Pernahkah kamu merasa menjalani hidup, tetapi seperti kehilangan dirimu sendiri?
Dulu, aku pernah mengalaminya.
Aku belajar bahwa menyembuhkan diri bukan berarti menghapus masa lalu. Menyembuhkan diri berarti menerima bahwa masa lalu pernah terjadi, tetapi tidak harus menentukan masa depan.
Dan melalui karya, aku menemukan bahwa sebuah pengalaman pribadi ternyata mampu menjadi cahaya kecil bagi orang lain.
Semoga bermanfaat, ya.
Tidak ada yang benar-benar salah. Aku masih menjalankan peran sebagai istri, ibu, anak, dan anggota masyarakat. Hari-hariku dipenuhi rutinitas yang tampak baik-baik saja. Namun, jauh di dalam hati, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Rasanya seperti hidup untuk semua orang, kecuali untuk diriku sendiri.
Barangkali, itulah salah satu luka yang paling tersembunyi. Luka yang tidak meninggalkan memar di kulit, tetapi perlahan menghapus identitas seseorang hingga ia lupa siapa dirinya.
Melalui tulisan ini, aku ingin menjadi bagian dari Perempuan Bicara Rasa, sebuah ruang yang mengajak perempuan berani mengakui bahwa setiap rasa, termasuk luka, layak didengar.
Luka yang Datang Tanpa Disadari
Tidak semua luka berasal dari orang lain. Ada luka yang tumbuh pelan karena kita terlalu sibuk menjadi segala hal bagi semua orang, hingga lupa menjadi diri sendiri.
Sebagian datang perlahan.
Sedikit demi sedikit kita mulai mengabaikan apa yang kita sukai. Menunda mimpi. Mengubur keinginan. Menganggap kebutuhan diri sendiri sebagai sesuatu yang egois.
Lama-kelamaan kita menjadi ahli memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi asing terhadap isi hati sendiri.
Aku pernah berada di fase itu.
Ada masa ketika aku begitu sibuk menjalankan berbagai peran hingga lupa bertanya,
“Apa yang sebenarnya membuatku bahagia?”
Semua terasa berjalan sebagaimana mestinya. Namun setiap malam, selalu ada pertanyaan yang diam-diam datang.
“Apakah ini benar-benar aku?”
Pertanyaan itu terus menghantuiku.
Kehilangan Diri Lebih Menyakitkan
Banyak orang mengira kehilangan paling menyakitkan adalah kehilangan seseorang yang kita sayangi.
Bagiku, kehilangan diri sendiri jauh lebih menyakitkan.
Saat kehilangan orang lain, kita masih memiliki diri sendiri untuk bangkit.
Namun ketika kehilangan diri sendiri, kita bahkan tidak tahu harus pulang ke mana.
Aku sempat merasa tidak memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi milikku. Seolah seluruh hidup hanya tentang memenuhi kebutuhan orang lain.
Aku tersenyum, tetapi hati terasa lelah.
Aku tetap beraktivitas, tetapi jiwaku seperti berjalan tertatih.
Yang lebih menyedihkan, semua itu terjadi tanpa kusadari.
Titik Balik yang Mengubah Segalanya
Akhir tahun 2017 aku kembali menulis.
Awalnya hanya untuk menuangkan isi kepala yang penuh sesak.
Tanpa kusadari, setiap tulisan menjadi ruang untuk berdialog dengan diriku sendiri.
Aku mulai mengingat kembali perempuan yang dulu gemar belajar, menyukai dunia desain, senang berbagi pengalaman, dan menikmati proses bertumbuh.
Sedikit demi sedikit, aku merasa hidup kembali.
Menulis membuatku mampu memahami luka itu.
Aku belajar bahwa menyembuhkan diri bukan berarti menghapus masa lalu. Menyembuhkan diri berarti menerima bahwa masa lalu pernah terjadi, tetapi tidak harus menentukan masa depan.
Di titik itulah aku menyadari bahwa bertumbuh bukan tentang menjadi orang lain.
Bertumbuh adalah keberanian untuk kembali menjadi diri sendiri.
Berdamai dengan Diri Sendiri
Aku pernah berpikir bahwa mencintai diri sendiri adalah bentuk keegoisan.
Ternyata aku salah.
Bagaimana mungkin kita bisa terus memberi kepada orang lain jika hati kita sendiri kosong?
Bagaimana mungkin kita menjadi tempat pulang bagi keluarga jika kita bahkan kehilangan arah pulang menuju diri sendiri?
Sejak saat itu aku mulai belajar melakukan hal-hal sederhana.
Memberi waktu untuk membaca.
Menulis tanpa merasa bersalah.
Belajar hal baru.
Mengapresiasi setiap proses kecil yang berhasil kulewati.
Tidak semuanya berjalan sempurna.
Masih ada hari ketika rasa ragu datang kembali.
Masih ada hari ketika aku mempertanyakan kemampuanku.
Namun kini aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri.
Aku memilih menjadi sahabat bagi perempuan yang setiap pagi kulihat di cermin.
Ketika Tulisan Menemukan Jalannya
Aku dulu berpikir bahwa menulis hanya tentang diriku sendiri.
Tentang isi hati yang ingin kutuangkan. Tentang perjalanan yang ingin kusimpan dalam bentuk kata-kata. Tentang caraku memahami berbagai rasa yang pernah hadir dalam hidup.
Namun, semakin lama aku menulis, aku mulai menyadari bahwa sebuah tulisan tidak pernah benar-benar berhenti pada penulisnya.
Ia bisa berjalan lebih jauh.
Ia bisa menemukan seseorang yang sedang membutuhkan.
Suatu hari, aku membagikan blogku kepada teman-teman kelas online. Aku tidak pernah menyangka, hal sederhana itu ternyata membawa cerita lain.
Mereka mulai membuka kembali halaman yang lama ditinggalkan. Mereka mulai menuangkan pengalaman, pemikiran, dan cerita mereka sendiri.
Saat itu aku tersadar, mungkin inilah salah satu hadiah terbesar dari perjalanan menulisku.
Bukan hanya tentang berapa banyak artikel yang berhasil kutulis.
Bukan hanya tentang pencapaian yang pernah kuraih.
Tetapi tentang bagaimana sebuah tulisan mampu menyalakan semangat orang lain untuk berkarya.
Aku belajar bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar. Setiap pengalaman memiliki makna. Dan setiap perempuan memiliki suara yang mungkin selama ini hanya menunggu keberanian untuk keluar.
Barangkali, inilah alasan mengapa aku masih memilih untuk menulis.
Karena tulisan bukan hanya menjadi tempat menyembuhkan luka diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi jembatan agar orang lain berani menemukan dirinya.
Perjalanan menulis ini juga membawaku pada banyak kesempatan yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan.
Dari mendapatkan penghasilan melalui blog, pernah memenangkan lomba blog, menghasilkan karya dalam buku antologi, hingga dipercaya bekerja sama dengan berbagai brand lokal maupun luar negeri.
Selain itu, aku juga berkesempatan berbagi pengalaman sebagai narasumber di komunitas menulis dan mendapatkan apresiasi dari salah satu platform kreatif (video editor).
Namun, dari semua pencapaian itu, yang paling berharga adalah ketika tulisanku mampu menggerakkan orang lain untuk kembali berkarya.
Luka yang Berubah Menjadi Karya
Hari ini aku tidak lagi melihat luka sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Luka adalah bagian dari perjalanan yang membentukku.
Dari luka aku belajar memahami diri.
Dari tulisan aku belajar menyuarakan rasa.
Dan melalui karya, aku menemukan bahwa sebuah pengalaman pribadi ternyata mampu menjadi cahaya kecil bagi orang lain.
Yang paling penting, aku belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk menemukan kembali diri sendiri.
Di tengah banyaknya kabar yang membuat kita cemas, aku bersyukur masih menemukan begitu banyak Berita Baik tentang orang-orang yang memilih bangkit, saling menguatkan, dan menghadirkan harapan bagi sesama.
Kisah-kisah seperti itulah yang mengingatkanku bahwa selalu ada cahaya, bahkan setelah melewati masa-masa yang paling gelap. Semoga semakin banyak cerita baik yang lahir dari perempuan-perempuan yang berani menyembuhkan dirinya, lalu menyalakan harapan bagi orang lain.
Karena pada akhirnya, luka bukan selalu akhir dari perjalanan.
Kadang, luka hanyalah pintu menuju versi diri yang selama ini sedang menunggu untuk ditemukan.
Jika hari ini ada perempuan yang merasa kehilangan dirinya sendiri, izinkan aku mengatakan satu hal.
Pelan-pelan saja.
Tidak apa-apa jika langkahmu kecil.
Tidak apa-apa jika prosesmu lebih lama.
Yang terpenting, jangan berhenti mencari jalan pulang menuju dirimu sendiri.
Sebab ketika seorang perempuan berhasil menemukan kembali dirinya, ia tidak hanya menyembuhkan satu hati.
Ia juga sedang mengubah cara ia mencintai hidup, keluarga, dan dunia di sekelilingnya.
Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!







Post a Comment