aprilhatni.com
aprilhatni.com

Bersama Keluarga Menuju Surga: Sebuah Kajian Islam

tujuan hidup seorang muslim

Pada Sabtu, 2 Maret 2019, Komunitas Madani kembali mengadakan kajian rutin yang menghadirkan seorang ustaz langsung dari Indonesia. 

Kajian kali ini disampaikan oleh Ustaz Dr. Imam Zamroji, M.A., dengan tema yang sangat menyentuh hati: “Bersama Keluarga Menuju Surga.”

Acara berlangsung di Al Shaheen, Mesaieed, Qatar. Pagi itu aku berangkat bersama Mbak Eka sekitar pukul delapan pagi waktu Qatar. 

Suasana masih cukup sepi karena sebagian besar orang baru memulai aktivitas akhir pekan mereka. Tak heran jika jumlah peserta yang hadir tidak sebanyak biasanya. Hanya sekitar lima belas orang, terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu.

Namun, sedikitnya jumlah peserta tidak mengurangi semangat untuk menuntut ilmu. Justru suasana yang lebih intim membuat kajian terasa hangat dan penuh makna. 

Aku pun berusaha mencatat beberapa poin penting yang disampaikan oleh Ustaz Imam Zamroji agar bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri dan keluarga.

Jangan Sampai Kehilangan Orientasi Hidup

Di awal kajian, ustaz mengingatkan bahwa di tengah kesibukan mencari nafkah, membesarkan anak, dan mengejar berbagai target duniawi, manusia sering kali kehilangan orientasi hidup yang sesungguhnya.

Kita sibuk memikirkan hari ini dan esok, tetapi lupa bertanya kepada diri sendiri: Dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali?

Beliau kemudian mengutip Hadis Arbain ke-40:
Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.
Hadis ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Seorang mukmin seharusnya memandang dunia sebagaimana seorang musafir memandang tempat persinggahannya: bukan tujuan akhir, melainkan tempat menyiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya.

Menurut penjelasan para ulama, seorang mukmin dapat diibaratkan dalam dua keadaan.

Pertama, seperti orang asing yang tinggal sementara di negeri orang. Ia tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tujuan hidupnya, melainkan terus mempersiapkan diri untuk kembali ke kampung halaman.

Kedua, seperti seseorang yang sedang menyeberang jalan. Ia tidak akan berhenti terlalu lama di tengah jalan karena tujuan utamanya adalah sampai ke seberang dengan selamat.

Kampung Halaman Kita yang Sesungguhnya

Salah satu bagian kajian yang paling membekas adalah ketika ustaz menyampaikan pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah bahwa sesungguhnya kampung halaman manusia adalah surga.

Nabi Adam dan Hawa diciptakan dan tinggal di surga sebelum diturunkan ke bumi. Karena itulah, sebagai keturunan Nabi Adam, kita seharusnya memiliki kerinduan untuk kembali ke tempat asal tersebut.

Jika demikian, pertanyaan pentingnya adalah:
Ketika perjalanan hidup ini berakhir, ke mana kita akan pulang?

Surga atau neraka?

Pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi dasar dari visi hidup setiap muslim.

Membangun Visi Hidup yang Benar

Menurut Ustaz Imam Zamroji, setiap orang perlu memiliki visi hidup yang jelas. Bukan sekadar sukses bekerja, memiliki rumah mewah, atau mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Visi terbesar seorang mukmin adalah:
  1. Bekerja untuk menuju surga.
  2. Membangun rumah tangga untuk menuju surga.
Orientasi akhirat bukan berarti meninggalkan dunia. Menjadi orang kaya bukanlah sesuatu yang tercela selama harta tersebut digunakan di jalan yang diridai Allah.

Beliau mengingatkan bahwa banyak sahabat Nabi yang dijamin masuk surga justru merupakan orang-orang yang kaya, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.

Kekayaan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika hati terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat.

Karena itu, kita tidak perlu takut bersedekah atau berinfak. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan membuat seseorang menjadi miskin. Sebaliknya, Allah menjanjikan keberkahan bagi orang-orang yang gemar berbagi.

