aprilhatni.com
aprilhatni.com

Romansa di Jalan Ambarawa - Part 2 (akhir)

romansa di jalan ambarawa part akhir

Tepat sehari sebelum keberangkatanku ke Bontang, Rasyid datang lagi ke kost.

Aku sedikit kaget, sekaligus penasaran. Ada urusan apa, ya?

“Dek, gimana kabarmu?”
“Kamu udah makan, belum?” tanyanya, seperti biasa, hangat, tapi terasa ada yang berbeda.

“Belum,” jawabku singkat.

“Yuk, kita makan di luar. Ada yang mau aku bicarakan.”

Aku ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk pelan.

Kami makan dalam suasana yang tidak sepenuhnya canggung, tapi juga tidak bisa dibilang nyaman. Ada jeda-jeda kecil di antara percakapan, seolah masing-masing sedang menata kata yang tepat.

Setelah selesai makan, ia menatapku lebih serius.

“Dek. Aku udah lulus. Sekarang juga sudah kerja.”

Aku mengangguk.
“Oh ya? Selamat, ya.”

“Terima kasih” jawabnya.

Aku mencoba tersenyum, lalu bertanya, “Terus kamu ke Malang lagi karena ada urusan di kampus?”

Ia menggeleng pelan.
“Nggak. Aku ke sini… buat ketemu kamu.”

Aku diam.

“Aku mau ngomong sesuatu yang dari dulu belum sempat aku sampaikan dengan benar,” lanjutnya.

Aku menunggu.

“Ingat waktu kamu menghilang tanpa kabar, Dek?”

“We can start over, Dek?”

Aku sedikit terkejut.

“Iya, Mas. Maafkan aku.”
“Terus, maksudmu... mulai apa?” tanyaku.

“Melanjutkan yang sempat terhenti… kamu hentikan.”

Aku menarik napas panjang.
“Hah?”

“Iya. Gimana?” Tanyanya lagi.

Aku menatapnya, mencoba memahami apakah ini keputusan yang benar-benar sudah ia pikirkan matang, atau hanya dorongan perasaan sesaat.

“Tapi, aku besok berangkat ke Bontang, Mas. Aku diterima kerja di YPK. Dan… sepertinya akan sulit kalau harus menjalani hubungan jarak jauh. Aku nggak bisa.”

Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan,
“Nggak apa-apa. Nanti aku bisa ke Bontang tiap bulan.”

Aku tersenyum tipis.
“Kedengarannya sederhana, tapi menjalaninya nggak akan semudah itu.”

“Jadi… kamu nolak?”

Aku menggeleng pelan.
“Bukan nolak. Aku cuma… belum bisa sekarang.”

“Karena?”

Aku menatap meja, lalu menjawab jujur,
“Aku lagi ingin fokus ke diriku sendiri dulu. Ke karierku. Aku ingin membuktikan kalau semua usaha orang tuaku selama ini nggak sia-sia.”

Ia terdiam. Lama.

Dan di situlah aku sadar, kadang jawaban paling jujur memang tidak selalu menjadi jawaban yang paling menyenangkan.

“Aku ngerti,” katanya akhirnya, meski terdengar sedikit berat.
“Cuma… kalau nanti kamu berubah pikiran…”

Aku tersenyum kecil.
“Kita lihat nanti, ya.”

Keesokan harinya, aku berangkat ke Bontang.

Perjalanan itu bukan hanya tentang pindah kota. Tapi juga tentang meninggalkan sebagian rasa yang dulu pernah ada.

Hari-hariku di Bontang berjalan cepat. Dunia kerja menyita hampir seluruh waktuku. Aku belajar banyak hal baru tentang tanggung jawab, tentang tekanan, tentang berdiri di atas kaki sendiri.

Sesekali, Rasyid masih menghubungiku.
Menanyakan kabar.
Mengirim pesan sederhana.
Kadang, mengingatkanku untuk makan tepat waktu.

Aku membalas, tapi tidak lagi dengan rasa yang sama.
Bukan karena dia berubah.

Tapi karena aku yang sudah berbeda.
Jarak bukan hanya memisahkan kota. Tapi juga perlahan mengubah rasa.

Beberapa bulan berlalu.
Suatu malam, aku duduk sendiri di kamar mess. Hujan turun pelan di luar. Entah kenapa, aku teringat percakapan kami waktu itu.

Tentang “memulai lagi.”

Tentang kemungkinan yang sempat ada, tapi tidak pernah benar-benar diperjuangkan.

Aku tersenyum kecil.

Mungkin, memang tidak semua yang pernah dekat harus berakhir bersama.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita sesuatu.

Tentang waktu yang tidak tepat.
Tentang perasaan yang tidak cukup kuat.
Atau tentang versi diri kita yang belum siap.

Setahun kemudian, aku mendengar kabar tentangnya.

Ia sudah menikah.
Dengan seseorang yang, mungkin, datang di waktu yang lebih tepat.

Dan anehnya… aku tidak merasa sedih.
Aku justru merasa lega.

Karena akhirnya aku paham, bahwa keputusan yang kuambil waktu itu bukanlah penolakan.
Melainkan bentuk keberanian untuk memilih jalan hidupku sendiri.

tidak pernah benar-benar berakhir dengan kata “kita”.

Namun ia tetap menjadi cerita.

Cerita tentang pertemuan.
Tentang jeda.
Dan tentang perpisahan yang tak pernah benar-benar diucapkan.

Dan mungkin, memang begitu seharusnya.

Tidak semua kisah cinta harus selesai dengan bersama.
Kadang, cukup dikenang… sebagai bagian dari perjalanan hidup yang pernah berarti.

Karena dari setiap perpisahan, hidup sedang mengarahkan kita menuju pertemuan yang baru.

Dan saat itu, aku belum tahu…
bahwa semesta sedang menyiapkan seseorang yang akan datang dengan cara paling sederhana.

Seminggu setelah mendengar kabar tentang Rasyid, Pak Sobirin, teman sesama guru di sekolah sempat menghampiriku di ruang guru.

“Bu Leyna, ada seseorang yang ingin berkenalan,” katanya sambil tersenyum jahil.
“Anak didik saya. Kerja di Pupuk Kaltim. Gimana, ibu bersedia?”

Aku hanya tertawa kecil.
Saat itu, pikiranku memang belum tertuju ke arah pernikahan. Aku masih terlalu sibuk menata hidup dan karierku sendiri.

“Waduh, Pak. Saya belum kepikiran ke sana,” jawabku jujur.

Pak Sobirin mengangguk maklum.
“Ya siapa tahu cocok, Bu.”

Aku hanya tersenyum tanpa menanggapi lebih jauh.
Namun seiring berjalannya waktu, entah mengapa pikiranku mulai berubah.

Mungkin karena usia yang perlahan bertambah.
Mungkin juga karena untuk pertama kalinya aku mulai merasa lelah menjalani semuanya sendirian.

Di tengah kesibukan bekerja, diam-diam aku mulai memikirkan tentang pulang… dan tentang seseorang yang bisa disebut rumah.

Sebulan kemudian, aku mendapat cuti dan berencana pulang ke Surabaya.

Hari itu Bandara Sepinggan cukup ramai. Aku duduk di ruang tunggu sambil sesekali melihat jam.
Pikiranku sudah melayang ke kampung halaman, membayangkan masakan ibu dan suasana rumah yang selalu kurindukan.

Di seberang sana, aku menyadari ada seorang lelaki yang beberapa kali diam-diam memperhatikanku.
Tapi aku memilih cuek. Menganggap itu hal biasa.

Tak lama kemudian, lelaki itu berdiri dan berjalan mendekat.

“Emm… Mbak, boleh kenalan?”

Aku mendongak pelan.

“Ngomong-ngomong, mau ke mana nih?”

Jujur saja, saat itu aku sedang malas mengobrol dengan orang asing. Kepalaku sudah penuh dengan bayangan ingin segera sampai rumah.

Namun entah kenapa, akhirnya aku tetap menjawab.

“Ke Surabaya.”

“Oh ya? Saya juga.”

Lalu percakapan kecil itu mulai mengalir begitu saja.

Namanya Arga.
Ia merupakan lulusan UGM dan bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan yang bergerak di sektor oil & gas di Jawa Timur. Cara bicaranya tenang, tidak berlebihan, tapi terasa hangat dan nyaman.

Yang paling aku ingat dari pertemuan pertama itu adalah caranya mendengarkan.

Ia tidak sibuk membicarakan dirinya sendiri. Ia lebih banyak bertanya tentang pekerjaanku, tentang kehidupanku di Bontang, dan sesekali tertawa kecil mendengar ceritaku.

Padahal biasanya, aku bukan tipe orang yang mudah nyaman dengan orang baru.

Siapa sangka, pertemuan singkat di ruang tunggu bandara itu justru menjadi awal dari cerita panjang dalam hidupku.

Setelah hari itu, kami masih saling berhubungan.

Awalnya hanya sekadar bertukar kabar.
Lalu menjadi obrolan panjang setiap malam.
Kemudian saling menunggu pesan satu sama lain.

Dan anehnya, semuanya terasa ringan.

Tidak terburu-buru.
Tidak melelahkan.
Tidak penuh drama seperti hubungan yang dulu pernah kualami.

Suatu malam, Arga pernah berkata kepadaku,
“Mungkin kita dipertemukan bukan karena kebetulan.”

Aku tertawa kecil.
“Terus karena apa?”

“Karena kita di frekuensi yang sama. Bener, nggak?”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang mampu memahami isi kepalaku tanpa perlu banyak penjelasan.

Dan sejak saat itu, aku mulai percaya…
Bahwa cinta yang dewasa memang datang dengan cara yang sederhana.

Tidak selalu penuh kejutan besar.
Kadang justru hadir lewat percakapan biasa di bandara, pada hari yang terasa sangat biasa.

Beberapa bulan kemudian, aku benar-benar menikah dengan lelaki itu.
Lelaki yang dulu menghampiriku dengan pertanyaan sederhana di ruang tunggu Bandara Sepinggan.

Kalau mengingat semuanya sekarang, aku sering tersenyum sendiri.
Hidup memang lucu.

Dulu aku pernah begitu takut kehilangan seseorang, sampai lupa bahwa semesta mungkin sedang menyiapkan cerita yang jauh lebih baik.

Dan ternyata benar.

Ada pertemuan yang memang harus gagal…
agar kita bisa dipertemukan dengan orang yang benar-benar tepat.
OlderNewest

Post a Comment