aprilhatni.com
aprilhatni.com

Empati yang Sehat Tidak Mengharuskan Kita Tenggelam Bersama

trauma akibat kekerasan fisik dan verbal

Tidak semua orang yang menyakiti lahir sebagai pribadi yang jahat. Sebagian dari mereka hanyalah manusia yang terlalu lama hidup di dalam luka.

Aku pernah memiliki seorang teman yang hidupnya penuh dengan kekerasan dalam hubungan. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mendapatkan verbal abuse dan physical abuse dari pasangannya sendiri.

Bentakan, hinaan, ancaman, perlakuan kasar, hingga kata-kata yang merendahkan harga dirinya menjadi bagian dari hidup yang terus ia telan setiap hari.

Awalnya, aku benar-benar merasa iba.

Aku berpikir mungkin sikapnya yang ‘nggak normal’ selama ini hanyalah bentuk trauma yang belum sembuh. Aku mencoba memahami dirinya. Menjadi pendengar. Menjadi tempat ia bercerita saat hidupnya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Namun semakin lama mengenalnya, aku mulai memahami satu hal yang cukup menyakitkan:
Luka yang tidak disembuhkan sering kali berubah menjadi luka baru bagi orang lain.

Trauma Bisa Mengubah Cara Seseorang Memperlakukan Orang Lain

Banyak orang mengira trauma hanya membuat seseorang menjadi sedih atau murung. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Trauma akibat kekerasan verbal dan fisik bisa mengubah cara seseorang berpikir, merespons situasi, bahkan memperlakukan orang lain. 

Orang yang terlalu lama hidup di dalam tekanan biasanya selalu berada dalam mode “bertahan hidup”. Ia sulit merasa aman. Sulit tenang meski berada di lingkungan yang sebenarnya tidak mengancam.

Itulah yang perlahan kulihat pada dirinya.

Ia menjadi sangat defensif. Sedikit kritik terasa seperti serangan besar baginya. Kadang ia memperlakukan orang lain sesuka hatinya. Tidak terpikir apakah sikapnya tersebut akan menyakiti atau mengecewakan orang lain atau tidak.

Bahkan dalam obrolan biasa pun, emosinya sering tidak stabil.

Jika kami berbicara serius, fokus pembicaraannya mudah buyar. Ia sering mengalihkan topik tiba-tiba. Jawabannya tidak nyambung. Terkadang aku merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sebenarnya masih sibuk bertarung dengan pikirannya sendiri.

Saat itu aku sadar, kekerasan emosional memang bisa meninggalkan bekas yang sangat dalam.

Ketika Korban Kekerasan Mulai Melukai Orang Lain

Aku tidak pernah meragukan bahwa ia adalah korban. Tetapi aku juga tidak bisa menutup mata bahwa tanpa sadar, ia mulai “melukai” orang sekitarnya.

Salah satu sikap yang paling sering muncul adalah playing victim.

Ketika terjadi masalah, ia hampir selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling tersakiti. Bahkan saat ia melakukan kesalahan, situasi bisa diputar sedemikian rupa hingga orang lain yang akhirnya merasa bersalah.

Kadang ia juga manipulatif secara emosional.

dampak verbal abuse

Ia ingin dipahami, tetapi sulit memahami orang lain. Ia ingin didengarkan, tetapi tidak mampu mendengarkan dengan tenang. Ketika orang lain mulai menjaga jarak demi kesehatan mentalnya sendiri, ia menganggap itu sebagai bentuk pengkhianatan.

Lama-lama aku mulai kelelahan.

Bukan karena tidak peduli, tetapi karena energi emosionalku terus terkuras. Aku mulai merasa harus selalu berhati-hati saat berbicara agar tidak memicu emosinya. Aku mulai merasa bersalah hanya karena ingin memiliki ruang untuk diri sendiri.

Dan di situlah aku mulai memahami sesuatu yang penting: Empati tanpa batas bisa menghancurkan diri kita sendiri.

Empati Tidak Harus Membuat Kita Jadi “Penyelamat”

Ada banyak orang baik di dunia ini yang terlalu mudah merasa kasihan. Mereka bertahan di hubungan yang melelahkan karena berpikir, “Dia seperti ini karena pernah disakiti.”

