumah Pak RT, kantor kelurahan dan kantor kecamatan, tak ada hambatan yang aku hadapi. Semuanya lancar dan KTP selesai dibuat kurang lebih 4 hari kerja. Saat itu sih memang aku saja yang punya KTP Bontang, rekan-rekan seangkatanku belum ada yang berniat untuk membuatnya.

Bertemu Jodoh

Tiga bulan berlalu, layaknya anak muda jaman sekarang, aku membuat akun Media Sosial yaitu Friendster. Jaman dulu belum ada Twitter, Facebook, Instagram, WhatsApp dan lainnya seperti saat ini. 

Di Friendster itulah aku bertemu mantan yang sekarang jadi suamiku, insyaallah suami dunia akhirat, aamin. Kala itu memang ada target menikah di usia 23 tahun, mempunyai calon suami yang sudah matang, mempunyai pekerjaan tetap dan lulusan sarjana dari tiga Perguruan Tinggi (UI, UGM, UNAIR).

Alhamdulillah dikabulkan juga oleh Allah. Edy Triantara namanya, doi berasal dari Yogyakarta, adalah Sarjana lulusan Kimia Universitas Gadjah Mada dan bekerja di salah satu perusahaan petrokimia, TPPI-Tuban, Jawa Timur. 

Proses mengenalnya terbilang singkat, kurang lebih satu bulan, seringnya komunikasi hampir setiap hari, baik melalui chat, email, SMS maupun telpon, membuat kami merasa cocok satu sama lain dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah di bulan April 2007. 

Memang dipikir-pikir sangat di luar nalar ya, tapi itulah jodoh, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya dan hanya komunikasi melalui udara, tapi kalau sudah Allah tetapkan, dari yang awalnya imposible menjadi posible. Kok aku percaya banget sama doi? Nggak takut tertipu dan lain sebagainya? Pastinya itu semua ada tipsnya lah, selama mengenal satu sama lain, kami secara jujur bertukar informasi mengenai diri kami masing-masing. 

Sehingga kejujuran itulah yang memantapkan kami berdua waktu itu. Kenal di bulan Agustus 2006, bertemu (tatap muka) di bulan Desember 2006 dan memutuskan menikah di bulan April 2007. Mohon doanya teman-teman, semoga kami berjodoh dunia akhirat. Aamin Ya Rabbal Alamin.

Sekian
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter