aprilhatni.com
aprilhatni.com

Attachment Style dalam Hubungan: Kenali 4 Jenisnya!

attachment style dalam hubungan

Belakangan ini, istilah attachment style sedang ramai dibahas di media sosial. 

Ada empat jenis, di antaranya; anxious attachment, secure attachment, avoidant attachment, dan disorganized attachment.

Namun sebenarnya, attachment style bukanlah teori baru yang tiba-tiba muncul. Konsep ini sudah dikenal dalam dunia psikologi sejak lebih dari setengah abad yang lalu.

Bedanya, dulu ia lebih banyak dipelajari oleh para psikolog dan akademisi. Kini, berkat meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, attachment style menjadi lebih akrab di telinga masyarakat.

Lalu, apa sebenarnya attachment style itu? Benarkah pola ini bisa menjelaskan mengapa ada orang yang selalu takut ditinggalkan, ada yang begitu tenang dalam menjalani hubungan, sementara yang lain justru ingin dekat tetapi takut terluka? Mari kita bahas lebih lanjut.

Apa Itu Attachment Style?

Attachment style adalah pola keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa kecil, terutama melalui hubungan antara anak dan pengasuh utamanya.

Cara seseorang diasuh, diberi rasa aman, diperhatikan, atau bahkan diabaikan, sedikit banyak akan membentuk cara ia membangun hubungan saat dewasa.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Inggris, John Bowlby, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh psikolog Mary Ainsworth melalui berbagai penelitian mengenai hubungan emosional antara anak dan pengasuhnya.

Meski terbentuk sejak dini, attachment style bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Sebaliknya, pola ini dapat dikenali, dipahami, dan perlahan berkembang menjadi lebih sehat melalui pengalaman hidup, hubungan yang suportif, maupun proses penyembuhan diri.

Secara umum, terdapat empat attachment style yang paling sering dibahas, yaitu Anxious Attachment, Avoidant Attachment, Secure Attachment, dan Disorganized Attachment.

1. Anxious Attachment: Selalu Takut Kehilangan

Orang dengan anxious attachment umumnya sangat menghargai hubungan. Mereka mencintai dengan tulus, tetapi sering kali dibayangi rasa takut kehilangan.

Beberapa cirinya antara lain:
  • Mudah overthinking.
  • Sangat membutuhkan kepastian dari pasangan.
  • Sensitif terhadap perubahan sikap.
  • Takut ditinggalkan atau tidak cukup dicintai.

Misalnya, ketika pasangan belum membalas pesan selama satu atau dua jam, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

“Apa dia marah?”
“Apa dia mulai bosan?”
“Jangan-jangan dia sudah tidak sayang lagi.”

Padahal, bisa jadi pasangan memang sedang sibuk bekerja atau mengemudi.

apa itu anxious attachment

Pola ini umumnya berkembang karena seseorang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan kasih sayang secara tidak konsisten. 

Kadang merasa dicintai, tetapi di waktu lain merasa diabaikan. Akibatnya, saat dewasa ia terus mencari kepastian agar merasa aman.

Namun perlu diingat, memiliki anxious attachment bukan berarti seseorang lemah atau terlalu dramatis. Justru mereka biasanya adalah pribadi yang penuh perhatian, setia, dan sangat menghargai hubungan. Mereka hanya membawa rasa takut yang belum benar-benar sembuh.

2. Avoidant Attachment: Terlihat Mandiri, tetapi Sulit Membuka Hati

Sekilas, orang dengan avoidant attachment tampak mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pasangan. Mereka menghargai kebebasan, ruang pribadi, dan cenderung tidak nyaman jika hubungan terasa terlalu intens.

Beberapa ciri yang sering muncul antara lain:
  • Sulit mengekspresikan perasaan.
  • Tidak nyaman bergantung pada orang lain.
  • Cenderung menghindari percakapan yang terlalu emosional.
  • Menarik diri ketika konflik muncul.
  • Lebih memilih menyelesaikan masalah sendiri.

Misalnya, ketika pasangan ingin membicarakan perasaan atau meminta kepastian hubungan, responsnya bisa berupa mengalihkan pembicaraan, menghindar, atau bahkan menjaga jarak.

attachment style adalah

Bukan berarti mereka tidak mencintai pasangannya. Hanya saja, bagi seseorang dengan avoidant attachment, kedekatan emosional terkadang terasa mengancam. Mereka khawatir kehilangan kebebasan atau kembali merasakan luka yang pernah dialami.

Pola ini umumnya berkembang karena seseorang tumbuh dalam lingkungan yang kurang memberikan kehangatan emosional. Sejak kecil, mereka belajar untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain karena kebutuhan emosionalnya sering kali tidak terpenuhi.

