Mengikuti webinar tentang "Trauma Bonding" beberapa hari yang lalu benar-benar membuka mataku.
Oh, ternyata luar biasa ya efek negatif dari luka yang terus-menerus dipendam dan tidak pernah di-release atau disembuhkan. Ngeri!
Selama ini kita mungkin mengira luka batin hanya akan membuat seseorang sedih, kecewa, atau sulit melupakan masa lalu. Padahal, luka yang tidak selesai bisa memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, bahkan menjalani sebuah hubungan.
Dan yang lebih mengejutkan, seseorang bisa saja justru terikat begitu kuat dengan orang yang menjadi sumber lukanya.
Kok bisa?
Pernah nggak kamu melihat orang yang susah sekali lepas dari pasangannya yang toxic?
Atau mungkin... jangan-jangan kamu sendiri pernah mengalaminya?
Padahal kalau dilihat dari luar, hubungannya sudah jelas-jelas tidak sehat.
Sering bertengkar.
Sering disakiti.
Direndahkan.
Dibohongi.
Bahkan mungkin berkali-kali dikhianati.
Sering disakiti.
Direndahkan.
Dibohongi.
Bahkan mungkin berkali-kali dikhianati.
Tapi entah kenapa, orang tersebut selalu kembali.
Putus, balikan.
Disakiti, memaafkan.
Menangis, kemudian berharap.
Bahkan setelah berkali-kali berjanji kepada diri sendiri untuk pergi, akhirnya kembali lagi kepada orang yang sama.
Kalau melihatnya dari luar, mungkin kita mudah berkata, “Kenapa sih masih bertahan? Memangnya kurang sakit apa?”
Namun ternyata, persoalannya tidak sesederhana itu.
Dalam psikologi, salah satu kondisi yang dapat menjelaskan keterikatan semacam ini adalah trauma bonding atau ikatan trauma.
Dan menariknya, trauma bonding bukan sekadar persoalan “bucin” atau terlalu cinta.
Apa Itu Trauma Bonding?
Trauma bond atau lebih dikenal Trauma Bonding adalah ikatan emosional yang sangat kuat antara seseorang dengan pihak yang menyakitinya, yang biasanya terbentuk dalam hubungan dengan pola perlakuan abusif, manipulatif, atau tidak sehat.
Ikatan ini bisa muncul ketika hubungan berjalan dalam sebuah siklus:
disakiti → konflik → meminta maaf → diberi kasih sayang → merasa hubungan membaik → kemudian disakiti lagi.
Begitu terus berulang.
Yang membuatnya rumit adalah, di antara perlakuan buruk tersebut, pelaku bisa memberikan perhatian, kasih sayang, permintaan maaf, hadiah, janji untuk berubah, atau momen-momen manis.
Akibatnya, korban tidak hanya mengingat rasa sakitnya.
Ia juga terus berpegang pada momen-momen indah yang sesekali muncul.
“Dia sebenarnya baik kok.”
“Kalau lagi nggak marah, dia perhatian banget.”
“Dia sudah minta maaf.”
“Dia janji nggak akan mengulanginya lagi.”
“Barangkali kali ini dia benar-benar berubah.”
Harapan itulah yang sering membuat seseorang tetap bertahan.
Kenapa Sulit Lepas dari Orang yang Menyakiti?
Nah, ini bagian yang menurutku cukup mind-blowing.
Kita mungkin berpikir bahwa seseorang akan semakin menjauh ketika terus disakiti.
Logikanya memang begitu.
Kalau sakit, ya pergi.
Tetapi dalam hubungan yang penuh manipulasi atau kekerasan emosional, yang terjadi tidak selalu demikian.
Salah satu mekanismenya berkaitan dengan intermittent reinforcement, yaitu ketika kasih sayang atau penghargaan diberikan secara tidak konsisten.
Kadang pasangan sangat romantis.
Kadang sangat dingin.
Kadang mengatakan cinta.
Di waktu lain justru merendahkan.
Hari ini membuat kita menangis.
Besok datang membawa bunga sambil berkata,
“Maaf. Aku sebenarnya sayang banget sama kamu.”
Akhirnya pun luluh.
Muncul rasa lega.
Muncul harapan.
Dan mungkin muncul keyakinan:
“Nah, kan. Dia sebenarnya sayang sama aku.”
Padahal setelah itu, siklusnya bisa kembali terulang.
Pola seperti ini dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan hubungan tersebut karena ia terus menunggu “versi baik” dari orang yang sama.
