aprilhatni.com
aprilhatni.com

Stres dan Stroke: Pelajaran dari Sebuah Seminar Health Talk

stres dan stroke

“Sebelumnya, kukira bahwa stroke hanya menyerang orang lanjut usia. Aku juga mengira orang yang terkena hipertensi pasti bertubuh gemuk. Ternyata, kedua anggapan itu tidak sepenuhnya benar.”

Itulah salah satu pelajaran yang kubawa pulang setelah menghadiri seminar Health Talk: Stress & Stroke - Risiko Tersembunyi yang Tak Disadari, yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Indonesia Timur Tengah (PDITT) bekerja sama dengan KBRI Doha dan Permiqa, pada Jumat, 12 Juni 2026, di Auditorium KBRI Doha.

Seminar ini menghadirkan dua dokter spesialis, yaitu dr. Murni Sri Hastuti, Sp.N (Spesialis Neurologi) dan dr. Shabrina Herdiana Putri, Sp.KJ (Spesialis Kedokteran Jiwa), serta seorang penyintas stroke, Ibu Efi Tanjung, yang membagikan kisah perjuangannya melawan stroke.

Aku menghadiri acara tersebut dengan pikiran bahwa seminar ini hanya akan membahas hubungan antara stres dan stroke. Namun ternyata lebih dari itu, pemahaman yang jauh lebih luas tentang bagaimana kesehatan mental, gaya hidup, dan penyakit kronis saling berkaitan.

Stroke Tidak Lagi Menyerang Orang Tua

Menurut dr. Murni Sri Hastuti, stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terhenti karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Tanpa suplai oksigen, sel-sel otak mulai mengalami kerusakan hanya dalam hitungan menit.

Yang cukup mengejutkan adalah kenyataan bahwa sebagian besar kasus stroke kini justru terjadi pada usia produktif (15-64 tahun). Artinya, stroke bukan lagi penyakit yang identik dengan lansia.

Hal ini menjadi pengingat bahwa usia muda bukan jaminan terbebas dari risiko stroke.

Faktor Risiko yang Bisa Kita Kendalikan

Dalam pemaparannya, dr. Murni menjelaskan bahwa ada faktor risiko yang tidak bisa diubah, seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga.

Namun, ada banyak faktor yang justru bisa kita kendalikan, di antaranya:
  • hipertensi (tekanan darah tinggi),
  • diabetes,
  • kolesterol tinggi,
  • penyakit jantung,
  • obesitas,
  • merokok,
  • kurang olahraga,
  • pola makan tinggi garam,
  • kurang tidur,
  • serta stres yang berlangsung lama.

Dari semua faktor tersebut, hipertensi menjadi faktor risiko terbesar terjadinya stroke. Bahkan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko stroke berkali-kali lipat.

Karena itulah, menjaga tekanan darah tetap normal merupakan langkah pencegahan yang sangat penting.

Apakah Stres Benar-Benar Bisa Menyebabkan Stroke?

Inilah materi yang paling kutunggu.

dr. Shabrina Herdiana Putri menjelaskan bahwa stres tidak secara langsung menyebabkan stroke, tetapi stres kronis dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

hubungan stres dan stroke

Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh terus berada dalam kondisi “siaga”. Hormon stres meningkat, tekanan darah ikut naik, kualitas tidur memburuk, gula darah meningkat, dan akhirnya memengaruhi kesehatan pembuluh darah.

Belum lagi perubahan gaya hidup yang sering mengikuti stres, seperti:
  • makan berlebihan,
  • merokok,
  • kurang bergerak,
  • tidur larut malam,
  • atau mengabaikan kesehatan.

Kombinasi inilah yang akhirnya meningkatkan risiko stroke.

Jadi, bukan berarti setiap orang yang stres pasti akan terkena stroke. Namun bila stres berlangsung lama dan disertai faktor risiko lain, bahayanya menjadi jauh lebih besar.

Ternyata Tidak Semua Stres Itu Buruk

Satu hal menarik yang kucatat dari materi dr. Shabrina adalah perbedaan antara eustress dan distress.

Eustress adalah stres yang justru memotivasi seseorang untuk berkembang, menyelesaikan pekerjaan, atau menghadapi tantangan.

