Selamat Tahun Baru 2026!
Iya, ya aku tahu… telat banget, huhu.
Beberapa waktu terakhir, aku seperti sedang belajar kembali mengatur napas dan waktu. Jadwal publish sempat tertunda karena banyak hal yang berjalan bersamaan: ikut beberapa kelas, mengerjakan project baru (termasuk rencana bikin e-book), mentoring, dan aktivitas lain yang datang hampir bersamaan.
Alhamdulillah ala kulli haal. Semua masih bisa dijalani, meski jujur saja, sempat terasa sedikit kalang kabut. Hehe.
Di titik ini, aku jadi sadar: sepertinya memang perlu reset manajemen waktu. Bukan untuk mengejar semuanya, tapi supaya tetap hadir dan waras menjalaninya.
Dan dari situ, pikiranku mengalir ke satu hal yang ingin aku bahas di tulisan ini.
Di era digital seperti sekarang, tidak berlebihan rasanya jika kita mengatakan bahwa hidup manusia perlahan berpindah ke layar.
Banyak orang berlomba-lomba memposting hampir seluruh potongan hidupnya di media sosial, mulai dari bangun tidur, secangkir kopi pagi, pekerjaan, hingga momen paling personal sering kali dengan satu tujuan tak tertulis: mendapatkan validasi dari orang lain.
Like, komentar, dan viewer seolah menjadi ukuran kebahagiaan baru. Tak jarang muncul prinsip tak resmi yang diam-diam dipegang banyak orang: “Kalau nggak ikutan tren, nanti tertinggal.”
FOMO (fear of missing out) menjadi momok. Seakan-akan hidup yang tidak muncul di layar berarti hidup yang tidak terjadi.
Di titik ini, pertanyaan penting muncul:
Benarkah mereka yang tidak FOMO akan tertinggal arus?
Bagaimana dengan mereka yang tidak sibuk memposting segalanya, namun tetap merasa bahagia, tenang, dan utuh?
Bagaimana dengan mereka yang tidak sibuk memposting segalanya, namun tetap merasa bahagia, tenang, dan utuh?
Menariknya, tidak semua orang yang aktif di media sosial bisa langsung dicap “haus validasi”. Hidup tidak sesederhana hitam dan putih. Setiap orang punya alasan, kebutuhan, dan konteksnya masing-masing.
Aku sendiri, misalnya, sesekali bisa dibilang “pamer” juga di media sosial. Ada waktu-waktu tertentu aku mengunggah sesuatu bukan karena ingin diakui, tapi karena ada konteks. Kadang ada yang kepo.
Eh, kamu kok nggak pernah nongol di sosmed, sih?”
“Jarang nih lihat story kamu.”
“Pengen tahu juga aktivitasmu.”
“Jarang nih lihat story kamu.”
“Pengen tahu juga aktivitasmu.”
Dan ya, kalau sudah ada “permintaan” seperti itu, status pun naik. Kadang juga karena ada request untuk promosi atau iklan.
Jadi, memposting sesuatu tidak selalu identik dengan mencari validasi. Kadang hanya soal komunikasi, kebutuhan profesional, atau sekadar berbagi kabar.
Namun, yang perlu digarisbawahi bukanlah seberapa sering seseorang memposting, melainkan seberapa besar kebahagiaannya bergantung pada respons orang lain.
Ketika Validasi Menjadi Nafas Emosional
Masalah mulai muncul ketika validasi eksternal berubah dari sekadar bonus menjadi kebutuhan utama. Saat unggahan sepi, hati ikut sepi.
Saat respons tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa, bahkan mempertanyakan nilai diri sendiri.
Ada yang gelisah menunggu komentar, viewer.
Ada pula yang membandingkan hidupnya dengan potongan hidup orang lain yang terlihat lebih “wah”.
Di titik ini, media sosial bukan lagi ruang berbagi, tapi ruang pembanding. Dan pembandingan yang terus-menerus, tanpa sadar, melelahkan batin.
Padahal validasi dari luar bersifat rapuh. Ia bergantung algoritma. Bergantung tren. Bergantung mood orang lain.
Menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan adalah jalan paling cepat menuju kelelahan emosional.
Bahagia yang Tidak Dipamerkan
Ada kebahagiaan yang tidak berisik. Tidak estetik. Tidak viral.
Bahagia yang hadir dalam diam, saat pagi masih sunyi, saat doa terasa lebih khusyuk, saat pekerjaan selesai dengan jujur, atau saat makan bersama keluarga tanpa perlu dokumentasi.
Bahagia yang hadir dalam diam, saat pagi masih sunyi, saat doa terasa lebih khusyuk, saat pekerjaan selesai dengan jujur, atau saat makan bersama keluarga tanpa perlu dokumentasi.
Kebahagiaan seperti ini sering luput dari sorotan. Tidak tercatat dalam story. Tidak muncul di feed. Tapi justru terasa lebih penuh.
Mereka yang memilih hidup lebih privat bukan berarti tidak punya cerita. Mereka hanya memilih untuk menikmati hidup tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.
Tidak FOMO bukan berarti anti media sosial.
Tidak posting bukan berarti hidupnya kosong.
Tidak pamer bukan berarti tidak punya pencapaian.
Tidak posting bukan berarti hidupnya kosong.
Tidak pamer bukan berarti tidak punya pencapaian.
Terkadang, yang paling utuh justru yang paling sedikit bicara.
Menggeser Sumber Kebahagiaan
Bahagia tanpa validasi orang lain bukan berarti menutup diri dari dunia atau merasa paling benar. Ini soal menggeser sumber kebahagiaan dari luar ke dalam.
Dari: “Apa kata orang?”
menjadi: “Apa yang benar dan cukup untukku?”
Dari: “Dilihat berapa orang?”
menjadi: “Aku menikmatinya atau tidak?”
Ketika kita mulai berdamai dengan pilihan hidup sendiri, kebutuhan akan validasi perlahan mengecil. Kita tidak lagi tergesa mengunggah setiap momen. Tidak panik saat absen dari tren. Tidak merasa tertinggal hanya karena hidup berjalan pelan.
Media Sosial: Alat, Bukan Tujuan Hidup
Media sosial sejatinya hanyalah alat. Netral. Ia bisa menjadi ruang berbagi, berkarya, bahkan sumber rezeki. Namun, ia juga bisa menjadi sumber tekanan jika kita menjadikannya tolok ukur nilai diri.
Ketika media sosial dijadikan tujuan, kita mudah lelah.
Ketika ia hanya alat, kita tetap berdaya.
Bahagia seharusnya tidak menunggu notifikasi berbunyi.
Tidak perlu izin siapa pun.
Tidak perlu pembenaran.
Tidak perlu izin siapa pun.
Tidak perlu pembenaran.
Cukup untuk Diri Sendiri
Tidak semua kebahagiaan perlu diumumkan.
Tidak semua pencapaian harus dipertontonkan.
Dan tidak semua hidup perlu dijelaskan kepada dunia.
Tidak semua pencapaian harus dipertontonkan.
Dan tidak semua hidup perlu dijelaskan kepada dunia.
Ada fase dalam hidup ketika kita tidak lagi sibuk membuktikan apa pun, karena kita sudah merasa cukup.
Cukup dengan diri sendiri.
Cukup dengan pilihan yang kita jalani.
Cukup dengan hidup yang mungkin tidak terlihat ramai, tapi terasa damai.
Jika hari ini kamu memilih untuk hidup lebih pelan, tidak ikut arus, dan tidak haus validasi, percayalah kamu tidak tertinggal. Kamu sedang pulang.
Dan mungkin, di sanalah kebahagiaan yang paling jujur tinggal.
Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!







Post a Comment