Bukan Karena Kamu Bodoh atau Lemah
Salah satu hal yang menurutku penting untuk dipahami adalah:
Korban trauma bonding bukan berarti orang bodoh.
Bukan pula berarti dia tidak punya harga diri.
Bahkan tidak sedikit orang yang sebenarnya sangat kuat, mandiri, cerdas, dan mampu mengambil keputusan dalam banyak hal, tetapi merasa begitu sulit ketika berhadapan dengan hubungan seperti ini.
Sebab yang bekerja bukan sekadar logika.
Ada emosi, harapan, ketakutan, keterikatan, pengalaman masa lalu, dan pola hubungan yang sudah terbentuk.
Itulah mengapa nasihat sederhana seperti,
“Ya sudah, tinggalin aja!”
terkadang tidak cukup.
Bagi orang yang berada di dalamnya, meninggalkan hubungan tersebut bisa terasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar.
Tanda-Tanda Kamu Mungkin Terjebak dalam Trauma Bonding
Lalu, bagaimana kita mengenalinya?
Berikut beberapa tanda yang patut diperhatikan.
1. Kamu Tahu Hubungan Itu Menyakitkan, tetapi Tetap Sulit Pergi
Kamu sebenarnya sadar bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Bahkan mungkin sudah berkali-kali berpikir untuk mengakhirinya.
Tetapi ketika benar-benar akan pergi, muncul rasa takut, ragu, atau keinginan untuk kembali.
2. Kamu Lebih Banyak Mengingat Sisi Baiknya
Setiap kali disakiti, kamu mengingat semua hal baik yang pernah dia lakukan.
“Dia memang pernah memukul dan bicara kasar, tapi sebenarnya dia perhatian.”
“Dia memang pernah selingkuh, tapi setelah itu dia berubah.”
“Dia memang sering marah, tapi kalau sedang baik, dia sangat romantis.”
Tanpa sadar, momen-momen baik tersebut menjadi alasan untuk menoleransi perilaku yang sebenarnya tidak sehat.
3. Kamu Terus Menunggu Dia Berubah
Kamu percaya bahwa orang yang sekarang menyakitimu sebenarnya bukan dirinya yang sebenarnya.
Kamu menunggu dia kembali menjadi sosok yang dulu pertama kali kamu kenal.
Masalahnya, kamu mungkin lebih mencintai potensi dirinya untuk berubah daripada kenyataan yang sedang kamu hadapi.
4. Kamu Selalu Membenarkan Perilakunya
“Dia seperti itu karena masa kecilnya.”
“Dia sedang banyak masalah.”
“Dia sebenarnya nggak bermaksud menyakitiku.”
Empati memang baik.
Tetapi memahami alasan seseorang berperilaku buruk tidak berarti kamu harus menerima perlakuan buruk tersebut.
5. Kamu Merasa Bersalah Ketika Ingin Pergi
Ini salah satu bagian yang paling menyakitkan.
Alih-alih marah kepada orang yang menyakitimu, kamu justru merasa bersalah karena ingin meninggalkannya.
“Apa aku terlalu egois?”
“Kasihan dia.”
“Bagaimana kalau dia benar-benar berubah setelah aku pergi?”
Padahal memilih menyelamatkan diri sendiri bukanlah sebuah kejahatan.
6. Kamu Merasa Tidak Bisa Hidup Tanpanya
Kamu mungkin mulai berpikir bahwa tidak akan ada orang lain yang bisa mencintaimu seperti dia. Atau merasa hidupmu akan kosong tanpa dirinya.
Padahal perasaan tersebut belum tentu menggambarkan kenyataan. Bisa jadi itu adalah bagian dari keterikatan emosional yang sudah terbentuk selama hubungan berlangsung.
Trauma Bonding dan Siklus “Sakit-Baik-Sakit Lagi”
Kalau digambarkan secara sederhana, hubungan seperti ini bisa terlihat seperti sebuah lingkaran:
Luka → konflik → permintaan maaf → kasih sayang → hubungan terasa membaik → muncul harapan → terjadi masalah lagi → luka kembali.
Yang membuat seseorang bertahan bukan hanya rasa sakit. Tetapi juga harapan bahwa setelah rasa sakit itu akan datang masa bahagia.
Dan ketika masa bahagia itu benar-benar datang, meskipun hanya sebentar, harapan tersebut terasa seperti terbukti.
“Kan, dia bisa berubah.”
“Kan, hubungan kami sebenarnya masih bisa diselamatkan.”
Sampai akhirnya siklus tersebut dimulai kembali.
Inilah yang membuat trauma bonding begitu sulit diputus.
Lalu, Bagaimana Cara Melepaskan Trauma Bonding?
Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua orang.
Apalagi jika hubungan tersebut melibatkan kekerasan atau ancaman, proses untuk keluar perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan.
Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu.
1. Akui Bahwa Ada Masalah
Langkah pertama adalah berhenti menyangkal kenyataan.
Bukan hanya mengingat saat-saat ketika dia baik, tetapi juga berani melihat keseluruhan pola hubungan.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau sahabatku mengalami hubungan seperti ini, apa yang akan aku katakan kepadanya?”
Kadang kita bisa melihat situasi dengan lebih jernih ketika tidak berada di dalamnya.
2. Berhenti Menilai Hubungan dari Janji, Lihat Polanya!
“Dia janji akan berubah.”
Kalimat seperti ini mungkin sudah sering terdengar. Tetapi daripada melihat janji, lihatlah pola perilakunya.
Apakah benar ada perubahan yang konsisten?
Atau hanya siklus lama yang kembali berulang?
Karena perubahan bukan sekadar permintaan maaf. Perubahan terlihat dari perilaku yang konsisten.
3. Bangun Kembali Dukungan Sosial
Hubungan yang manipulatif terkadang membuat seseorang semakin jauh dari keluarga dan teman.
Karena itu, membangun kembali hubungan dengan orang-orang yang dipercaya bisa menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Tidak harus langsung menceritakan semuanya. Mulailah dari satu orang yang dirasa aman.
4. Kurangi Kontak Jika Memungkinkan
Jika situasinya aman dan memungkinkan, membatasi atau menghentikan kontak dapat membantu memutus siklus emosional.
Sebab semakin sering berinteraksi, semakin mudah pula seseorang kembali masuk ke dalam pola lama.
Namun jika pasangan bersikap mengancam, melakukan kekerasan, atau membuatmu merasa tidak aman, jangan mengambil keputusan secara impulsif. Cari dukungan profesional atau orang terpercaya dan utamakan keselamatan.
5. Belajar Menerima Bahwa Pergi Salah Satu Self Love (Mencintai Diri)
Mencintai diri sendiri tidak selalu berarti bertahan dan memperjuangkan sesuatu. Ada kalanya, pergi justru menjadi bentuk self love karena kita menyadari bahwa tidak semua hal harus dipertahankan, terutama jika terus membuat diri kehilangan ketenangan dan kebahagiaan.
Pergi bukan berarti gagal atau tidak peduli, melainkan keberanian untuk menghargai diri, menetapkan batas, dan memilih apa yang lebih baik bagi kehidupan kita.
Meninggalkan seseorang bukan selalu berarti kita sudah tidak punya perasaan. Terkadang justru karena kita mulai belajar mencintai diri sendiri.
Meninggalkan seseorang bukan selalu berarti kita sudah tidak punya perasaan. Terkadang justru karena kita mulai belajar mencintai diri sendiri.
Kamu Tidak Harus Menunggu Sampai Benar-benar Hancur
Ada satu hal yang ku pelajari dari webinar tersebut:
Luka yang tidak diselesaikan bisa membawa dampak jauh lebih panjang daripada yang kita kira.
Dan mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya,
“Kenapa dia masih bertahan?”
Padahal pertanyaan yang lebih tepat mungkin:
“Apa yang membuat dia begitu sulit pergi?”
Karena tidak semua orang yang bertahan sedang memilih untuk disakiti.
Ada yang sedang terjebak dalam sebuah pola.
Ada yang sedang berusaha mempertahankan harapan.
Ada yang takut kehilangan.
Ada yang sedang berusaha mempertahankan harapan.
Ada yang takut kehilangan.
Ada pula yang sudah begitu lama mengalami perlakuan buruk sampai menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.
Maka, kalau suatu hari kita melihat seseorang yang terus kembali kepada orang yang menyakitinya, mungkin kita tidak perlu buru-buru menghakimi.
Bantu dia melihat bahwa ada kehidupan di luar hubungan tersebut.
Dan kalau ternyata kamu sendiri yang sedang berada di posisi itu, semoga kamu juga tahu satu hal:
Kamu tidak harus terus bertahan hanya karena pernah mencintainya.
Cinta seharusnya tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Kamu berhak dicintai tanpa harus terus-menerus terluka untuk membuktikan bahwa cintamu cukup besar.
Karena pada akhirnya, melepaskan seseorang yang menyakitimu bukan berarti kamu kalah.
Kadang, pergi adalah cara paling berani untuk memilih dirimu sendiri.
Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!
Referensi:
Webinar "Trauma Bonding"








Post a Comment