Akibatnya, ketika dewasa mereka terbiasa berkata, “Aku bisa sendiri.” Padahal, di balik sikap mandiri tersebut, sering kali tersimpan kebutuhan untuk dicintai yang tidak mudah diungkapkan.

3. Secure Attachment: Nyaman Mencintai dan Dicintai

Berbeda dengan tipe sebelumnya, orang dengan secure attachment memiliki rasa aman terhadap dirinya sendiri maupun terhadap hubungannya.

Mereka cenderung:
  • Nyaman membangun kedekatan emosional.
  • Mampu berkomunikasi secara terbuka.
  • Tidak mudah curiga.
  • Percaya kepada pasangan.
  • Tetap mandiri tanpa kehilangan kedekatan.
  • Saat pasangan belum membalas pesan, respons mereka biasanya sederhana.
“Mungkin sedang sibuk. Nanti juga membalas.”

teori attachment style

Bukan berarti mereka tidak pernah cemburu atau takut kehilangan. Bedanya, mereka mampu mengelola emosi dengan baik tanpa membiarkan rasa takut menguasai hubungan.

Tipe ini umumnya tumbuh dari lingkungan yang hangat, responsif, dan konsisten. Anak belajar bahwa ia layak dicintai dan dunia adalah tempat yang relatif aman.

4. Disorganized Attachment: Ingin Dekat, Tetapi Takut Terluka

Disorganized attachment merupakan pola yang lebih kompleks.

Seseorang dengan tipe ini sering mengalami konflik batin. Ia sangat ingin memiliki hubungan yang dekat, tetapi ketika kedekatan itu benar-benar terjadi, justru muncul rasa takut.

Ciri-cirinya antara lain:
  • Ingin dekat tetapi mudah menarik diri.
  • Emosi berubah-ubah.
  • Sulit mempercayai pasangan.
  • Takut ditolak sekaligus takut bergantung.
Hari ini ia bisa sangat romantis dan membutuhkan perhatian. Besoknya justru menjadi dingin dan menjauh tanpa alasan yang jelas.

jenis attachment style

Pola ini sering dikaitkan dengan pengalaman masa kecil yang penuh kebingungan atau trauma, ketika sosok yang seharusnya memberikan rasa aman justru menjadi sumber ketakutan.

Akibatnya, saat dewasa muncul dua kebutuhan yang saling bertentangan: ingin dicintai, tetapi juga takut terluka.

Apakah Attachment Style Bisa Berubah?

Kabar baiknya, bisa.

Attachment style bukanlah label yang akan melekat selamanya. Ia hanyalah pola yang terbentuk dari pengalaman hidup.

Semakin kita mengenali pola tersebut, semakin besar peluang kita untuk berubah.

Perubahan bisa dimulai melalui:
  • meningkatkan kesadaran diri (self awareness);
  • belajar mengelola emosi;
  • membangun komunikasi yang sehat;
  • menyembuhkan luka masa lalu (healing);
  • atau berkonsultasi dengan psikolog apabila diperlukan.
Menariknya, berada dalam hubungan dengan pasangan yang memiliki secure attachment juga dapat membantu seseorang perlahan membangun rasa aman yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Hubungan yang sehat sering kali menjadi ruang belajar bahwa cinta tidak selalu harus dipenuhi kecemasan, ketakutan, atau rasa curiga.

Kesimpulan

Memahami attachment style bukan berarti kita harus memberi label pada diri sendiri atau orang lain. Sebaliknya, ini adalah langkah awal untuk mengenali bagaimana pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara kita mencintai, mempercayai, dan membangun hubungan dengan orang-orang terdekat. 

Apa pun attachment style yang kamu miliki saat ini, ingatlah bahwa pola tersebut bukanlah vonis seumur hidup. 

jenis-jenis attachment style

Dengan kesadaran diri, kemauan untuk bertumbuh, komunikasi yang sehat, serta lingkungan yang mendukung, setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih aman dan lebih dewasa. 

Pada akhirnya, tujuan mengenal attachment style bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memahami mengapa kita bereaksi dengan cara tertentu dalam sebuah hubungan. 

Ketika kita mulai memahami diri sendiri, kita juga akan lebih mudah memahami pasangan, keluarga, maupun orang-orang yang kita sayangi. 

Menurutmu, tipe attachment style mana yang paling menggambarkan dirimu? Apakah kamu pernah menyadari pola tertentu dalam hubungan yang sedang atau pernah kamu jalani? Jangan lupa tulis di kolom komentar, ya. 

Referensi:
  • Alodokter. Attachment Style dalam Hubungan dan Cara Mengatasinya.
  • Halodoc. Mengenal Attachment Style dan Pengaruhnya dalam Hubungan.
  • KlikDokter. Jenis-Jenis Attachment Style dan Dampaknya pada Hubungan.
  • YouTube: Psychology Exposed
Semoga bermanfaat. 
Have a nice day!
OlderNewest

Post a Comment