Aku juga pernah berpikir seperti itu.

Aku terus mencoba memahami. Terus memaklumi. Terus memberi ruang. Karena aku berharap suatu hari lukanya akan sembuh dan ia bisa berubah menjadi lebih baik.

Tetapi kenyataannya, tidak semua orang yang terluka benar-benar ingin sembuh.

Sebagian hanya ingin dimengerti tanpa mau memperbaiki diri. Sebagian ingin diselamatkan, tetapi tidak mau bertanggung jawab atas emosinya sendiri. Dan sebagian lagi tanpa sadar menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan dari rasa sakit yang belum selesai.

Di titik tertentu, aku mulai bertanya pada diri sendiri:
“Kalau terus memahami tanpa menjaga diri, bukankah aku juga bisa ikut tenggelam?”

Pertanyaan itu akhirnya menyadarkanku bahwa membantu orang lain tetap membutuhkan batas yang sehat.

Kita boleh peduli. Boleh menemani. Boleh mendukung proses penyembuhan seseorang. Tetapi kita juga tetap berhak menjaga kesehatan mental kita sendiri.

Trauma Bukan Pembenaran untuk Menyakiti

Aku percaya trauma itu nyata. Dampaknya juga sangat besar terhadap mental seseorang. Banyak penelitian psikologi menjelaskan bahwa korban kekerasan emosional dapat mengalami kecemasan, ledakan emosi, kesulitan mengontrol respons, hingga gangguan kepercayaan terhadap orang lain.

Tetapi satu hal yang juga penting dipahami:
Trauma mungkin menjelaskan alasan seseorang bertindak buruk, tetapi trauma tidak bisa terus dijadikan pembenaran untuk melukai orang lain.

Karena pada akhirnya, setiap orang tetap bertanggung jawab atas perilakunya sendiri.

korban verbal abuse

Kita tidak bisa terus berkata kasar, memanipulasi, atau melukai orang lain lalu berlindung di balik masa lalu yang kelam. Sebab jika luka terus diwariskan, rantai itu tidak akan pernah selesai.

Dan sayangnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya sudah berubah menjadi pribadi yang sama menyakitkannya dengan orang yang dulu melukainya.

Menjaga Diri Bukan Berarti Tidak Peduli

Awalnya aku merasa bersalah ketika mulai menjaga jarak dengannya. Seolah-olah aku adalah orang jahat karena tidak lagi mampu menjadi tempat bersandar baginya.

Namun semakin ke sini, aku mulai memahami bahwa menjaga diri bukanlah bentuk kejahatan.

Kadang, menjauh justru menjadi keputusan paling sehat.

Karena jika terlalu lama berada di dekat orang yang penuh amarah, manipulasi, dan luka yang tidak terselesaikan, perlahan kita juga ikut kehilangan ketenangan. Energi mental terkuras. Emosi menjadi tidak stabil. Bahkan kita bisa mulai mempertanyakan kewarasan diri sendiri.

Dan itu sangat berbahaya.

Akhirnya, aku belajar bahwa menjadi orang baik tidak berarti harus selalu bertahan di hubungan yang melelahkan secara mental. Menjadi penyayang juga tidak berarti harus menerima semua perlakuan buruk atas nama empati.

Ada batas yang tetap harus dijaga.
Ada hubungan yang memang perlu diberi jarak.

Dan ada situasi di mana kita harus berkata:
“Aku peduli padamu, tetapi aku juga harus menjaga diriku sendiri.”

Pelajaran Terbesar yang Aku Dapatkan

Hari ini aku memahami satu hal penting: 
Kita tidak harus membenci orang yang terluka. Tetapi kita juga tidak wajib menjadi tempat pelampiasan lukanya.

Empati adalah hal yang indah. Namun empati yang sehat tidak menghancurkan diri sendiri.

trauma physical abuse

Kadang, bentuk cinta terbesar kepada diri sendiri adalah tahu kapan harus berhenti menjadi “penyelamat” bagi orang lain.

Karena tidak semua luka bisa kita sembuhkan. Dan tidak semua orang bisa kita selamatkan, terutama jika mereka sendiri belum ingin menyembuhkan dirinya.

Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!
OlderNewest

Post a Comment