Pengaruh Media Digital terhadap Fitrah Seksualitas Anak

Media digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin
(machine-readable). Media digital dapat dibuat, dilihat, didistribusikan, dimodifikasi dan bisa bertahan pada perangkat elektronik digital.
Contoh media sosial diantaranya: video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data sedangkan media digital antara lain; database; digital audio, seperti mp3, mp4 dan e-buku.
Media Digital yang umum di Sekitar Anak
Dahulu media yang akrab bagi kita hanyalah televisi dan radio. Sekarang zaman telah berubah. Apa saja media yang umum bagi anak sekolah dan remaja masa kini?
Televisi. 
Kini, jumlah saluran TV semakin banyak dan layanan TV kabel semakin meluas.
Tayangan TV kini juga banyak yang dapat dinikmati melalui internet. Meskipun remaja
sekarang lebih sering online daripada menonton TV, media ini masih menjadi salah satu
sumber utama tontonan anak-anak kita; Smartphone dan tablet. Semakin banyak anak yang memiliki akses terhadap gadget, baik milik orang tuanya maupun miliknya sendiri, yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan menggunakan apps untuk berbagai keperluan.
Survey APJII pada tahun 2016 menunjukkan bahwa media sosial adalah konten yang paling sering diakses di internet. Adapun media sosial yang paling populer di Indonesia adalah Facebook, Instagram, dan Youtube.
Kemudiang; Video games. Sejak adanya smartphone, anak dengan mudah dapat bermain game di mana saja ia berada. Namun, rental dan warnet yang menyediakan fasilitas game juga masih menjamur dan seringkali menjadi tempat nongkrong anak-anak usia sekolah.

Efek Positif penggunaan MEDIA DIGITAL pada Anak
1. Komunikasi
2. Meningkatkan peran layanan publik
3. Sumber informasi
4. Pembelajaran jarak jauh
5. Jejaring Sosial
6. Bangun Kreatifitas
Efek Negatif penggunaan MEDIA DIGITAL pada Anak
1. Tumbuh menjadi pribadi yang egois dan sulit bergaul
2. Perkembangan otak anak tidak seimbang
3. Kesulitan mengenali emosi
4. Perkembangan bahasa pada anak dapat tertunda
5. Aktifitas fisik anak berkurang, terlalu banyak bermain di perangkat digital
6. Sering menahan lapar, haus dan keinginan buang air yang dapat mengganggu percernaan

“Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anak, terutama ibu. Al umm madrasatul uulaa”


Karena itu orang tua harus memberikan contoh dalam perilaku dan moral, sehingga bisa jadi role model untuk anak-anaknya.

Memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan fitrahnya dalam hal Pendidikan Seksualitas. Menunjukkan sisi feminin bagi seorang Ibu dan sisi maskulin bagi seorang Ayah.
Memberi contoh perilaku yang dapat dicontoh, ketika memilih dan membedakan konten yang baik dan buruk dalam hal interaksi dengan media digital.

Tantangan menumbuhkan fitrah seksualitas anak di era digital
Salah satu tantangan yang muncul dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak adalah
derasnya arus informasi melalui media digital. 
Terdapat konten dari media digital yang dapat berpengaruh negatif pada fitrah seksualitas anak:
1. Konten pornografi yang mempengaruhi perilaku anak.
2. Konten LGBT yang mempengaruhi kesadaran identitas gender anak. 
3. Kebebasan informasi dan berekspresi di media digital khususnya media social, banyak
mempengaruhi pola pikir dan perilaku. 
Misalnya : gaya berpakaian dan perilaku bebas yang tidak sesuai dengan budaya dan
ajaran agama, isu kesetaraan gender yang  disalahartikan.

Upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga fitrah keseksualitasan anak
• Membekali anak dengan Ilmu terutama ilmu agama
• Memberi contoh dana teladan dalam perilaku dan moral sesuai dengan kefitrahannya
• Memperkenalkan batasan aurat dan mungkin cara
berinteraksi antar laki-laki dan perempuan didalam agama islam
• Orangtua juga harus banyak belajar dan upgrade ilmu dalam parenting untuk bisa mendampingi anak dalam era pesatnya perkembangan teknologi

Panduan membersamai Anak menggunakan media digital
1. Batasi penggunaan media digital sesuai dengan usia Anak
2. Diskusikan isi/konten tontonan dari media yang baru saja dilihat antara anak dan orang tua, supaya anak bisa belajar memilah mana yang mempunyai nilai positif atau sebaliknya
3. Patuhi usia minimum yang disyaratkan untuk membuat akun di media sosial
4. Gunakan teknologi digital untuk membantu membatasi akses anak ke konten negatif, misalnya: YouTube Kids, Kiddle dan Kakatu

KESIMPULAN 
Membesarkan anak di zaman millenial butuh usaha ekstra dibanding puluhan tahun yang lalu.  Perkembangan dunia digital tak hanya memberi kemudahan, malah kadang membuat ‘gap’ antara orangtua dan anak. Perkembangan ini bak pisau bermata dua. Apabila salah digunakan bisa mencelakai penggunanya, semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan semakin "tajam pisaunya". Ini membutuhkan ekstra tanggung jawab dari penggunanya, ataupun orang tua.

#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangIIP
#Bunsay4Gabungan3
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter