Merawat Kemesraan Satu Dekade

merawat kemesraan satu dekade

Ujian di Tahun Pertama

Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat buat kami berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Susah, senang, jatuh, bangun dalam perjalanan menuju sepuluh tahun pernikahan sudah menjadi hal yang lumrah kita lalui berdua. Dulu di awal pernikahan kami pun, saat usia pernikahan kami masih tergolong muda (1 tahun) badai rumah tangga sudah menerjang.

Sedih rasanya ketika mengingat waktu itu, sosok suami yang sangat penurut dengan kedua orang tuanya, hingga menikah pun masih bisa diatur dan harus manut (nurut) dengan kehendak orang tua. Sungguh, aku tak punya kuasa atas itu semua karena aku memang sebelumnya bukan siapa-siapa di keluarga itu.

Awalnya dipicu masalah kakak kandung suami (Ipar) yang mempunyai kendala saat mendaftar CPNS, ia butuh uang cukup besar sebagai perlengkapan administrasi, katanya. Nah, untuk mendapatkan uang tersebut, mertua mempunyai inisiatif untuk menjual tanah milik suamiku yang terletak di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. 

Entahlah, aku pun nggak paham dengan jalan pikirannya. Padahal, ada beberapa investasi berupa tanah, sawah dan pekarangan yang dimiliki oleh mertua yang nantinya akan diwariskan pada anak-anaknya, katanya seperti itu. Kenapa harus meminta tanah hasil pembelian suamiku sendiri untuk dijual demi keperluan kakak ipar? Aku benar-benar nggak habis pikir.

Bukannya seharusnya ia memikirkan cucu (anak kami) yang lebih berhak atas tanah tersebut? Sementara itu sertifikat memang ada padanya meski atas nama suamiku, dan katanya suamiku waktu itu sengaja menitipkannya. Aku sebagai manusia normal dan posisiku sebagai seorang istri, jujur saja tidak terima dengan itu semua.

Sempat terjadi perdebatan dengan suami kala itu, suami setuju dengan yang diminta oleh mertua. Nggak ada jalan lain, aku pun menghubungi langsung kakak ipar supaya membatalkan niat mertua, karena kami pun saat itu masih punya kewajiban untuk melunasi rumah yang baru beberapa bulan kami beli. Alhamdulillah, Kakak Ipar mau memahami dan niat untuk jual tanah akhirnya dibatalkan juga oleh mertua.

Setelah kejadian tersebut, sikap mertua terhadapku berubah total. Tapi aku bisa memahami dan menerima itu semua. Sewaktu kami tilik ke kampung, ada saja hal-hal yang sebenarnya ‘basi’ untuk dibahas. It’s okay, nggak apa-apa. Asal investasi kami terselamatkan, itu sudah cukup. Karena kami pun harus mempersiapkan segalanya untuk kedepannya, bukankah begitu? 

Di tahun Ketiga

Di tahun ketiga ini pun lagi-lagi tentang masalah kakak ipar. Mertua sudah habis-habisan demi membiayai dan sudah nggak memiliki dana untuk hidup sehari-hari. Suami merupakan satu-satunya anak yang dianggap lebih mampu dibandingkan dengan saudara lainnya, ya mau nggak mau menjadi tempat sambat (keluhan) orang tuanya.

Aku pribadi sebenarnya nggak keberatan jika suami membantu orang tuanya, memang itu sudah menjadi kewajibannya. Namun ketika setiap kali dikirimi uang selalu habis belum genap sebulan, padahal hanya untuk kebutuhan berdua itu yang mengusik pikiranku. “Kemanakah? Untuk siapakah?” aku selalu bertanya-tanya.

Suatu saat aku pun mencoba mengajak diskusi suami, namun suami marah besar hingga kami saling berdiam beberapa hari. “Duh Gusti, terlalu berat cobaan ini. Apakah aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini untuk tahun-tahun mendatang?” aku coba mengadu padaNya di tengah malam.

Pikiran-pikiran kotor lainnya memenuhi hari-hariku, karena sungguh aku tak tahan dengan kondisi seperti itu. Posisiku sebagai seorang istri tidak dianggapnya lagi, semua pendapatku ditolak mentah-mentah. Pikiranku kacau, kesadaranku hilang dan aku gelap mata, aku telah berdosa pada suamiku.