Hidup Memerlukan Ilmu dan Kehati-hatian

Ustaz juga menjelaskan mengapa kehidupan diibaratkan seperti orang yang sedang menyeberang jalan. Saat menyeberang, seseorang akan melihat ke kanan dan ke kiri dengan penuh kehati-hatian. Ia tidak asal melangkah.

Begitu pula dalam menjalani hidup.

visi keluarga dalam Islam

Setiap keputusan memerlukan ilmu. Setiap langkah memerlukan pertimbangan.

Beliau mengutip perkataan Imam Bukhari bahwa ilmu harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Setelah memiliki ilmu, barulah seseorang memiliki keberanian untuk bertindak.

Tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat. Tanpa kehati-hatian, seseorang mudah terjebak dalam tipu daya dunia.

Padahal usia manusia sesungguhnya sangat singkat. Jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi, umur puluhan tahun di dunia hanyalah seperti beberapa detik ketika seseorang menyeberangi jalan.

Ketika Satu Keluarga Memiliki Visi yang Sama

Salah satu pesan terindah dalam kajian ini adalah pentingnya menyatukan visi seluruh anggota keluarga. Bayangkan jika suami, istri, dan anak-anak memiliki tujuan yang sama, yaitu masuk surga.

Mereka akan saling mengingatkan ketika ada yang lalai.
Mereka akan saling menguatkan ketika iman sedang menurun.
Mereka akan saling mendukung untuk melakukan kebaikan.

Rumah tangga tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi kendaraan bersama menuju ridha Allah.

Ustaz kemudian mengutip QS At-Tur ayat 21 yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan keluarganya di surga.

Karena itu, saat mendidik anak, jangan hanya berfokus pada kesuksesan dunia. Kita tentu ingin anak memiliki pendidikan yang baik, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang mapan. 

Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka memiliki iman yang kuat dan visi untuk kembali ke surga.

Pertanyaan yang Sangat Dekat dengan Kehidupan Orang Tua

Pada sesi tanya jawab, ada pertanyaan yang menurutku sangat relevan dengan kehidupan para orang tua.

Bagaimana cara mempersiapkan anak-anak agar memiliki visi yang sama untuk menuju surga?

Ustaz menjawab bahwa fondasi utamanya adalah menanamkan tauhid sejak dini.

Anak perlu memahami bahwa semua nikmat yang mereka miliki berasal dari Allah.

Ketika mereka mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, tentu kita boleh memberikan apresiasi. Namun, jangan lupa mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut terjadi karena pertolongan Allah.

Jika Allah tidak menghendaki, maka sepandai apa pun seseorang, keberhasilan itu tidak akan terjadi.

Dengan cara seperti itu, anak belajar untuk tidak sombong dan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan kebesaran Allah.

Membiasakan Anak Berinfak

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk mewujudkan visi menuju surga adalah membiasakan budaya berinfak.

Ustaz menyarankan agar orang tua mengajak anak-anak berinfak secara rutin, meskipun jumlahnya kecil.

Yang paling penting bukanlah nominalnya, melainkan konsistensinya.

Melalui kebiasaan ini, anak belajar tentang keikhlasan, kepedulian, dan keyakinan bahwa sebagian rezeki yang dimiliki adalah hak orang lain yang membutuhkan.

Menyatukan Tujuan, Menyatukan Langkah

Kajian pagi itu mengingatkanku bahwa kehidupan keluarga bukan sekadar tentang tinggal di bawah satu atap atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lebih dari itu, keluarga adalah teman seperjalanan menuju kehidupan yang abadi.

Kita boleh memiliki banyak target dunia: rumah yang nyaman, pendidikan terbaik untuk anak, atau karier yang cemerlang. Namun, semua itu seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan akhir.

Pada akhirnya, kita semua sedang melakukan perjalanan pulang.

Semoga Allah menjaga langkah kita, menyatukan visi keluarga kita dalam kebaikan, dan mempertemukan kembali seluruh anggota keluarga di tempat terbaik yang telah Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Karena sesungguhnya, cita-cita terbesar seorang mukmin bukan hanya bahagia di dunia, melainkan berkumpul bersama keluarga di surga.

Semoga bermanfaat, ya.
Have a nice day!