Sebaliknya, distress adalah stres yang membuat seseorang merasa kewalahan, kehilangan kendali, hingga mengganggu kesehatan fisik maupun mental.

Artinya, tujuan kita bukan menghilangkan stres sepenuhnya, tetapi belajar mengelolanya.

Kisah Nyata yang Membuat Ruangan Terdiam

Bagian yang paling menyentuh adalah ketika penyintas stroke, Ibu Efi Tanjung, menceritakan pengalamannya.

Hari itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

penyebab stroke

Beliau masih sempat berkumpul bersama teman-teman, berjalan-jalan ke mall, lalu menikmati waktu (ngopi) di sebuah cafe.

Semuanya terasa normal.

Namun sesampainya di rumah, ketika hendak berwudu, tangan kirinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan.

Pandangannya menggelap.
Beberapa saat kemudian beliau terjatuh di kamar mandi.

Karena pintu kamar mandi terkunci dari dalam, suaminya segera menghubungi layanan ambulans 999. Beruntung, pertolongan datang dengan cepat sehingga beliau dapat segera dibawa ke Hamad Hospital.

Ibu Efi menjalani perawatan sekitar dua bulan dan rutin menjalani fisioterapi hingga akhirnya mampu kembali beraktivitas seperti biasa.

Saat mengalami stroke, usia beliau baru 43 tahun.

Beliau memang memiliki riwayat hipertensi dan rutin mengonsumsi obat. Namun pada hari itu, beliau lupa meminum obat tekanan darah sebelum keluar rumah.

Kisah tersebut membuatku kembali menyadari bahwa stroke bisa datang tanpa banyak peringatan.

Pelajaran yang Paling Membuka Mata

Ada satu hal yang benar-benar mengubah cara pandangku.
Selama ini aku mengira penderita hipertensi identik dengan tubuh gemuk.

Ternyata tidak.

Ibu Efi memiliki tubuh yang relatif kurus.
Beliau juga mengaku cukup menyukai makanan bersantan dan makanan yang asin.

Dari sini aku belajar bahwa bentuk tubuh bukan satu-satunya indikator kesehatan.
Seseorang bisa terlihat sehat dari luar, tetapi tetap memiliki tekanan darah tinggi yang tidak disadari.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala jauh lebih penting daripada sekadar menilai penampilan fisik seseorang.

Kenali Gejala Stroke Sejak Dini

Dalam seminar tersebut juga dijelaskan tanda-tanda stroke yang harus segera dikenali.
  • Jika seseorang tiba-tiba mengalami:
  • senyum menjadi tidak simetris,
  • salah satu tangan atau kaki melemah,
  • bicara pelo atau sulit berbicara,
  • pandangan kabur,
  • sakit kepala hebat yang datang mendadak,
maka jangan menunggu gejala membaik sendiri.

Segera bawa ke rumah sakit.

Stroke memiliki golden period atau masa emas penanganan. Semakin cepat mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk sembuh dan mengurangi kecacatan.

Merawat Pikiran Berarti Merawat Otak

Salah satu kalimat penutup dari dr. Shabrina yang paling kuingat adalah:
Merawat pikiran sama dengan merawat otak.
Kesehatan mental ternyata bukan hanya soal suasana hati.

Mengelola stres, beristirahat cukup, berolahraga, menjaga pola makan, memperbanyak ibadah, serta memiliki dukungan sosial merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak.

stres kronis dan stroke

Seminar ini mengingatkanku bahwa kesehatan tidak cukup hanya diukur dari berat badan atau penampilan.

Tekanan darah perlu diperiksa secara rutin.
Stres perlu dikelola.
Tidur perlu dijaga.

Dan yang paling penting, jangan pernah menunda mencari pertolongan medis ketika muncul tanda-tanda stroke.

Karena dalam kasus stroke, setiap menit sangat berarti.

Catatan Pribadi

Dari seluruh materi yang disampaikan hari itu, ada satu pesan yang paling membekas dalam pikiran:

kesehatan mental dan stroke

Kita memang tidak bisa mengendalikan usia atau faktor keturunan. Namun kita masih memiliki kendali atas gaya hidup, kesehatan mental, dan kebiasaan sehari-hari. 

Dan mungkin, justru dari hal-hal sederhana itulah kita sedang menjaga otak dan masa depan kita.

Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!
OlderNewest

Post a Comment