Namun atas kesabarannya dan keikhlasannya, suami mau menerimaku kembali. Sulit rasanya untuk menghapus dan melupakan perbuatanku kala itu, namun suami yang tak lelah mendampingiku selalu memberi motivasi dan membantuku untuk melupakan peristiwa buruk itu. Dan lambat laun aku pun pulih dan bisa melupakan masa-masa itu.

Merawat Kemesraan

Setelah peristiwa itu terjadi, sikap suami terhadapku berubah total. Dia yang dulunya keras kepala, nggak pernah mau mendengarkan pendapatku, kini sudah berubah, perlahan tapi pasti. “Ah, masak harus melewati masa kelam dulu hingga kamu bisa seperti ini sama aku sih Pa?” tanyaku padanya. Namun tak ada sepatah kata pun terucap waktu itu.

Kini, aku dipercaya suamiku sebagai manajer keluarga, Debit Card pun diserahkan kepadaku. Mengatur keuangan dan setiap  kali ada masalah kami biasa diskusikan berdua. Tepat di ulang tahun pernikahan kami yang ke-4, saya merasa keluarga semakin harmonis, hampir segala permasalahan yang ada bisa kami selesaikan berdua dengan bijak, tanpa ada satu pihak yang dirugikan.

fourth anniversary


Pengalaman hidup berumah tangga semakin mendewasakanku, menjadikanku lebih mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Suami yang baik, sabar dan mau menerimaku kembali. Hampir setiap hari kami selalu ke luar kota, jalan-jalan sambil bergandengan tangan dan makan di restoran yang romantis untuk mempererat jalinan kasih yang sempat terkoyak. 

Memaknai Kemesraan

Bagi kami, kemesraan tak selalu harus ditunjukkan maupun dipertontonkan di media sosial layaknya keluarga Artis. Dengan memajang foto ciuman, pelukan dan lain sebagainya, bukan seperti itu. Yang mengetahui kemesraan dalam keluarga kami, ya kami sendiri nggak ada yang lain. Sedih maupun bahagia cukup kami yang tahu.

Menyiapkan segala keperluan suami, mulai baju, kaos kaki dan tak lupa mencium tangan suami suami saat berangkat kerja. Mulai kami biasakan setelah lima tahun menikah. Hah, lama amat? lah iya, sebelumnya kan masih sering terjadi gejolak dalam rumah tangga dan ego kami berdua mengalahkan segalanya.

Belum lama ini, ya kira-kira setahun belakangan ini, aku belajar Komunikasi Produktif dan Bahasa Kasih Pasangan. Belum terlambat bagiku untuk belajar ini, dan aku mulai mengaplikasikan sedikit demi sedikit, agak kaku sih di awal, namun lama kelamaan jadi terbiasa.

Oh ya, mengenai Bahasa Kasih itu sendiri pada dasarnya ada 5, diantaranya;
  1. Kata cinta (Words of Affirmation)
  2. Waktu berkualitas (Quality time)
  3. Menerima hadiah (Receiving gifts)
  4. Melayani (Acts of Service)
  5. Sentuhan fisik (Physical Touch)
Lalu, apa nih Bahasa Kasih Suamiku? Usut punya usut, ternyata bahasa kasihnya adalah Waktu Berkualitas dan Sentuhan Fisik.

Kami berdua sebenarnya juga memiliki kemiripan, yaitu sama-sama lebih suka di rumah, dibanding ke luar rumah, maka Quality Time kami lakukan saat di rumah. Biasanya saat ia pulang kerja, duduk berdua di Sofa sambil nonton TV dan ngemil Almond. 

Dan beberapa minggu terakhir ini, kami juga mempunyai kebiasaan baru, Jogging di pagi hari, jadi kami gunakan waktu tersebut sambil ngobrol untuk meningkatkan Quality Time

Itulah cara kami dalam merawat kemesraan selama satu dekade ini, sangat sederhana, nggak muluk-muluk dan pastinya akan kami jaga dan pertahankan hingga maut memisahkan. Semoga Allah ridhoi hubungan kami, aamin ya rabbal alaamin.
April Hatni
Saya adalah seorang ibu dari dua anak dan sekarang domisili di Qatar. Saya sangat tertarik dengan Design, Parenting dan Psikologi.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter